
Vindra, Lusiana dan Romi, mereka akhirnya sampai di klinik dan mereka melihat ada banyak mobil yang terparkir di depan klinik. Tak hanya itu saja bahkan ada belasan polisi dan juga kepala biro kedokteran.
Robi memblokir pintu masuk, menahan mereka agar tidak bisa menerobos masuk.
Pria gemuk yang berpakaian putih adalah Phiton yang merupakan kepala biro kedokteran. Sedangkan Pria jangkung yang mengenakan seragam Polisi adalah Joko. Mereka datang untuk menangkap Vin dan juga menutup klinik atas laporan seseorang.
Selain itu di sana juga ada Gilon yang muncul dengan membawa beberapa keranjang makanan.
"Tuan Phiton, tuan Joko. Selamat siang." Sapa Gilon
Mendengar Gilon menyebut nama mereka, Romi bergegas menghampiri dan menjabat tangan mereka dan pura-pura akrab. Romi pernah bertemu mereka beberapa kali di berbagai kalangan. Romi tau mereka adalah para bajingan yang melakukan segala sesuatu demi uang. Romi berharap tidak akan ada masalah besar yang muncul. Romi mengeluarkan rokok dan basa-basi untuk mengajak mereka minum.
Namun sayangnya sikap Romi tidak di hargai dan malah di dorong menjauh. Phiton tau kalau Romi sudah bangkrut, jadi tidak ada gunanya basa-basi dengannya.
"Jangan mencoba merayu kami. Karena kamu juga akan di tangkap. Cepat panggil Pemilik klinik ilegal ini. Dia harus di selidiki dan klinik ini akan di tutup." Teriak Phiton.
Joko menunjuk ke arah Robi,"Kamu sudah berkerjasama dengan mereka, kamu juga akan di tangkap dan diselidiki." Dengan arogan Joko menunjuk Robi dengan telunjuk.
Romi pun masih berusaha untuk membujuk mereka, "tuan Phiton dan tuan Joko. Tidak bisakah kita diskusi masalah ini baik-baik dan tidak perlu menutup klinik."
"Apa yang perlu didiskusikan? Klinik ini ilegal, karena tidak memiliki prosedur yang lengkap dan melakukan pengobatan bukan dengan ahlinya. Cepat panggil Pemilik klinik ini dan dimohon kerjasama dalam penyelidikan," ucap Joko dengan tegas.
"Dan kamu, kamu juga akan di tangkap, karena berusaha membantunya. Kamu akan diperiksa juga." Tunjuk Joko pada Romi dan memerintahkan bawahannya untuk menangkap Robi dan Romi saat itu juga.
Para pasien yang ada di klinik, berusaha untuk membantu dan menentang kepolisian dan biro kedokteran. Semua pasien terus mengkritik para petugas yang dan menyerangnya dengan berbagai alasan mereka kenapa tidak ingin klinik CRISHAN di tutup.
Desakan para pasien membuat para petugas marah dan langsung Teriak, meminta mereka diam.
"Diam Kalian semua!" para petugas berusaha menjelaskan kepada mereka alasannya dan mengancam mereka jika terus menghalangi akan di tangkap. Namun apalah daya, ancaman para petugas membaut mereka takut. Akan tetapi mereka sudah berusaha, namun para petugas tetap ingin menutup klinik.
Tak lama kemudian dua pejabat wanita muncul untuk mengatasi situasi.
__ADS_1
Vin menyaksikan keributan yang tengah terjadi, Sambil tersenyum. Alasan kenapa Vin belum muncul untuk menunjukkan diri sebagai pemilik klinik. Vin ingin memastikan tebakannya itu benar, kalau mereka datang atas perintah Sifa.
Setelah memastikan, Vin pun melangkah maju dan mendekati mereka.
"Kenalkan Aku Vindra. Pemilik klinik CRISHAN." Vin memperkenalkan dirinya.
Phiton dan Joko menyeringai, lalu kembali menunjukkan sikap tegasnya.
"Kamu pemilik Klinik ini? Cepat tunjukkan sertifikat kualifikasi medis yang kamu milik!"
Vin melambaikan tangannya pelan dan segera saja Lusiana menghampiri dan membawakan sertifikat yang di inginkan mereka.
Phiton mereka tidak senang dan ia pun memerintahkan untuk menunjukkan surat izin pembukaan klinik dan mereka ingin melihatnya.
Vin segera meminta Romi untuk mengambilnya. Romi menyerahkan surat izin klinik kepada Phiton, membuat Phiton semakin gelisah.
"Mana surat izin untuk apotik yang dibuka?" tanya Phiton lagi yang ingin mencari alasan untuk menangkap mereka. Namun lagi-lagi Romi memberikan surat izin yang di inginkan.
"Siapa yang salah paham?"
" Minggir kamu. Kamu juga akan mendapatkan tuduhan ganda yaitu berupa menghalangi para petugas resmi melakukan pemeriksaan."
"Tapi aku..." Vin menghentikan Romi, agar tidak membuat mereka semakin marah.
" Surat izin yang kalian inginkan sudah aku tunjukkan. Jika tidak ada lagi yang di permasalahan silahkan kalian pergi." ucap Vin.
Namun sayangnya mereka masih punya banyak alasan dan cara untuk menyeret Vin ke penjara.
"Aku ingin memeriksanya terlebih dulu."
Joko segera mengambil dokumen tersebut dan membukanya nya satu persatu. Entah apa rencananya tiba-tiba dia pura-pura batuk dan membungkuk, dan dalam waktu yang sama dia merobek dokumen tersebut dan melemparnya ke dalam cat ember yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Segera saja dokumen tersebut rusak dan sudah tidak bisa di baca lagi.
Joko mengambil dokumen tersebut menggunakan sarung tangan dan mencoba untuk membacanya kembali. Sayangnya isi dalam dokumen tersebut sudah tidak bis di baca.
"Aku tidak bisa membacanya. Aku rasa sertifikat ini palsu. Cepat tutup klinik ini dan tangkap mereka semuanya!" perintah Joko.
Hal tersebut membuat Robi dan Gilon tercengang. Mereka memang bukanlah orang baik tapi dibandingkan dengan Phiton dan Joko, Mereka masih jauh lebih baik.
Melihat Dokumen tersebut di robek oleh mereka, Vin sama sekali tidak marah. Dia malah tersenyum dan menahan Robi untuk tidak melawan mereka.
"Tuan Phiton, tuan Joko. Sikap kalian sungguh menarik," ucap Vin.
"Benarkah? Aku akan merasa ini menarik kalau sudah membawa kalian ke kantor polisi."
"Cepat tanggap mereka dan sita semua barang pribadinya." perintah Joko dengan tegas.
Dengan terpaksa Vin, Robi, Romi dan beberapa orang lainnya di borgol dan menyita ponsel mereka semuanya.
Segera saja mereka di giring ke kantor polisi. Saat di perjalanan ponsel Vin berdering dan langsung di angkat oleh Joko.
"Halo."
"Halo. Apakah ini dokter Vin? Aku...." ucapannya terhenti saat di sela orang yang mengangkat telepon Vin.
"Dokter genius Vin ditangkap atas tuduhan pengobatan secara ilegal." jelas Joko.
"Dimana kamu sekarang? Aku ingin bertemu. Aku Jimmy..."
Joko mengabaikan pertanyaan Jimmy dan memilih untuk mematikan ponselnya secara sepihak dan ingin segera menghakimi Vin dan yang lainnya.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1