Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 130. Bisa diselamatkan


__ADS_3

Vindra mengikuti Romeo dan pergi ke lantai tiga rumah sakit, sebuah unit perawatan intensif yang besar. Ada yang berdiri didalam dan di luar bangsal.


Dominic melihat kedatangan Vindra, merasa sangat bahagia dan ia pun segera menyambutnya. "Tuan Vindra."


Vindra mengangguk tanpa menyapa, dan melangkah lebih cepat untuk melihat kondisi pasien.


"Setelah cuci perut, minum obat dan menggunakan serum, tidak ada yang ditemukan yang ada di tes laboratorium," ucap seorang pria mengenakan jas putih yang merupakan pimpinan rumah sakit berbicara kepada seorang pria yang ada didepannya.


"Tapi saya tidak tau kenapa kondisi pasien semakin buruk, dan memasuki koma yang lebih lama. Mungkin ada sesuatu yang salah atau terlewat, Saya akan mengatur konsultasi dengan para ahli dan saya yakin akan segera mendapatkan hasilnya." Dokter tersebut bicara dengan hati-hati Karena dia sedang bicara dengan Piter Santoso.


Piter Santoso adalah pimpinan bawah tanah, namun dia juga merupakan dermawan di kota SB. Tapi saat dia marah, dia bisa menghancurkan bisnis-bisnis yang ada di kota SB.


"Sampah. Kemarin kalian bilang hanya keracunan obat, Apakah hari ini hidup ibuku hanya mengandalkan seutas benang." Santoso menunjuk sekelompok dokter dengan marah.


"Pasien sedang Koma sekarang."


"Aku tidak peduli dengan apapun alasannya, kalian harus melakukan diagnosis dalam dua jam."


"Kalain harus membuat rencana, aku ingin mendapatkan hasil yang bagus."


"Jika terjadi sesuatu pada ibuku, tidak akan ada yang aku biarkan hidup. Jika ibuku sampai mati, kalain semua akan aku kubur hidup-hidup bersamanya."


Piter Santoso meraung tanpa henti.


Dominic dan yang lainnya terdiam, tak ada satupun yang berani bicara.


Vindra paham, jika Piter Santoso benar-benar menyayangi dan berbakti kepada ibunya. Hal tersebut terlihat jelas dari sikap yang ditunjukkannya.


"Tuan Ronald ada di sini." Pada saat ini lift terbuka dan beberapa orang keluar dari dalam lift. Diantaranya seorang lelaki tua berjas muncul diantara mereka dia adalah dokter Ronald.


Piter Santoso menahan emosinya dan segera menghampiri dokter Ronald." Tuan Ronald, maaf, membiarkan kamu kembali ke ibukota lebih awal," ucapnya seraya menjabat tangannya.


Melihat keingintahuan Vindra, Romeo pun menjelaskannya." Dia adalah dokter Ronald, ahli Pil, konsultan Farmasi Star. Dia ingin bertemu denganmu dan ingin menanyakan resep putri malu. Tapi karena kamu tidak ingin bertemu, dia tidak ingin menggangu. Pada awal-awalnya, Dokter Wisnu, dokter Lin, dan dokter Ronald dikenal dengan tidak raja laut, raja jarum, dan raja obat. Tuan Santoso memanggil dia kembali untuk membantu ibunya yang keracunan."

__ADS_1


"Ide yang bagus." jawab Vin.


"Semuanya harap tenang, biarkan aku memeriksa pasien lebih dulu," ucap Dokter Ronald.


"Tuan Santoso, saya bisa menyembuhkannya. Tapi... Kehidupan di atas sembilan kematian." jelasnya sambil memeriksa.


Semua terdiam, mencerna kata-kata dokter Ronald. Begitu juga dengan Vindra yang terkejut. Dia pun segera memindai ruangan tersebut.


Vin melihat, seorang wanita tua yang tengah terbaring dalam keadaan koma.


"Um?" Vin tiba-tiba mengerutkan keningnya. Dia melihat Ivana memiliki lingkaran hitam di kepalanya namun samar. Orang biasa tidak bisa melihatnya, namun Vin dapat melihatnya.


"Mungkin lingkaran hitam itu adalah gerbang kematian? Jika itu masalahnya, Kehidupan di atas sembilan kematian itu tidak berguna." gumam Vin.


Lingkaran hitam di atas kepalanya, itu pertanda rentang hidupnya sudah habis, dan sangat sulit bagi siapapun untuk menyembuhkannya.


Vin terus memindai, namun beberapa saat kemudian ada perbedaan yang terjadi. "Mungkinkah itu..." Vin pun bergumam, jika itu bukan lingkaran kematian, tapi lingkaran kegagalan itu artinya Vindra masih memiliki secercah harapan untuk bisa membantu Ivana selamat.


"Ya," Jawab dokter Ronald." Keracunan terlalu dalam, aku hanya bisa melawan racun dengan racun, dan kemungkinannya selamat hanya 10%."


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin, bagiamana ini bisa terjadi?" Santoso tidak bisa menerimanya.


"Racun dalam tubuhnya tidak terlalu kuat, tapi menghancurkan organ-organ tubuhnya, dan obat-obatan tidak dapat menghentikannya sama sekali. Ini tidak menyenangkan tapi sulit dikendalikan. Aku mengamati dari cedera pasien dan hasil laboratorium, menemukan bahwa toksin menyebar secara perlahan. Setiap titik penyebarannya itu akan merusak organ. Paling lama dua belas jam pasien akan mengalami kegagalan dan mati. Hanya racun melawan racun adalah salan terakhir. Tuan Santoso, aku tau ini sulit bagimu untuk menerimanya, tapi sekarang kamu harus memiliki keberanian untuk mencobanya, kalau tidak, mungkin ibumu tidak akan bertahan hari ini."


"Hanya 10% keyakinan, dan harus racun melawan racun." tanya sadar Santoso mengepalkan tinjunya dan langsung meninju dinding.


"Tuan Santoso aku tahu kamu marah, aku tahu kamu sulit menerimanya. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memarahi mereka. Bahkan jika kamu mengubur mereka hidup-hidup tetap saja kamu tidak bisa mengembalikan nyawa pasien. Yang kamu butuhkan saat ini adalah keputusan." dokter Ronald berusaha bicara dengan bijak.


"Keputusan apa? Membiarkan ibu melawan racun lagi? Apakah setelah ini pasien akan lebih kuat lagi? Jika tidak, bahkan hanya setengah hari, aku pun tidak yakin," ucap Santoso dengan kejam.


"Tidak, tidak, pasti ada jalan keluar. Tersangka sudah meracuni, itu artinya dia punya penawarnya. Cepat minta dia berikan penawarnya bagaimanapun caranya!"


"Tuan Santoso, sudah terlambat. Waktunya sudah habis." Ronald menggelengkan kepalanya. "cepat buat keputusan."

__ADS_1


"Tuan Santoso, tolong percaya kata-kata dokter Ronald," ucap beberapa dokter meyakinkan.


"Sebenarnya tidak perlu menggunakan racun untuk melawan racun." Pada saat ini suara lain terdengar. "Menurut pendapatku, pasien masih bisa selamat dan setidaknya dia bisa bertahan hidup lima tahun kedepan."


Semua orang mengumpulkan pandangan pada Vindra yang saat ini berdiri di samping ranjang dan menggegam tangan ivana untuk melihat denyut nadinya.


"Dia siapa? dari departemen manakah dia?" tanya Salah satu dokter dengan tegas.


"Apakah kamu bisa menyembuhkan pasien?"


Romeo buru-buru menjelaskan." Tuan Santoso, dia adalah dokter yang aku bawa, namanya dokter Vindra. Dia sangat ahli dalam pengobatan. Istriku, tuan Wiston, tuan Marlin dan yang lain, dirawat oleh dokter Vindra."


Piter Santoso langsung berbinar." Tuan Vindra, bisakah kamu menyelamatkan ibuku?"


"Ya." jawab Vin.


"Seberapa yakin kamu bisa menyelamatkan ibuku. "Santoso bertanya sekali lagi untuk meyakinkan.


Vin mengaguk lembut, " Seratus persen."


Dokter Ronald mengangkat kepalanya dan bicara. "Tuan Santoso, apakah kamu lebih percaya dengan seorang anak daripada kami yang lebih tua?"


"Jika kamu membiarkan dia merawat. Ya, kami menghormati keputusan mu dan membiarkan dia mencobanya. Hanya saja perlu aku ingatkan, waktu adalah vitalitas, terlalu lama penundaan maka semakin kecil vitalitas. Inilah yang aku tidak ingin lihat. "Dokter Ronald bicara dengan serius.


Ekspresi Santoso sangat terkejut, dia sudah melihat profesionalisme dokter Ronald, tapi dia tidak tau tenang Vindra.


Dokter Ronald memandang Vin dengan jijik. "Untuk anak ini aku benar-benar tidak percaya.


Vindra maju dan menjabat tangan dokter Ronald dan tersenyum. "Dokter, apakah kamu sedang memurnikan obat untuk meningkatkan aura darah?"


"Bagaimana kamu tau?" Seketika senyum Ronald membeku dan dia menatap Vindra dengan tidak percaya.


To be continued 🙂🙂🙂

__ADS_1


__ADS_2