
Akhir-akhir ini Vindra menjadi lebih sibuk. Merawat pasien, mengawasi renovasi, mengajari resep dokter Ronald, dan meluangkan waktu untuk mengajari Romi bila diri.
Setelah menyelamatkan gadis kecil yang terkena gigitan ular, reputasi Vindra semakin menonjol, dan setiap hari klinik CRISHAN di datangi lebih dari ratusan pasien yang ingin berobat.
Saat ini yang bisa membantunya hanyalah dokter Ronald dan Billy dan mereka pun tidak bisa terlalu sibuk kerena kondisinya yang lelah. Sedang dokter Lin, dokter Wisnu, dan dokter Mega tidak bisa membantu untuk sementara. Jadi Vindra harus turun tangan sendiri untuk membantu para pasien.
"Bibi, perutmu kembung karena masuk angin, aku akan memberikan dua resep untukmu."
"Paman, Sakit gigimu meradang, aku akan memberikan suntikan, dan ingat untuk sementara waktu kurangi konsumsi makanan atau minuman manis."
"Nona, kamu mengalami kurang darah dan demam. Aku akan meresepkan obat penambah darah dan juga beberapa resep penurun demam."
Lagi ini Vindra memeriksa puluhan pasien, dan ketika saat ingin mendiagnosis pasien yang lain, Vindra melihat kedatangan Rahendra dan putrinya Dara. Vindra mengangguk untuk menyapa mereka.
"Tuan Vindra apakah kamu sibuk?" Tanya Rahendra sambil tersenyum lalu melirik banyak pasien yang sudah mengantri.
"Sepertinya kamu sedang sibuk, baiklah kita bicara kalau kamu sudah tidak sibuk. Aku akan menunggu." Setelah bicara Rahendra mengajak Dara untuk duduk dan menunggu.
Dara tidak lagi liar, dia dengan patuh duduk dan menunggu dan sesekali melirik Vindra.
Mereka dengan sabar menunggu hingga tiga jam berlalu, dan Vindra menyelesaikan pekerjaannya tengah hari.
Setelah kembali menyapa Rahendra, Vin mengajaknya ke paviliun untuk makan siang bersama.
Hari ini Ambar tidak datang, jadi dia hanya mengirim makanan.
Vindra menyajikan makanannya dan ditambah beberapa kaleng soda.
__ADS_1
"Maaf tuan maaf, aku terlalu sibuk hari ini. Jika ada waktu luang, aku akan mengundangmu untuk makan besar."
Rahendra buru-buru melambaikan tangannya dan berkata." Tuan Vindra terluka sopan, aku yang malah menggangu mu."
"Tuan Rahendra datang kesini, apa ada masalah dengan tubuh anda?" Seharusnya Rahendra kembali lagi bulan depan, dan Vin bisa memastikan dalam satu bulan dia akan baik-baik saja.
"Tidak papa, keterampilan medis tuan Vindra luar biasa, tidak hanya aku mengucapkan selamat tinggal kursi roda, tapi juga memulihkan keterampilan bela diriku lebih cepat. Sebenarnya aku datang kesini untuk membicarakan dua hal." Jelas Rahendra yang langsung pada intinya.
"Yang pertama, terimakasih atas kemurahan hati tuan Vindra. Setelah Dara minum obat yang tuan berikan, pusat energinya mulai memanas dan dia mulai mengumpulkan sedikit kekuatan. Aku membawanya kemari agar tuan Vindra bisa memberitahu seberapa besar kemungkinan pusat energinya pulih kembali."
Saat bicara Rahendra mengeluarkan cek sebesar seratus juta kepada Vindra dengan hormat, "Ini pemberian kecil dari Dara."
Vindra tidak menyentuh cek itu, tapi dia malah mengambil nasi dan menyuapnya, kemudian mengambil tangan Dara untuk memeriksa denyut nadinya.
Tubuh Dara terkejut tanpa alasan, dan sendok ditangannya hampir jatuh. Saat Vindra memegang pergelangan tangannya Dara baru merasakan bagaimana di pegang tangannya oleh pria dengan lembut.
Setelah bicara Vindra kembali melepaskan tangan Dara." Setelah minum obatnya selama sebulan, kembali kemari dan aku akan memberikan obat uang berbeda. Dalam satu bulan pusat energimu akan pulih 30% tapi butuh waktu satu tahun untuk memulihkan 90% pusat energi. Hanya saja dia harus bisa mengendalikan emosinya dan tidak memukuli orang setiap ada kesempatan. Begitu ada seseorang yang memukul pusat energinya lagi, selamanya dia akan hancur."
"Terimakasih dokter. Aku akan menjadi orang yang baik dimasa depan." jawab Dara. Dia tidak marah pada Vindra yang sudah melenyapkan pusat energinya, kerena vinda juga sudah membantu dirinya memulihkan kembali pusat energinya.
"Terimakasih saja itu tidak cukup." Tiba-tiba Rahendra angkat bicara. "Tuan Vindra sudah bekerja sangat keras, Kamu harus membalas kebaikan tuan Vindra dengan lebih baik. Ada begitu banyak pasien di ke klinik, tapi sedang kekurangan tenaga. Bahkan tidak ada makanan hangat dan yang menuangkan teh. Mulainm besok kamu harus datang kesini untuk membantu. Kamu memang tidak bisa membantu dokter atau memberi resep, tapi kamu bisa membantunya dengan menguangkan teh, atau membersikan klinik ini sebelum buka dan tutup." Rahendra menunjukkan jarinya pada Dara.
"Ini tidak hanya membuat kamu hidup lebih panjang, tapi kamu juga membantu mengurangi beban tuan Vindra agar dia bisa lebih fokus mendiagnosis dan merawat pasien."
Dara hanya mengangguk." Aku mengerti."
Vindra terkejut dan buru-buru melambaikan tangannya." Tuan Rahendra itu tidak perlu, yang ada malah menggangu Dara berlatih... " Vindra merasa dara tidak akan cocok jika harus menjadi pembantu untuk melayani dirinya dan yang lain.
__ADS_1
Rahendra buru-buru menyela pembicaraan Vindra." Pusat energinya telah dihapuskan dan saat ini belum pulih 50%. Sangat tidak masuk akal jika dia masih berlatih. Ini juga hukuman yang pantas dia dapatkan. Jika dia melakukan kesalahan, dia harus mendapatkan pelajaran. Jangan khawatir, dia tidak akan meminta upah dari pekerjaan yang akan dia lakukan."
"Tuan Vindra kamu sangat murah hati, beri Dara kesempatan. Jika kamu tidak mau melihatnya, aku yang akan datang setiap hari untuk melakukan pekerjaan rumahan."
"Aku pasti akan bekerja dengan baik." Jawab Dara.
Kepala Vindra menjadi sakit, akibat ulah ayah dan putrinya yang terus memaksa.
"Apakah tuan Vindra mencintai Dara, sampai tidak ingin membiarkan Dara bekerja kasar? Ngomong-ngomong aku dengar tuan Vindra dan istri sudah bercerai, Dara .."
"Cukup." Kepala Vindra semakin sakit. Dia segera mengulurkan tangannya untuk menghentikan Rahendra bicara. "Baiklah, Aku akan menerima Dara bekerja disini, untuk makan dan minum akan di tanggung, dan setiap bulan dia akan mendapatkan upah sesuai pekerjaannya."
Vindra menatap Dara." Lakukan dengan baik dan rutin, jika tidak maka jangan datang lagi."
"Setuju."
Rahendra sangat senang, kemudian dia memukul kepada putrinya dengan pelan. "Cepat pergi bekerja, lihatlah klinik medis ini terlalu berantakan.
Dara beberapa kali mengucapkan terimakasih, dan dia mengambil beberapa suap nasi, setelah itu dia pergi untuk memulai bekerja dengan membersikan tempat yang berantakan.
Billy yang melihat sangat senang, karena akhirnya ada pembantu baru.
Vindra kembali menatap Rahendra, "Ngomong-ngomong tuan Rahendra, bukankah kamu akan membicarakan dua hal apa lagi yang ingin tuan sampaikan?"
Ekspresi Rahendra berubah serius, kemudian dia bicara dengan pelan. "Tiger Wang ingin bertemu dengan mu..."
To be continued 👍👍👍
__ADS_1