Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 42 Kedatangan Bibi Dian dan Naura


__ADS_3

Vin segera membawa Sifa ke klinik karena kondisinya yang pingsan dan mengalami beberapa luka di tubuhnya.


Sesampainya di klinik Sifa segera di tangani dan luka-lukanya segera di obati. Sebelumnya saat di perjalanan, Vin merasakan aura jahat menyelimuti gelang yang di kenakan Sifa, Galang tersebut akan menjadi petaka jika Sifa terus menggunakannya. Entah darimana Sifa mendapatkan gelang itu. Vin merasa ada seseorang yang ingin mencelakai Sifa.


Setelah menunggu, akhirnya Sifa pun sadar dan nampak linglung saat mengetahui dirinya tengah terbaring di brankar.


"Aku ada dimana ini? Aauuhhh, sakit." Sifa mengaduh karena luka di lengannya tersenggol.


"Akhirnya kamu sadar juga. Apa kamu lupa? Tadi ada mobil yang menyerempet kita dan kamu terjatuh hingga membuat kamu terluka dan pingsan. Tapi tidak usah kuatir, Semuanya sudah dibereskan dan lukamu juga sudah di obati." Jelas Vin sambil tersenyum, karena merasa lega menyadari istrinya baik-baik saja dan tidak ada luka yang cukup serius.


"Terimakasih sudah menyelamatkan aku," ucap Sifa sambil tertunduk. Jarang-jarang Sifa akan mengucapkan terimakasih pada siapapun, dan saat ini dengan mudahnya dia mengungkapkan kata untuk berterimakasih.


"Buat apa terimakasih? Aku ini masih suamimu dan aku bertanggung jawab atas keselamatan kamu. Jadi tak perlu bilang terimakasih. Melihatmu baik-baik sudah membuatku senang. Oya kalau boleh tau darimana kamu mendapatkan gelang itu?" Tahya Vin mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk gelang yang ada di tangan Sifa.


"Gelang ini maksudmu?" Tanya balik Sifa sambil memegang gelang yang ada di tangan kirinya.


"Heeemmm..."


"Ini hadiah dari teman, dan dia bilang kalau ini adalah gelang jimat keberuntungan, yang akan membawa keberuntungan buat siapapun yang memakainya." Jelas Sifa sambil memutar-mutar gelang tersebut.

__ADS_1


"Aku ingin kamu membuang gelang itu. Gelang yang kamu pakai ! itu bukan gelang keberuntungan, tapi gelang membawa petaka. Kamu akan mendapatkan kesialan terus menerus kalau kamu masih mengenakannya." jelas Vin dan berharap Sifa mendengarnya, karena Vin tidak ingin Sifa kenapa-napa.


"Tidak aku tidak akan membuang gelang ini. Ini sangat cantik dan juga pemberian berharga dari teman. Aku tidak akan membuangnya." tolak Sifa lalu segera menyembunyikan gelang tersebut dari tatapan Vin.


Mendapat jawaban dari istri yang keras kepala itu. Vin hanya menghela nafas, tapi ia akan berusaha membujuk Sifa tanpa paksaan, karena semakin di paksa Sifa akan semakin memberontak.


"Baiklah aku tidak akan memaksa kamu untuk membuangnya. Sekarang istirahatkan sebentar, aku akan keluar untuk membayar biasa administrasi di kasir." Jelas Vin dan Sifa mengangguk dan membiarkan Vin pergi.


Setelah Vin pergi, Sifa senyum-senyum sendiri, saat merasakan perhatian dari Vin, kesannya terhadap Vin mulai meningkat dari sebelumnya.


"Kalau sikapmu terus seperti ini, aku akan sulit jika harus kehilangan kamu." gumam Sifa.


Vin pun meninggalkan Sifa untuk istirahat sejenak dan ia segera membayar tagihan klinik sebelum membawa Sifa pulang. Karena dokter yang memeriksa Sifa tidak perlu di rawat inap.


******


Baru saja sampai di rumah, Mereka melihat ada tamu yang sedang berkunjung dan ternyata ibu bibi Dian dan putrinya Naura. Kedatangan Bi Dian ternyata ada maksud dan tujuan lain bukan sekedar berkunjung untuk temu kangen.


"Sepertinya, Akan ada drama di dalam rumah," ucap Sifa.

__ADS_1


"Hust... jangan menerka-nerka, mungkin mereka hanya ingin berkunjung saja. Ayo masuk dan lihat apa maksud dan tujuan mereka dan aku harap kamu salah menerka." Vin pun segera membawa Sifa masuk ke dalam rumah dan langsung membantunya duduk di sofa dekat dengan Miranda ibunya.


"Kamu kenapa Sifa?" Tanya tanya Miranda sambil memeriksa Sifa dengan cemas.


"Kami di serempet saat perjalanan pulang. Tapi tidak papa kok ma, Vin sudah membawaku ke klinik." Jawab Sifa membuat Miranda merasa lega karena putranya baik-baik saja.


"Tante Dian, tumben kemari bersama Naura?" Sindir Sifa, karena merasa bibinya itu tidak terlalu peduli.


"Aku kemari membawa putriku yang baru lulus kuliah dan aku ingin meminta bantuan ibumu untuk membantu Naura agar bisa bekerja Di perusahaan DAK, secara mama mu membuka klinik otomatis dia kenal dekat dengan salah satu keluarga Perusahaan DAK yang mungkin bisa bantu. Sebenarnya Naura sudah mengajukan lamaran, tapi sampai sekarang belum ada panggilan." Jelas Bi Dian.


"Aku tidak punya koneksi yang bisa membantu Naura, karena klinik yang aku bangun itu hanya membutuhkan persetujuan tidak harus mengenal dekat dengan orangnya." Jelas Miranda yang mengatakan apa adanya, jika memang dirinya tidak punya koneksi dan bukan berarti tidak ingin membantu.


"Kalau Tante tidak keberatan, aku kenal dengan kakek Dewa, dia kakek dari pemilik perusahaan DAK saat ini yang dipegang oleh Susi. Kalau kalian mau, aku bisa menghubungi kakek Dewa, siapa tau bisa membantu Naura masuk keperusahan itu.


Mendengar ucapan Vin, Bi Dian malah mencibir niat baik Vindra.


"Aku tidak percaya kamu kenal dengan kakek dari pemilik perusahaan, jangan bercanda kamu. Setidaknya jika tidak kenal keluarganya setidak-tidaknya jika ingin menghubungi sang kakek, tentu harus lewat managernya baru bisa terhubung. jadi kamu jangan bercanda dan yang imut campur dan membaut kacau karena ambisi kamu yang terlalu tinggi." Bi Dian begitu merendahkan dan tak pernah percaya dengan kata-kata Vin.


"Kamu gak usah ikut campur Vin dan membuat keadaan semakin kacau, karena bualanmu itu." Tegur Miranda.

__ADS_1


"Aku tidak percaya dan aku bisa menghubunginya secara langsung sekarang juga." Jawab Vin yang berusaha ingin membantu, walaupun mereka tak menganggap serius ucapan Vin.


To be continued ☺️☺️


__ADS_2