Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 46 Tidak Sesuai Kriteria Perusahaan


__ADS_3

Di depan pintu perusahaan Bi Dian mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi seseorang di depan Vin. Samar-samar Vin mendengar kalau Bi Dian tengah memberitahu jika Naura datang terlambat karena ketiduran dan meminta mereka untuk turun dan menyambutnya. Setelah itu dengan bangga Menutup teleponnya.


Dalam hati berulang kali Vin mengatakan penyesalan karena sudah membantu orang yang begitu sombong dan tidak tau terimakasih dan hanya bisa berharap Susi tidak jadi merekrutnya.


"Ma, nanti aku akan bilang ke HRD untuk meminta gaji tinggi, Secara ini perusahaan besar tidak mungkin kan gajinya cuma sedikit."


"Kamu benar Naura, nanti kalau di tanya gaji yang kamu inginkan, bilang saja langsung nominalnya biar kamu gak rugi menggunakan tenaga dan pikiran mu di perusahaan ini." Saut Dian.


Mereka menatap Vin dengan tatapan merendahkan, bahkan mereka berfikir kalau Vin datang kemari ingin menjilat kata-katanya kemarin.


" Hai kamu ngapain datang ke perusahaan ini? Kalau kamu datang ke mari untuk memberi penjelasan pada kami tentang pengakuan yang sudah kamu ucapkan, maaf sudah terlambat karena sebentar lagi Naura akan bekerja di sini karena kemampuannya sendiri. Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan membuat malu." Usir Dian.


"Apa sudah selesai bicaranya? kalau sudah aku ingin pergi ke resepsionis dan sedari tadi kalian sudah menghalangi jalanku. Lebih baik kalian minggir, aku tidak punya urusan dengan kalian, paham." Balas Vin yang enggan menanggapi sindiran mereka.


Mereka pun memberi jalan pada Vin untuk pergi ke resepsionis, namun mereka membuntuti Vin di belakang.


Sesampainya di depan resepsionis, Vin Meminta resepsionis itu untuk memanggilkan Direktur perusahaan.


Mendengar Vin ingin bertemu direktur perusahaan, Naura dan ibunya kembali menertawakan Vin dan mengatakan kalau Vin datang hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri.


"Jangan mimpi kamu Vin, bagaimanapun bisa seorang direktur perusahaan tuduk di dihadapanmu, yang ada kamu bakalan di usir dari sini. Sebelum semuanya terjadi lebih baik kamu pergi dari sini saja." Saut Naura, namun Vin masih tidak menggubrisnya.


"Beritahu direktur Susi aku ingin bertemu dengannya sekarang." perintah Vin pada resepsionis.


Resepsionis itu tak begitu yakin dengan penampilan Vin dan enggan untuk memberitahu atasannya, hingga ia pun membuat alasan terlebih dahulu.


"Maaf, apa bapak sudah punya janji sebelumnya? Bos kami tidak bisa bertemu dengan sembarangan orang." Ucap resepsionis.

__ADS_1


"Cepat katakan padanya, kalau Vindra ingin bertemu dengannya. Dalam waktu lima menit dia tidak datang aku akan datang mencarinya sendiri dan meminta padanya agar kamu di pecat." Ancam Vin membuat resepsionis itu bergetar.


"Baik pak, tunggu sebentar saya akan menghubungi direktur." jawabnya.


Resepsionis itu pun segera mengambil telepon kantor dah menekan salah satu nomor agar bisa segera terhubung langsung ke ruangan direktur.


"Maaf Bu, di bawah ada Tuan Vindra ingin bertemu dan dia bilang kalau ibu tidak turun dalam waktu lima menit dia akan mencari ibu sendiri." jelas resepsionis.


" ... "


"Baik Bu, akan saya sampaikan." resepsionis itupun menutup teleponnya.


Tua Vin, direktur akan turun sebentar lagi dan meminta anda untuk menunggu sebentar." jelasnya.


"Kamu memang tidak punya malu ya Vin, berani menggertak orang saja. Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum masalah besar datang menghampiri mu." Usir Dian namun Vin tak menggubris.


Tak lama kemudian, Susi dan beberapa manager perusahaan yang baru selesai mitting turun ke lantai bawah untuk memenuhi panggilan Vin yang sudah menunggunya.


"Pagi Bu Susi..." Sapa keduanya namun Susi tak menghiraukan mereka dan memilih untuk menghampiri Vin.


Walaupun Vin bukanlah orang penting tapi karena taruhan saat itu membuat Susi yang statusnya sebagai direktur perusahaan DAK tetap harus tunduk di depan Vin selama setahun ke depan.


"Maafkan aku tuan Vin sudah membuang waktumu dengan datang kemari dan masih harus menungguku," ucap Susi membuat Dian dan Naura tercengang saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, laki-laki yang sedari tadi di sindir dan di usirnya begitu di hormati oleh Direktur perusahaan.


Dian dan Naura segera mencari kesempatan untuk mendekati Susi dengan kembali menyapanya.


"Hallo Miss Susi, Kenalkan ini anak saya Naura. Kemarin mendapatkan panggilan dari perusahaan untuk proses rekrutmen." Jelas Dian tanpa rasa malu.

__ADS_1


Susi menyernyitkan keningnya lalu menoleh ke arah Vin.


"Apakah dia orangnya yang ingin tuan masukkan ke dalam perusahaan?" tanya Susi. Mendengar hal itu Dian dan Naura terkejut dan saling menatap.


"Iya dia orangnya, aku memintamu untuk merekrut dia sesuai kemampuannya." Jawab Vin singkat.


Vin menyeringai ke arah ibu dan anak yang saat ini sudah mendengar dengan telinganya sendiri kalau dirinyalah yang membantunya.


"Baiklah tuan saya sudah meminta sekertaris saya langsung untuk menanganinya. Silvi bagaimana dengan resume nya, apakah ada pekerjaan yang cocok untuknya?" tanya Susi pada sekertarisnya.


"Maafkan saya Miss, setelah melakukan pemeriksaan kemampuan yang dimiliki Nona Naura tidak memenuhi kriteria dari perusahaan Kita. Jadi tidak bisa merekrutnya." Jelas Silvi.


Dian dan Naura terkejut, mereka yang sudah sangat bahagia tiba-tiba terhempas begitu saja.


"Miss, bukankah perusahaan ini menghubungi saya kemarin untuk datang kesini karena ke kemampuan yang saya miliki, tapi kenapa tiba-tiba saya di hempaskan begitu saja. Ini tidak adil Kalau memang saya tidak memenuhi kriteria, kenapa tidak


di katakan dari kemarin. Saya benar-benar ingin bekerja di perusahaan ini." Jelas Naura.


"Mohon maaf Nona, Tuan Vin lah yang meminta saya untuk merekrut Nona sesuai kemampuan Nona, tapi sayangnya kemampuan Nona tidak memenuhi kriteria yang di butuhkan perusahaan.Kecuali jika tuan Vin tetap meminta saya untuk merekrut Nona tanpa memandang kemampuan yang Nona miliki mungkin perusahaan ini akan dengan terpaksa menerima tuan. Tapi sayangnya tuan Vin hanya mengatakan untuk merekrut Nona jika kemampuan yang Nona miliki sesuai kriteria yang perusahaan butuhkan." Jelas Susi panjang lebar dan penuh tekanan jika semuanya karena Vin.


"Bagaimana ? apa kalian sudah percaya dengan apa yang kalian dengar? Dan sekarang tidak ada yang perlu di banggakan dari Naura." Sindir balik Vin.


Dengan kesal Dian pun menarik tangan putrinya dan memahaminya pergi meninggalkan perusahaan DAK begitu saja.


Vin sangat puas melihat apa yang terjadi pada Dian dan Naura dan berharap kejadian tersebut tidak terulang lagi.


"Tuan Vin, mari ikut. Kita bicara di ruangan saja." Ajak Susi. Resepsionis yang tadi sempat ragu dengan Vin pun hanya bisa tercengang saat mengetahui Bosnya mengenalnya.

__ADS_1


"Untung saja aku menuruti kemauannya kalau aku malawannya tadi, bisa-bisa aku benar-benar akan di pecat," ucap resepsionis itu seorang diri merasa lega saat Vin tidak membahas tentang dirinya.


To Be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2