
Di perjalanan, Vindra dihadang oleh beberapa gangster yang sudah mengincarnya dari dia berada di toko antik. Tidak ada rasa takut, Vin keluar untuk menghadapi mereka.
Setelah memperhatikan orang-orang yang menghadang itu, Vindra menjadi ingat dengan apa yang dikatakan Jhonatan tentang para penjagal yang kabur di tengah hujan, dan sampai saat ini mereka menjadi buronan polisi.
Vindra hampir melupakan cerita itu, tetapi Vin tidak berharap mereka akan menemukan dirinya saat ini.
Untuk saat ini, Vindra penuh dengan niat membunuh, setelah tahu banyak wanita muda yang menjadi korban kekejaman mereka.
"Buronan dari pangkalan Ederson."
Salah satu pria gemuk itu terkejut dengan kata-kata yang di ucapkan Vin." Apa kamu tahu darimana kita melarikan diri?"
"Tentu saja aku tahu. Aku juga tahu bahwa kamu akan mati hari ini." Vin tersenyum tipis.
"Jangan bercanda, bukan kami yang mati tapi kamu yang akan mati hari ini."
Vindra memang mengejutkan mereka, yang tidak memiliki rasa takut dan bahkan berani menantang. Namun satu lawan empat itu tidak akan imbang. Mereka yakin pasti bisa mengalahkan Vindra dengan mudah.
"Membunuh adalah kejahatan besar." Vindra mencoba menggertak.
Pria gemuk itu tersenyum." Kami sudah membunuh banyak orang, membunuh satu kali lagi itu tidak akan ada tekanan."
Ketiga kawannya pun tertawa keras, ada penghinaan, dan kilatan kejam dimatanya.
"Jessie yang meminta kalian untuk menghadang ku?" tebak Vindra.
Pria gemuk itu memutar lehernya dan tersenyum. " Jawabannya, datang dan temui dia sendiri. Ingatlah namaku Shine." Dia menyeringai. "Ketika aku mati, aku hanya akan memiliki beban sedikit setelah membunuhmu."
Suara pria gemuk itu tiba-tiba berhenti, karena sebuah pisau menancap di tenggorokannya untuk beberapa waktu. Vin berdiri di depannya, tangan satunya memegang pedang miliknya.
Seketika yang lain terdiam. Tidak ada yang mengira Vin begitu kuat sehingga mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melihat dengan jelas.
__ADS_1
Pria gemuk itu sangat terkejut, dan kemudian menghela nafas." Aku pergi."
Vin memandang pria gemuk itu dan tersenyum." Aku akan memberimu kesempatan untuk bertahan hidup. Apa kamu percaya?"
Pria gemuk itu sedikit bercanda di sudut bibirnya. " Aku punya tiga orang di sini, sedangkan kamu ingin memberiku kesempatan untuk bertahan hidup? apa kamu yakin?' Saat bicara, ketiga sahabatnya itu memberikan senjata, termasuk belati,busur dan pistol ke tanah.
"Jika kamu berani membunuh kakak tertua, aku akan membunuh seluruh keluargamu." Seorang wanita galak bereaksi, mengeluarkan senjata dan berteriak. "Lepaskan dia..."
Mendengar itu, dalam sekejap lambaian tangan kanan Vindra langsung menembus tenggorokan lawan. Suara wanita itu tiba-tiba berhenti, karena seluruh tubuhnya kesakitan dan tenggorokannya berdarah akibat pedang yang menusuk tenggorokannya.
Nada bicara Vindra datar. "Apakah aku membiarkan kamu bicara?"
Pria gemuk itu terdiam. Wanita galak itu menggelengkan kepalanya , menatap Vindra tak percaya. Dia tidak langsung mati, jadi matanya penuh kemarahan dan hampir menonjol keluar.
Setelah Vindra melirik yang lain untuk memastikan, dia menatap pria itu lagi." Shane, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"
Begitu ahli itu mengambil tindakan, dia tahu jika Vin bukan orang biasa, Shane memandang temannya yang kaku, dan kemudian ke arah pisau tajam yang menancap tenggorokannya, dan akhirnya dia tersenyum masam." Aku akui."
"Bajingan." Melihat kedua temannya mati sia-sia, dia bergegas dengan marah, mengangkat panah dan siap menembak Vindra.
Vindra mengulurkan tangan kirinya, memeriksa, dan menjentikkan. Panah di tangkap dan di pantulan kembali.
Terdengar tajam, saat tenggorokan pelaku tertancap panah yang tembus ke belakang.
"Kamu." Dia menunjuk Vindra dan berteriak dengan marah sebelum akhirnya mengikuti kedua rekannya yang lebih dulu mati konyol.
"Kenapa seluruh tentara di musnahkan?" tanya Vindra.
Pria gemuk itu ketakutan, dia tahu Vindra bukanlah orang biasa, melainkan master beladiri sejati.
"Dua ratus juta untuk menangkap kalian, aku tidak tau apakah itu sepadan atau tidak. Tapi kalian tidak bisa dibiarkan merajalela lagi."
__ADS_1
Vindra mengeluarkan ponselnya , menelpon polisi, setelah itu dia kembali bicara dengan Shane." Sekarang aku tahu, siapa yang mengirim kamu kesini. Hanya saja aku sudah membuat keputusan, membunuh lagi, atau menyerahkannya ke polisi." Ancam Vindra, membuat Shane sangat ketakutan.
"Iya, Nona Jessie yang memberi kami lima puluh juta dan memerintahkan kami untuk merebut kembali Giok berdarah. Terserah kamu untuk memutuskan apakah kamu akan membunuhku atau tidak. Aku sudah siap untuk mati."
"Siapa sebenarnya Jessie?" Siapa yang memberikan keberanian untuk membawamu masuk?" tanya Vin lagi.
"Dia adalah manager toko barang antik, tapi sebenarnya dia adalah pimpinan kelompok pencuri yang berspesialisasi dalam perampokan barang-barang antik yang ada didalam pemakaman. Barang yang dia selundupkan dan dijual kembali itu sangat berbahaya dan dapat menyebabkan orang yang memilikinya meninggal. Jadi setelah kekacauan di pangkalan Ederson, aku berlindung padanya. Ada ruang rahasia dibawah toko barang antik Tritan, dan kami bersembunyi disana akhir-akhir ini." Setelah menjelaskan semua informasi yang dibutuhkan Vindra. Dia mengucapkan terimakasih, lalu menendangnya ke tanah hingga pingsan.
Kemudian Vindra mengikat penjagal itu dan memasukkannya ke dalam mobil dan menguncinya.
Tak lama Vindra mendengar suara sirine polisi segera setelah dia membersihkan tangannya.
Vin tidak tinggal, meskipun ada hadiah dua ratus juta yang ditawarkan, Vin merasa terlalu merepotkan untuk berurusan dengan polisi.
Dia mengirim pesan pada Jhonatan, lalu bersiap untuk pergi. Ketika dia hendak pergi, Vindra melihat sebuah pagoda kecil tergantung di kaca spion mobil penjagal. Sepintas mirip barang yang dijual dipinggiran. Penjagal itu tidak merawat barang antik tersebut hingga terlihat kotor dan belang-belang.
Tapi batu permata memiliki reaksi dan hendak bergerak, Vin mengulurkan tangannya, dia mengambil pagoda tersebut dan membawanya pergi.
****
Sore hari Vindra kembali ke rumah Gultom untuk menjelaskan semuanya. Begitu dia memarkirkan mobilnya dan berjalan ke teras, secangkir teh terciprat ke kakinya.
"Miranda berteriak. "Apa matamu buta? Tidak menghindari, saat melihatku memercikkan air?"
Vin mendongak bahwa banyak orang sedang berkumpul dirumah.
Selain Gultom, Miranda, dan Sifa, ada Mateo dan istrinya, Fendi dan Medina juga ada disana.
"Kamu masih punya wajah untuk kembali?" ucap Mateo dengan marah bahkan sampai memukul meja dan mengutuk Vindra. "Apa pendapatmu tentang ayah? Dia hampir terkena serangan jantung. Jika bukan karena Tania melakukan pertolongan tepat waktu, kamu akan menjadi seorang pembunuh sekarang."
To beli continued 🙂🙂🙂
__ADS_1