Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 103. Balas Dendam 2


__ADS_3

"Tuan Wiliam, aku sudah menyerang mu berkali-kali dalam hitungan detik dan terlah berhasil menyerang mu setiap saat. Kenapa kamu tidak waspada? Aku kecewa dengan kecerobohanmu. "Cibir Vindra. Tekanan konstan di telapak kaki Vindra, membuat Wiliam Wells teriak kesakitan saat punggungnya di injak.


"Brengsek, berani kamu melukaiku, polisi tidak akan membiarkan kamu pergi dan keluarga Wells juga tidak akan membiarkan kamu tetap hidup." teriak Wiliam Wells menahan rasa sakit.


Vindra menginjak tangan kanan William. " Kenapa kamu tidak berusaha melepaskan diri?"


"Vindra, kamu bajingan! Jika kamu memiliki keberanian, bunuh aku sekarang!" William merasa putus asa.


"Ha...ha... aku seorang warga yang taat hukum. Bagaimana mungkin aku membunuh seseorang di depan umum. Aku datang ke sini untuk mencari keadilan pada Sifa Gultom. Kamu hampir membuatnya cacat dan di permalukan, dengan mematahkan kedua tanganmu, aku rasa sudah cukup." Ungkap Vindra dengan tenang namun tegas.


"Vindra, cukup!" Regina tidak tahan, dan tidak bisa mentolerir, saat tuannya di injak-injak oleh Vindra.


"Vindra sudah cukup. Walaupun kamu bisa bertarung, tapi kamu tidak sebanding dengan keluarga Wells. Tidak kah kamu memikirkan konsekuensi yang kamu lakukan secara sembrono? Apakah kamu tidak memikirkan keluargamu? kamu menyakiti tuan Wells, dan keluarga Wells marah. Tidak hanya kamu, tapi semua orang di sekitarmu juga akan menderita. Vindra jangan membuat dirimu mendapatkan masalah." Dengan tegas, Regina mengingatkan Vindra dan berharap dia mau melepaskan Wiliam.


"Dengarkan aku, lebih baik hentikan, minta maaf pada tuan Wells dan dengarkan permintaannya. Beri kompensasi dan kirim Sifa Gultom. Maka kamu akan mendapatkan jalan keluar. Aku menjamin bahwa selama kamu melakukan apa yang barusan aku katakan , aku akan meminta tuan Wells melepaskan mu. Tuan Wells tidak sesederhana yang kamu pikirkan." Regina masih berusaha menasehati Vindra dengan sopan.


Vindra tidak perduli, lalu dia ganti menginjak tangan kiri Wiliam.


Hampir disaat bersamaan, lima jip datang dan langsung memblokir pintu gerbang restoran teh Ex, tak hanya itu beberapa orang berseragam pun berjalan di belakang. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk dengan tangan di punggung. Aura yang keluar, membuat semua yang mengenalnya ketakutan. Dia adalah Julio Wells.


"Ayah..." Dengan lemah, Wiliam Wells berteriak. Walau bagaimanapun Wiliam Wells masih mengandalkan kekuatan ayahnya itu untuk bermain-main.


Melihat kesengsaraan putranya, Julio Wells menatap tajam dengan penuh amarah. "Berani sekali kamu menggertak putra Julio Wells. Ternyata ada pria yang berani menentang ku. Coba lagi kalau kamu berani!"


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan." Vindra segera maju menginjak kaki Wiliam dan mematahkannya. Wiliam tak kuasa untuk tidak berteriak menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


Tanpa rasa takut, Vindra menunjukkan kekuatannya untuk memprovokasi keadaan. Julio Wells terdiam sesaat, tak menyangka hari ini didepannya seorang pria muda berani menantang dan menginjak-injak keluarga Wells.


"Apa kamu tau, apa yang kamu lakukan? Apa ku tahu konsekuensinya melakukan ini? Anak muda, aku beritahu saat ini kamu dalam masalah besar." Julio Wells masih berusaha menekan kemarahannya.


Dia tidak bertanya kenapa menyakiti putranya, yang jelas Julio sudah menyiapkan sesuatu untuk menghukum Vindra sampai mati.


"Iya, Masalah? Mengapa aku tidak tahu kalau aku menyebabkan masalah? Anakmu lah yang mulai lebih awal. Dia menyakiti orang lain di depan umum, memprovokasi hukum, dan berperilaku buruk." Saut Vindra.


"Tapi setidaknya kamu akan diizinkan duduk di penjara, dan yang lebih buruk kamu akan di tembak atau di bunuh."


"Sebelum kamu berusaha menghakimiku, coba tanya dulu pada putramu. Lihatlah kejahatannya atau kejahatanku. Kamu tidak memenuhi syarat menunjukku dengan jari." Vindra masih tetap tenang dan tak perduli siapa yang dia tantang.


Tanpa bicara Julio melambaikan tangan." Opsir Raden, bawa dia kembali dan ajari caranya menghormati keluarga Wells dan juga menghormati hukum."


Ketika sebuah perintah keluar, empat pria berseragam berjalan dari belakang dan membawa borgol untuk menangkap Vindra.


" Sebelum kamu menangkap ku. Kenapa kamu tidak menyelidikinya terlebih dulu?" saut Vindra.


" Aku tidak butuh kamu untuk mengajariku bagaimana melakukan sesuatu. Kamu menyakiti orang dan melanggar hukum. Sebagai pihak penegak hukum, aku menangkap mu sebagaimana mestinya. Jika kamu melawan dan tetap melakukan kejahatan aku akan menembak mu." pria yang di panggil Opsir Raden itu berbicara dengan tinggi dan memelototi Vindra.


Ding....


Pada saat ini suara ponsel berdering dan itu dari kantor kepolisian. Dia sedikit menyernyitkan keningnya sebelum mengangkatnya. Beberapa saat kemudian opsir Raden berkeringat dan buru-buru menghentikan bawahannya. Lalu mendekati Julio Wells dan membungkuk. "Tuan Wells, maaf, kami tidak bisa mengurus ini."


Opsir Raden melirik Vindra dan tidak berharap Vindra menjadi saudara laki-laki Jhonatan Wiston.

__ADS_1


"Tidak bisa?! Kamu adalah seorang pelindung masyarakat kenapa kamu tidak bisa mengatasi dia yang melakukan kejahatan?!" Julio Wells tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan lihat.


Raden tak banyak bicara, hanya menggeleng. Lalu mengajak anak buahnya segera pergi.


"Siapa yang membiarkan kamu pergi!" Seru Vindra kepada opsir Raden.


Raden segera membalikkan tubuhnya dan bertanya, "Anak muda, apa yang akan kamu lakukan?!"


"Kamu sudah melecehkan ku, ingin menangkap ku, menamparku, dan bahkan kamu tidak maaf dan ingin pergi begitu saja?!" Vindra langsung menampar wajah Raden, dengan keras dan renyah, membuat Opsir Raden berteriak dan tersungkur, pipinya langsung bengkak.


Opsir Raden segera bangkit dengan kemarahan, "Kamu-"


Plakkkk....


Vindra sekali lagi menampar Raden." Setelah kamu keluar, kamu harus mengakui jika kamu salah dan siap menerima hukuman."


Dia mengepal tinjuan dan ingin sekali mencabik-cabik Vindra, tapi pada akhirnya dia hanya bisa bicara pelan. "Maaf."


Mendengar permintaan maaf dari pihak lain, Vindra segera berteriak. " Keluar!"


Opsir Raden dan ketiga bawahannya pun meninggalkan restoran teh Ex dengan wajah suram.


Sepertinya aku meremehkan kamu, aku tidak berharap kamu memiliki sedikit latar belakang. Hanya saja aku ingin memberitahu kamu, tidak perduli siapapun yang ada dibelakang kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi setelah menginjak-injak putraku. Aku Julio Wells akan menghukum mu."


Disaat anak buah Julio Wells bersemangat untuk menghajar Vindra. panggilan telepon masuk mengusik Julio Wells. Tiga ponsel miliknya berdering bersamaan seperti nada pengingat.

__ADS_1


Kelopak mata Julio Wells menonjak, dan segera mengangkat panggilan tersebut. Wajahnya seketika suram dan setelah itu dia meletakkan ponselnya dan mengambil nafas dalam-dalam dan menatap Vindra dengan susah payah lalu berkata, "Aku Pergi-"


To be continued ☺️☺️


__ADS_2