
Sebuah tong sampah melayang ke udara dan jatuh menjadi puing-puing. Ray Jegar yang terkejut dan mundur dua langkah. "Bajingan mana yang berani menyerang ku."
Vindra menghajar para pria yang sudah menyeret Anna dan membuat tubuhnya melayang ke udara dan mendarat dengan keras.
Vin segera memeluk Anna yang masih dalam kondisi terkejut. Lalu memintanya untuk segera sembunyi.
Para pria berbaju hitam, sekuat tenaga bangkit berdiri dan kembali menyerang Vindra, namun dengan mudahnya mereka terlempar lagi dan kali ini lebih menyakitkan.
"Opsir Jhonatan, apa kamu baik-baik saja?" Vindra membantu Jhonatan bangkit berdiri.
"Aku tidak papa, hal seperti ini tidak akan membunuhku." Jhonatan menggertakkan gigi. " Tapi beberapa orang akan mati kali ini. Kepemilikan senjata ilegal, penyerangan publik, perkelahian antar geng. Mereka semuanya akan membayarnya.
Vin tak banyak bicara, langsung membantu memperbaiki tangan Jhonatan yang terkilir. Lalu dia menatap Ray Jegar dan kelompoknya dengan dingin.
"Berani sekali menyerang saudaraku. Apa kamu sudah bosan hidup?"
" Kamu Vindra? Apa kamu Vindra?" Tanya Ray Jegar saat mulai bereaksi.
"Ya, kamu pasti dikirim James Ederson?" Tebak Vin.
Mendengar nama James Ederson membuat Jhonatan terkejut dan matanya melotot.
Salah satu dari mereka marah, saat Vin menyebut nama pimpinannya dan langsung menyerang Vindra, tanpa ampun lagi Vindra pun membalas serangan mereka dengan kuat hingga membuat mereka terpental.
__ADS_1
Vin segera menyelamatkan Romi yang tengah tergeletak. Setelah itu dia menendang tiga pria yang ada dibelakangnya membuat mereka tersungkur ke tanah dan kejang-kejang.
"Bajingan!" Ray Jegar sangat marah, lihat sebagai anak buahnya terluka, tak hanya itu saja teman baiknya pun dibuat tak berkutik oleh Vindra.
"Jangan bergerak!" Ray Jegar menodongkan senapannya ke arah Vindra di ikuti beberapa anak buah Ray Jegar secara bersamaan.
Vin menyernyitkan Keningnya, Senapan pendek Ray Jegar tidak membuatnya takut, tapi senapan Anak buahnya terlalu merepotkan. Senjatanya tidak terlalu mematikan tapi memiliki tembakan dengan jangkauan yang luas. Vin tidak masalah jika harus melenyapkan Ray Jegar, tapi itu akan menjadi masalah bagi Jhonatan Wiston.
"Berani sekali kamu menodongkan senjata padaku. Apa kamu tidak tau siapa aku?" teriak Jhonatan sambil menggerakkan giginya.
Ray Jegar tidak peduli, dan dia tetap mengangkat moncong senapannya. "Percaya atau tidak aku akan tetap menghancurkan kamu."
"Aku tidak perduli, siapapun aku aku bisa menghancurkannya."
"Tuan Vin jangan turuti kata-kata mereka." Romi berteriak tanpa sadar.
Dor...
Ray Jegar dengan marah membelokkan senapannya dan menembak betis Romi.
Darah segar langsung menyembur, Romi mendengus, terlintas rasa sakit di wajahnya. Romi berusaha menahan tubuhnya yang terhuyung dan menepi ke dinding untuk menahan tubuhnya.
Ray Jegar mengarahkan senapannya pada Vin kembali." Pergi atau tidak?"
__ADS_1
Dengan tidak sabar, Ray Jegar membelokkan senapannya lagi dan menembak lengan kiri Jhonatan Wiston. Seketika Jhonatan mengerang dan berusaha menahan rasa sakit.
"Pertanyaan ku yang terakhir. Pergi atau tidak?" tanya Ray sekali lagi dan mengarahkan moncong senapannya ke arah Anna. "Jika kamu bisa selamat, dan bersembunyi, bagaimana dengan wanitamu, saudaramu dan teman dekatmu, mereka tidak akan bisa sembunyi dari tuan Ederson."
"Bajingan, berani kamu mengganggu keluarga Vindra, aku akan membunuhmu. Aku Jhonatan Wiston akan menepati kata-kataku." Teriak Jhonatan penuh dengan marah, aura pembunuh secara alami muncul dalam tubuhnya dan matanya menjadi dingin dan kejam.
"Membunuhku? Kamu pikir siapa aku?" Ray Jegar menyodok dahi Jhonatan Wiston dengan moncong senapannya." Kamu pikir Ray Jegar bisa kamu intimidasi? Lagi pula, sebentar lagi aku akan menghancurkan lututmu dan membiarkan kamu duduk di kursi roda seumur hidup."
Jhonatan ingin menjawab, namun lebih dulu Vindra angkat bicara, "Kamu kesini ingin mencariku, kamu bisa berurusan dengan ku. Biarkan semua pergi dan aku akan ikut bersamamu menemui Rangga Ederson. Tapi jika kamu masih ingin menyakiti mereka, kamu akan mati." Vindra bicara dengan tenang.
Tiba-tiba Jhonatan memuntahkan seteguk darah, dan dia tidak bisa berkata apa-apa.
Ray Jegar menyernyitkan keningnya dan melirik Anna dengan enggan, lalu melirik Vin kembali. Ray Jegar tau, jika dia tetap menangkap Anna yang dia kira Sifa, Vindra pasti tidak akan membiarkan dirinya selamat. Dia pun akhirnya mengambil keputusan untuk membiarkan yang lain lepas dan membawa Vin pergi. Dia ingin mengurus Vindra terlebih dahulu, baru dia akan memerintahkan anak buahnya untuk menangkapnya Sifa.
Ray Jegar pun membawa Vindra masuk kedalam mobil, dikawal lusinan anak buah Ray Jegar, lalu meninggalkan rumah sakit.
Romi dan Anna sangat kesakitan, sedangkan Jhonatan batik dan memuntahkan darah. Jhonatan pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang lalu memberi perintah.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan yang memiliki dinding tembok yang menjulang tinggi. Vin didorong keluar dari dalam mobil dan dibawa masuk kedalam gedung. Sejak masih di perjalanan tangan Vindra di borgol Ray Jegar untuk antisipasi jika Vin melakukan sesuatu untuk membunuhnya.
Ketika Vindra masuk, lusinan orang sudah menunggu kedatangannya, bahkan Leo Ederson dan Gianna juga hadir. Mereka memandang Vindra dengan penuh kepahitan dan ingin sekali melahap Vindra hidup-hidup. Mereka berdua awalnya berada di rumah sakit namun saat mendengar Ray Jegar menangkap Vindra mereka langsung datang.
To Be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1