Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 104. Sapu Bersih


__ADS_3

"Ayah..." Wiliam Wells mengangkat kepalanya, tak percaya ayahnya menyerah.


Julio Wells tak banyak bicara, tapi mengepalkan tinjunya. Dia sangat marah dan tidak bisa menerima. Ingin mencekik Vindra sampai mati, tapi dia tahu harus menelan amarahnya hari ini.


Dominic Wang, Ambar Wijaya, Dewa Marlin, Romeo Wiguna, dan Jhonatan Wiston, semua menelpon dan memberi peringatan sederhana namun kasar.


Tak hanya itu saja, Berita dari opsir Raden mengatakan jika saudara-saudara Ederson telah menyinggung Vindra dan sekarang satu di penjara dan yang lain hilang.


Julio Wells bisa di anggap berkuasa, namun tidak sebanding dengan Ambar Wijaya dan yang lainnya.


Beberapa bawahannya berteriak.


"Tuan lakukan!!"


Julio Wells menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Semua orang saat ini tau, dia sedang tidak berdaya. Semua saling memandang karena terkejut. Namun pada saat ini Julio Wells menundukkan kepalanya seperti opsir Raden.


"Senang sekali, melihat kamu tidak berdaya saat ini, Membiarkan Wiliam Wells melihatku berjalan dimasa depan. Kalau tidak aku akan menghajarnya sekali lagi." Vindra tersenyum muram, dan tiba-tiba menginjak kaki Wiliam Wells sekali lagi.


Wiliam Wells teriak lagi.


Wajah Julio Wells tenggelam, "Vindra kamu terlalu banyak menyakiti orang." Dia hampir tidak bisa mengendalikan diri, dan memiliki keinginan untuk merebut pistol beberapa kali.


Vindra mendengus dingin. " Aku menggertak mu, lalu apa? Baru saja lusinan orang datang menggertakku, apa aku mengatakan intimidasi terlalu banyak? Ingat jika kalian ayah dan anak melihatku di masa depan, kalian harus bersikap baik padaku." Kemudian Vindra menginjak kaki Wiliam sekali lagi dan setelah itu melangkah maju menuju tangga.

__ADS_1


Saudara Wells yang lainnya tidak terima, dan tidak bisa menahan diri. Segera saja mengeluarkan pistolnya ke arah Vindra." Aku akan membuatmu membayar semuanya dengan nyawamu!"


Sebelum mereka menarik pelatuknya, tangan kiri Vindra telah menyapu dan beberapa sumpit melayang dari atas meja. Segera saja sumpit itu terbang ke arah pergelangan tangan mereka.


"Ahhh..." Mereka berteriak bersamaan dan mundur dua langkah ke belakang, dan pistol mereka mendarat ketanah satu persatu.


Mereka segera mengambil senjata mereka di lantai, namun Vindra sudah lebih dulu berada di depan mereka dan mengambil sumpit dan mengayunkan kebawah lagi dan memaku pergelangan tangan mereka di lantai.


"Aahhh.... " Mereka berteriak lagi.


Lebih dari lusinan pria Wells menggertakkan gigi, namun tidak ada yang berani bertindak gegabah lagi, mereka hanya bisa menatap Vindra saja.


"Tidak menyerah?! Apa kalian semua ingin mencari kematian?" ucap Vindra dengan samar.


"Keluar."


Julio Wells menahan amarahnya. " Jika gunung tidak berubah, aku pastikan kita akan bertemu lagi." Perkataan Julio Wells dipenuhi dendam.


Vindra berbalik dan menatap Wiliam Wells. "Menghancurkan keluargaku?!"


"Kamu bisa bertarung, dengan pendukung dibelakang. Sulit bagiku untuk membunuhmu, tapi keluargamu tidak kan? Terkadang kamu tidak berada disisi mereka. Selalu ada celah disaat perlindungan tidak lengkap, bukan? Jangan berikan kesempatan padaku, atau itu tergantung bagaimana aku membunuh mereka." Wiliam tertawa panik, dia ingin melampiaskan kebenciannya dan dendamnya.


Vindra berbalik menatap Julio Wells." Putramu sangat merajalela, mengancam ku, dan ingin menipuku, apakah kamu tidak perduli?"


"Aku tidak bisa mengendalikannya." jawab Julio.


"Tidak bisa?" tanya balik Vindra.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengendalikannya, kenapa kamu memperdulikannya?" Julio Wells mencoba memprovokasi.


"Oke..." Vindra mengangguk dan segera mengeluarkan setumpuk uang dan melemparkannya ke udara.


"Beritahu keluarga Wells, aku membayar pemakaman ayah dan anak Wells." Setelah suara itu jatuh, Vindra bergegas menuruni anak tangga.


Martin yang sudah di abaikan sejak tadi, keluar dengan dua senjata di tangannya dan Wiliam Wells dan Regina menjadi sasarannya.


Dor... Dor...


Tembakan terakhir, Martin arahkan pada Julio Wells. Seketika restoran teh Ex pun menjadi kacau balau.


*


*


*


Pukul lima sore, Vindra keluar dari kantor polisi. Julio Wells dan William Wells meninggal, dan sesuai aturan Vindra harus di periksa. Namun akhirnya pihak kepolisian menetapkan Martin sebagai pembunuh dan memastikan Martin dan Vindra tidak ada hubungannya.


Martin dan Wiliam Wells saling membenci, karena Wiliam Wells sudah mempermalukan Martin di depan umum, dan itu alasan motivasi Martin balas dendam dengan membunuh Wiliam Wells. Sedangkan Vindra dan Martin tidak pernah cocok. Martin mengalahkan Vindra waktu lalu, dan tidak ada alasan untuk bisa menghasut Martin untuk membunuh.


Kesalahan Vindra adalah menyakiti orang lain di tempat umum. Namun kesaksian Riana Wiston dan yang lain membuktikan kalau Vindra tidak menembak. Jadi dia bisa keluar setelah memberikan uang jaminan.


Vindra berdiri di gerbang kantor polisi, memandangi matahari terbenam. Walaupun tangan Vindra banyak darah, dia menganggapnya depan, dan dia pun berencana menjenguk Sifa di rumah sakit.


Disaat bersamaan, sebuah mobil Ferrari merah mendekati dan berhenti di samping Vindra. Saat kaca mobil diturunkan, terlihat jelas sosok wanita cantik yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Silahkan masuk ke mobil, Rajaku..." ucap Ambar Wijaya sambil tersenyum lembut.


To be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2