Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 187. Anggur Premium


__ADS_3

Wajah mereka penuh kejutan, mereka tidak menyangka bahwa Vindra akan menghasilkan uang begitu banyak. Bahkan Tifanni jauh lebih terkejut mengetahui Vindra memiliki banyak uang.


Vindra tak perlu membaca isi pesan tersebut karena dia tahu uang dari penjualan batu sudah masuk akun. Akhir-akhir ini Vin memang tidak menghubungi Raditya dan juga tidak memikirkan tentang batu itu, dia percaya Raditya tidak akan menghilang. Hanya saja Vindra tidak menyangka Raditya mentransfer uang tersebut hari ini. Vindra hanya bisa menghela nafas dengan ketulusan Raditya.


“Ratusan miliar, aku percaya itu hanyalah mimpi.” Disaat Glenn dan yang lain merasa malu, Reni pun angkat bicara. “ kamu mengunduh perangkat lunak suara untuk berpura-pura kan. Kamu hanya menjalankan klinik medis kecil, bagaimana kamu bisa menghasilkan uang miliaran? Kamu sangat cakap, kamu tidak harus menjadi menantu di keluarga Gultom.”


Glenn yang baru saja terkejut, menyadari bahwa mereka dibodohi oleh Vindra ketika mendengarkan kata-kata Reni.


“Aku hanya akan mengatakan bagaimana mungkin untuk mendapatkan uang miliaran. Ternyata itu hanya suara analog, kamu benar-benar tidak berguna, apa kamu malu dengan Tiffani?”


“Kamu mencoba mempemainkan kami, kamu berfikir kamu benar-benar master?”


Glenn dan Ben mencibir Vindra tanpa ampun, dan suara mereka sangat keras. Mereka merasa hampir ditipu oleh Vindra.


“Diam!”


Tiffani berteriak, “Kamu tidak diizinkan mengatakan itu kepada saudara iparku. Dia tidak berbohong padamu, dia benar-benar memiliki uang miliaran. Bahkan dia bisa mendapatkan mobil audi hanya dengan menjadi dokter.”


Ben dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak ketika mereka mendengar perkataan Tiffani yang berusaha melindungi Vindra dari rasa malu.


“Oke, beri wajah Tiffani, jangan bicara tentang Vindra lagi, bocah malang itu juga menginginkan wajah agar tidak lebih malu lagi,” ucap Reni menyela pembicaraan Tiffani yang mulai marah.


“Tiffani belum makan, lebih baik bicara sambil makan” ajak Reni.


“Aku sudah menutup pembahasan ini dan aku tidak ingin kalian semua membicarakannya lagi saat makan.”


Reni dan yang lainnya bersorak, lalu membawa Tiffani berjalan dua langkah lebih cepat dan mengikuti Glenn menuju meja makan yang sudah disiapkan.


Ben segera mengalihkan perhatian Vindra pada Tiffani.

__ADS_1


“Sudah kubilang, tuan Glenn tertarik pada Tiffani, apakah kamu benar-benar pacar atau sekedar tameng, kamu sebaiknya keluar. Jika kamu tidak pergi sekarang, aku bisa bertanggung jawab atas tuan Glenn dan tidak akan terjadi sesuatu padamu.” Ben memutar lehernya dan menatap Vindra dengan dingin. “Kalau tidak, kamu akan menyesalinya.”


Vindra berkata dengan acuh tak acuh sambil tersenyum, “Benarkah? Menyesali? Bagaimana kamu membuat aku menyesal?”


“Aku memang jarang datang ke kota SB, tapi aku memiliki hubungan. Steven Rapunzel adalah saudara sepupu. Dia bisa membuatmu kehilangan tangan dan kaki hanya dengan satu kata.” Ancam Ben.


“ Steven?”


Vindra tersenyum kemudian menatap Ben, “Oke, kamu bisa menyuruhnya memimpin seseorang untuk mematahkan kaki dan tanganku.”


Ben terkejut sejenak. Dia tidak mengharapkan reaksi Vindra.


“Apa kamu tahu Steven Rapunzel? Pria besar yang memiliki kekayaan miliaran?”


Vindra tersenyum.” Kamu bisa memintanya untuk mengganggu ku.”


“Kurang ajar!”


Ben bukanlah orang yang mudah di provokasi, siapapun yang mencoba mengganggunya akan dia buat berakhir. Ben yakin saat dia mencoba menganggu, Vindra pasti akan mati. Keduanya sudah siap bertarung hanya saja semuanya berakhir begitu saja karena Tiffani.


Vindra duduk disamping Tiffani dan menghadap makanan lezat yang sudah tersaji dimeja.


Secara khusus Glenn memesan enam kotak anggur merah Bordeaux premium. Dia membuka 36 botol sekaligus, dan seketika ruangan itu dipenuhi dengan anggur.


Glenn segera meminta Ben menuangkan anggur ke setiap gelas.


“Aku tidak minum, terimakasih.” Tiffani membalikkan gelasnya sebagai bentuk penolakan saat Ben sampai di gelasnya.


“Aku hanya minum jus.” Tiffani sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan minum dan mabuk lagi.

__ADS_1


“ Nona Tiffani, ini hari yang baik. Jarang ada waktu untuk berkumpul bersama dan saling mengenal.”


“Ketika kamu sedang bahagia bagaimana kamu hanya minum jus? Ini adalah anggur bordeaux premium, anggur terbaik, sayang sekali jika kamu tidak mencicipinya. Ayo minum sedikit saja.” Ben berusaha membujuk Tiffani dan memberikan segelas anggur yang baru.


Tiffani tetap menggelengkan kepalanya, “ tidak, aku tidak bisa minum.”


“Tiffani, jangan kecewakan aku, minumlah sedikit saja.”


‘”Tifaani beri sedikit kehormatan pada tuan Glenn dan tuan Ben, Mereka semua datang dari kota K dan disini kamu tuan rumah, tidak masuk akal jika kamu tidak minum.” Reni dan yang lainnya terus berbicara mendesak Tiffani untuk minum.


“Tiffani apa kamu masih marah karena kami mempersulit saudara iparmu” tanya Glenn.


“Ya.” Jawab Tifaani tanpa ragu-ragu.


Glenn sedikit menyipitkan matanya, tanpa dia duga wanita yang ada didepannya begitu berani, kemudian dia tersenyum main-main. “Vindra kami salah. Kami seharusnya tidak bercanda. Aku minta maaf padamu. Hari ini hari yang menyenangkan, sayang sekali jika tidak menikmati anggur yang enak.”


Vindra tersenyum tipis,” Ya, hari ini adalah hari yang membahagiakan dan aku harus meminumnya, tapi sayangnya Tifani alergi alkohol, jadi jangan paksa dia minum."


Aku akan minum untuk Tiffani.” Vindra mengambil segelas anggur lalu berdiri. “Aku kakak ipar dan pacarnya. Aku disini untuk menyambut kalian.”


Wajah Ben menjadi dingin, tapi saat mendapat tatapan dari Glen, Ben lalu berdiri dengan segelas anggur. “Baiklah tidak papa jika kamu pacar Tiffani dan menggantikan dia minum, mari kita bersulang untuk hari yang bahagia ini.”


Tiffani menginjak kaki Vindra memberi syarat agar dia tidak bodoh dan menantang. Tiffani tahu Ben dan yang lain memiliki niatan yang tidak baik.


Vindra tidak menjawab, hanya tertawa, “ayo minum.” Dia segera meneguk habis anggurnya dalam sekali tegukan.”


Glenn berseru dengan penuh semangat setelah menghabiskan segelas anggur. “Tuan Vindra ini sangat menyegarkan.”


Glenn segera berdiri, “tuan Vindra, aku akan mengajakmu minum lagi sampai mabuk sebagai bentuk perkenalan kita.”

__ADS_1


“Baiklah.” Vindra tidak menolak dan menantang Glenn untuk terus minum.


...****************...


__ADS_2