
"Jangan main-main, atau aku akan membunuhmu. Hanya pembohong yang bisa mengatakan seratus persen." teriak Nindi dengan marah.
"Aku percaya pada Vindra." Saut Jimmy.
Jimmy tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri, saat mengetahui bahwa usia ayahnya tinggal tiga bulan. Dia lupa bahwa ada dokter genius yang saat ini ada bersamanya.
Vindra berhasil menarik dirinya dari gerbang kematian, mengenai abses paru-paru itu tidak akan jadi masalah bagi Vindra, Jimmy yakin Vindra bisa menyembuhkan ayahnya.
Bobi menatap Vindra sambil mendengus, "Kalau kamu bisa menyembuhkan tuan Wiston, secara pribadi aku akan memanggilmu guru." Bobi telah belajar dunia medis selama bertahun-tahun, dan pada saat ini dia ditampar dengan pernyataan Vindra, tentu hal itu membuatnya kesal.
"Baiklah, jika kamu bisa menyembuhkan kakek Wiston aku Nindi Trata akan memanggilmu kakak dan seratus ribu murid Trata akan menghormati kamu. Tapi jika kamu berhasil melakukannya kamu akan mendapatkannya. Tapi jika kamu tidak berhasil aku akan menggorok lehermu."
Vindra tidak memperdulikan mereka, dia menatap tuan Alex Wiston. "Tuan Wiston, bisakah kamu mempercayaiku sekali? Aku bisa menyembuhkan penyakitmu dalam satu tembakan."
Alex Wiston melihat kilatan cahaya melintas di mata Vindra, dia kemudian mengangguk, dia merasa Vindra bukan orang sembarangan. Karena kepercayaan diri tidak tidak banyak dimiliki orang lain.
"Vindra apakah kamu yakin bisa menyembuhkan aku seratus persen?"
Vindra mengangguk. "Seratus persen."
"Baiklah. "Alex Wiston tertawa terbahak-bahak. "Baiklah kamu bisa melakukannya."
"Kakek Wiston." Nindi terkejut dengan persetujuan Alex Wiston.
"Tuan, tidak, kamu bisa mati jika main-main." Cegah Bobi yang merasa khawatir.
Nindi menatap Vindra dengan getir. "Jika terjadi sesuatu pada kakek, aku tidak akan membiarkan kamu pergi hidup-hidup."
__ADS_1
Vindra bicara pelan namun tegas." Tuan aku butuh kerjasamamu sepenuhnya."
"Baiklah aku akan mendengarkan kamu."
Vindra segera melambaikan tangannya dan meminta seseorang untuk membawakan kursi dan meminta Alex Wiston untuk duduk. Lalu Vindra juga memerintahkan beberapa orang lagi untuk mengikat Alex di kursi agar dia tidak bisa bergerak.
Mata Nindi terbelalak, "Apa yang kamu lakukan?"
Vindra tidak menanggapinya, dia malah mendekat untuk memastikan jika ikatannya kuat, lalau Vindra membuka beberapa kancing baju Alex agar bagian dadanya terbuka.
Setelah itu Vindra membisikan beberapa patah kata pada Jimmy.
Jimmy terkejut sesaat, lalu dia segera berbalik untuk mengambil sesuatu, dan beberapa saat dia kembali dengan seember air yang sangat dingin.
"Tuan Wiston, bersiaplah." Vindra mengeluarkan jarum perak, jarum yang memiliki ujung sangat tajam.
Setelah Vindra memberi perintah, Jimmy langsung menuangkan air dingin itu ke tubuh ayahnya dari atas kepala.
Alex Wiston yang tidak siap itu pun basah kuyup dan langsung menggigil kedinginan. Pada saat ini dengan cepat Vindra mendekati Alex Wiston dan langsung menusukkan jarum perak itu tepat di paru-parunya. Detik berikutnya Vindra menarik jarum itu kembali dan mundur satu langkah.
Sembuhkan darah dan cairan kuning langsung mengotori dada dan juga baju Alex Wiston.
Alex Wiston mendengus, merosot dari kursi sambil menahan rasa sakit.
"Brengsek, apa yang sudah kamu lakukan pada kakekku, kamu pembunuh." Teriak Nindi yang sudah diselimuti kemarahan. Nindi ingin bergegas mengeluarkan pisau dan ingin membunuh Vindra, namun dengan cepat Jimmy menghalangi.
"Nanah dan darah keluar." teriak Bobi saat melihat pakaian Alex.
__ADS_1
Vindra menyeka jarum peraknya, membalut lukanya, dan setelah itu dia melirik Jimmy sejenak, "Bawa tuan Wiston kembali ke kamarnya, ganti pakaiannya, dan hangatkan tubuhnya dengan selimut.
"Beri dia obat yang sudah aku resep kan."Perintah Vindra, Jimmy dan beberapa orang segera melepas ikatan Alex dan segera membawanya kembali ke kamar.
Dua jam kemudian, Bobi mengambil inisiatif untuk memeriksa Alex Wiston. Beberapa saat kemudian Bobi berteriak. " Tidak mungkin."
"Ada apa? Apa yang terjadi pada kakek?" tanya Nindi.
"Semua nanah dan darah dalam paru-paru tuan Wiston sudah bersih." Bobi memandang Vindra dengan tidak percaya." Tidak hanya abses paru-paru yang sembuh, tapi gagal jantung juga sembuh. Ini luar biasa."
"Bagaimana kamu melakukannya? dan kenapa kamu menuangkan air dingin pada tubuhnya? Tolong beritahu aku, Atau aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak." Bobi memegang lengan Vindra dan penuh dengan harapan agar Vindra mau memberitahu dirinya.
"Ini sangat sederhana, aku menggunakan air dingin
untuk membuat tuan Wiston menggigil. Saat gemetar, secara naluriah akan terangkat dan saat jantung terangkat ada jarak antara jantung dan bagian yang kena. Pada saat itu akan lebih mudah untuk mengeluarkan nanah dan darah dengan jarum." Jelas Vindra.
"Jadi begitu tekniknya." Bobi akhirnya menyadari dan langsung mengacungkan jempol pada Vindra. " Kamu memang benar-benar ahli."
Jantung Alex terangkat hanya dalam hitungan detik, dan pada saat itu butuh kecepatan yang luar biasa untuk mengambil kesempatan. Bahkan jika dirinya bisa melakukan teknik itu, dia masih memiliki keraguan untuk melakukan tindakan itu. Jadi dia berfikir Vindra memang ahli
"Tuan Vindra mulai sekarang kamu akan menjadi guruku. Aku akan meminta banyak saran dimasa depan." Bobi membungkuk beberapa kali sebagai penghormatan.
Nindi menjadi malu," Vindra dimasa depan kamu akan..."
Sebelum Nindi menyelesaikan kata-katanya, Vindra buru-buru melarikan diri. " Tuan Jimmy Wiston, aku harus pergi dulu, aku akan kembali beberapa hari nanti untuk memeriksa tuan Wiston." Vindra kabur karena tidak ingin terjerat dengan Nindi.
Nindi terlalu kejam dan latar belakangnya bagus. Dia tidak ingin memiliki masalah dengannya, jika tidak Vin tidak tahu bagaimana Nindi nantinya akan menikam dirinya sampai mati. Jadi dia segera menyapa Jimmy Wiston dan segera melarikan diri
__ADS_1
To be continued 👍👍👍