
Dalam sekejap mata, tubuh Rahendra sudah di penuhi jarum akupuntur. Tubuhnya segera bergetar seperti tersengat listrik tegangan tinggi.
"Bajingan." Dara sangat marah ketika melihat ayahnya menderita siksaan, bahkan dia bersumpah akan membunuh Vindra. Hanya saja saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa, jangankan untuk menyerang, berdiri saja tidak mampu.
Karena begitu menyakitkan, Rahendra sampai menggeliat dan jatuh dari kursi roda, akibatnya jarum-jarum itu menusuk lebih dalam. Dia berteriak dan kemudian dia bangkit berdiri.
"Bajingan, kamu berani menyakitiku, aku akan membunuhmu." Seketika Rahendra menyerang Vindra.
Vindra menghindar dan langsung menendang perutnya dengan keras.
Rahendra mengerang dan mundur kebelakang sambil menahan sakit, kemudian dia memuntahkan seteguk darah hitam. Setelah itu Rahendra merasakan dadanya terasa ringan saat bernafas, seluruh tubuhnya terasa nyaman, dia ingin melangkah maju, tapi segera dia hentikan setelah menyadari sesuatu.
"Aku... Aku bisa berdiri?!"
Dara dan yang lainnya ikut terkejut, mereka menatap Rahendra dengan penuh ketidakpercayaan.
Rahendra masih tidak percaya, dia segera menggerakkan tangan dan kakinya, dia merasa fleksibel, kemudian mengatur nafasnya lagi.
Tidak hanya dari pihak Rahendra, tapi Billy dan Robi juga terkejut, mereka berdua benar-benar tidak menyangka bahwa Vindra bisa menyembuhkan Rahendra.
"Jangan bahagia terlalu dini." Vindra menarik handuk untuk menyeka tangannya dan mendisinfeksi, memandang Rahendra dengan acuh tak acuh. "Aku hanya membantu kamu meredakan gejala yang kamu alami, tapi aku belum sepenuhnya menyembuhkan luka dalammu. Setelah dua puluh empat jam kamu akan kembali dalam keadaan semula, yaitu tubuh setengah mati. Aku memberimu akupuntur, hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar dapat menyembuhkan kamu, dan hanya dengan seratus ribu bisa menyembuhkan penyakitmu, tapi karena kesombongan mu, situasinya sekarang kacau. Putrimu kehilangan pusat energi, dan murid-murid mu terluka. Kamu sekarang hanya bisa berjalan dalam waktu satu hari."
Vindra bisa mengalahkan Rahendra dengan mudah, tapi itu tidak cukup untuk memberi mereka pelajaran, dia pasti masih akan menggerak orang lain di masa depan. Jadi Vin menunjukkan keterampilan medisnya, memberi Rahendra harapan, dan kemudian menghancurkannya lagi.
"Anak muda, kamu terlalu kejam."
"Aku yang kejam, atau kamu yang kejam? Kamu sebenarnya bisa menghentikan putrimu yang melakukan kejahatan, tapi kamu hanya duduk di kursi roda dan tidak mengatakan apa-apa, dan membiarkan dia berlaku seenaknya. Itu bisa dilihat kalau kamu itu terlalu sombong. Jika kamu menanam suatu sebab, kamu akan menanggung akibat yang sesuai. Keluar, dan kembali rasakan kebebasanmu, atau kamu tidak akan punya kesempatan dan kembali duduk di kursi roda. Oya jangan lupa sebelum pergi, bayar biasa konsultasinya."
__ADS_1
Rahendra hanya menggerakkan giginya, dia ingin memukul Vindra, tapi dia sadar kalau saat ini Vindra bukan lawannya.
Sebelum pergi Rahendra meletakkan biaya konsultasi, kemudian membawa Dara dan yang lainnya untuk pergi.
Setelah Rahendra dan murid-murid pergi, Robi mendekati Vindra dan berkata dengan suara rendah.
"Tuan Vindra, Rahendra adalah salah satu dari empat master Tiger Wang. Kamu menghadapinya seperti ini, apakah tuan tidak takut?"
"Orang-orang Redblack sangat mendominasi. Mereka selalu mengaku sebagai pelindung, tapi mereka sering menggertak orang lain." Saut Billy.
Vindra hanya tersenyum, melihat kekhawatiran mereka. "Jangan khawatir, Rahendra tidak akan berani membalas."
"Kenapa?" tanya Robi penasaran.
"Dia marah saat ini, tapi setelah merasakan hari kebebasan ini, dia akan takut kembali duduk di kursi roda lagi. Ketakutan semacam ini akan membuatnya melupakan cidera muridnya, hilangnya pusat energi putrinya, dan semua keluhan denganku. Tunggu saja, dia kan segera berlutut didepan pintu."
Robi tiba-tiba menyadari, mengacungkan jempol dan memuji." Kamu sangat hebat, tuan Vindra.
Pada saa ini, telepon
Vindra bergetar, Vindra segera membuka dan membacanya." Kakak ipar, jangan lupa jemput aku."
Pukul enam sore, Vindra sudah sampai bandara dan menunggu. Dia ragu-ragu untuk waktu yang lama, tapi akhirnya memutuskan untuk menjemput Teffani.
Tak lama dua gadis muda muncul dan berjalan berdampingan dan menarik perhatian.
Vin segera menghampiri." Tiffani apa kamu sudah sampai."
__ADS_1
" Kakak ipar." Teffani berteriak saat melihat Vindra, dan kemudian memeluk leher Vindra dengan erat, menjerat Vindra dengan bahagia. "Lama tidak bertemu."
Tifani adalah anak bungsu keluarga Gultom, sekarang dia kuliah di luar negeri, tapi sikapnya pada Vindra sangat maja. Hanya Tifani yang selalu mendukung Vindra.
"Tifani, lepaskan! Jangan membuat masalah, ada banyak orang disini." Vindra berusaha melepaskan pelukan Tifani.
"Masalah? Apa masalah antara aku dan kamu? Aku tidak melakukan sesuatu yang memalukan?" jawab Teffani dengan marah. " Aku tau itu pasti permintaan kakakku. Sepertinya dia benar-benar ketat padamu. Ya, ibuku memang penindas yang baik, begitu juga dengan kakakku. Makanya membuat kamu sangat patuh."
Tiffani menatap Vindra," Aku pergi keluar negeri untuk belajar dan kamu tidak mau melihat ku. Aku tahu itu semua karena ibu dan yang lain."
Vindra hanya bisa bergumam dalam hati dan mengatakan jika ia dan Sifa sudah bercerai. Namun Vindra tidak mengatakan apapun selain jawaban yang ditanyakan Tiffani.
"Aku tidak apa-apa. Alasan utamanya itu tidak baik dan akan mempengaruhi kamu. Kamu sangat cantik dan baik, jika kamu terekspos di media ketika kamu bersamaku, maka reputasi mu akan jatuh. Apakah kamu akan membiarkan orang mengatakan jika seleramu itu buruk " Jawab Vin sambil tersenyum.
Tiffani menepuk jidatnya, saat menyadari ada seseorang di sampingnya.
"Lupakan itu, Oya aku lupa memperkenalkan padamu. Kakak ipar, ini adalah teman baikku yang aku temui di luar negeri. Dia seorang manager dana dengan bakat dan keterampilan di lingkaran keuangan."
"Ren, ini saudara iparku, Vindra."
Vindra mengulurkan tangannya dan menyapa." Halo."
Reni melihat penampilan Vindra yang terlalu kuno. Dia menatap dengan penuh penghinaan. Reni tidak mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Vindra. Dia hanya mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam yang ada di tangannya. "Tiffani, aku harus lanjut, kita makan malam lain kali saja. Aku punya janji dengan wakil presiden BBI untuk makan malam dan membahas pembiayaan lima milyar, dan bagaimana aku bisa memenangkan ini. Saat urusanku selesai kita bisa bertemu kembali untuk minum teh bersama."
Reni menanggapi Teffani dengan acuh tak acuh dan dia mengabaikan Vindra.
Mata Vindra memancarkan sentuhan lelucon, dia bisa melihat kalau Reni sangat membenci dirinya. Tapi Vin tidak marah sama sekali, dia sudah terbiasa dengan sikap seperti itu.
__ADS_1
"Setelah kamu selesai, kamu bisa datang, aku akan pergi ke club dengan beberapa teman nanti, Ayo gabung dan bersenang-senang nanti.
To be continued 🙂🙂🙂