
Dokter Lin ingin berhenti menampar Billy, namun ia tak berani melakukannya, karena takut jika gurunya itu marah besar padanya. Dokter Lin hanya bisa berharap agar Billy mau menyerah dan mengaku salah, baru ia bisa berhenti.
"Minta maaflah padanya, Baru ayah bisa berhenti menamparmu. Jangan keras kepala. Lihatlah wajahmu sudah bengkak," ucap dokter Lin pada putranya.
Seketika Billy berlari menghampiri Vin yang berdiri agak jauh, menyaksikan Bagaimana seorang ayah memberi pelajaran pada putranya. Saat berlari tanpa terkendali, Billy sampai menabrak Vin dan Billy pun langsung berlutut didepan Vindra.
"Maafkan aku tuan. Aku mengaku salah." Billy menyatukan kedua tangannya memohon. Begitu juga dengan dokter Lin yang ikut berlutut agar putranya bisa dimaafkan.
Vin memperhatikan keduanya yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Kalian berdua bangunlah, tidak pantas kalian berlutut seperti itu." Vin membantu Billy berdiri." Ingat Billy, nanti dimasa depan saat kamu berlajar dan memiliki keahlian medis, janganlah sombong dan memamerkannya. Itu akan menjadi bencana dan bisa membuat nyawa orang lain melayang," ucap Vin menasehati.
Billy pun mengangguk, " Iya aku paham, terimakasih sudah menegurku. Aku janji di masa depan aku tidak akan mengulangi kesalahan dengan menyombongkan diri." jawab Billy yang merasa bersalah telah meremehkan Vin yang sebenarnya orang baik.
"Sebenarnya Jarum sembilan itu tidak sepenuhnya bisa menyembuhkan kaki Lusiana, karena itu hanya bisa merilekskan dan menormalkan otot-otot yang kaku, tapi tidak bisa mengalirkan aliran darah di kakinya. Butuh satu teknik lagi jika memang ingin membuat Lusiana sembuh." Jelas Vin membuat semua terkejut terutama dokter Lin.
"Padahal aku masih ingin menggunakannya untuk mengobati Lusiana, tapi sepertinya itu tidak akan bisa memberi harapan padanya." Sedikit rasa kecewa muncul di wajah Dokter Lin. Teknik sembilan jarum merupakan teknik yang sudah di pelajari turun temurun oleh keluarganya dan Vin membantu mengajari penyempurnaannya. Namun sayangnya teknik itu masih tidak bisa membantu mengobati Lusiana.
Mendengar Apa yang dikatakan Vin, dokter Wisnu berlutut di depan Vin lagi." Tolong sembuhkan cucuku," ucap dokter Wisnu memelas.
Lusiana pun memiliki secercah harapan untuk bisa melangkahkan kakinya kembali, setelah begitu lama hanya bisa duduk di kursi roda.
Vin meminta, Dokter Lin untuk memberikan jarum akupuntur miliknya dan ia pun segera mendekati Lusiana kembali. Setelah mendisenfeksi jarum perak itu. Vin segera menusukkan sembilan jarum perak lagi di betis Lusiana.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, muncul sebuah garis merah, yang langsung menyebar ke delapan belas jarum akupuntur yang menancap di kaki Lusiana dan menyebar mengikuti pembuluh darah.
Mereka kembali di buat terkejut, saat melihat kaki pucat Lusiana tiba-tiba ada garis merah yang berlahan melebar di sekitar kedua kakinya.
Seketika Dokter Wisnu mengingat apa yang pernah dikatakan kakeknya, jika ada teknik jarum ajaib tiga gerbang. Namun sayangnya itu sudah lama hilang. Tapi siapa sangka Dokter Wisnu masih melihat teknik itu kembali. 'Dokter Vindra memang sangat hebat, di usianya masih muda sudah memiliki bakat luar bisa dan pasti nantinya akan mencapai pada titik puncaknya.' Gumam dokter Wisnu.
Perlahan namun pasti, garis mereka itu terus menyebar sampai ke lutut dan membuat kaki Lusiana bergetar.
Dokter Lin yang selalu menganggap dirinya sangat hebat, kini merasa malu karena merasa dirinya paling hebat, tapi pada nyatanya dokter Wisnu jauh lebih hebat ketimbang dirinya.
Vin masih berusaha mengobati Lusiana dengan menusukkan beberapa titik akupuntur agar Lusiana bisa benar-benar sembuh, namun hal itu membuat Vin kehabisan tenaga karena sudah terkuras selama pelakukan pengobatan.
"Pengobatan sudah selesai, tinggal menunggu beberapa saat sampai semua aliran darahnya menyebar dan otot-otot yang kaku bisa kembali.
Tiba-tiba Regina mendorong Vin hingga jatuh dan segera mengambil beberapa jarum yang ada di kaki Lusiana. Melihat apa yang dilakukan Regina, Ambar ingin sekali menendangnya. Segera saja Regina bangkit berdiri dan mengatakan jika Lusiana tidak akan sembuh melainkan akan memperparah keadaannya.
"Apa yang paman lakukan? Kenapa menampar ku? Aku hanya berusaha untuk untuk melindungi adik sepupuku. Aku tidak ingin dia menyakitinya."
Regina melakukan itu karena kondisinya sudah terdesak, jika Lusiana sampai sembuh, kesepakatannya untuk mendapatkan rumah dengan harga milyaran itu akan lepas dari tangannya. Oleh sebab itu Regina berusaha untuk mengacau agar rencananya tidak dihancurkan oleh vin.
Awalnya Regina mencari cara dan bekerja sama dengan orang lain agar Membuat kondisi Lusiana memburuk dan meninggal. Setelah itu semuanya akan menjadi miliknya. Namun sekarang dia dibuat ketar-ketir oleh Vindra, dan kesempatan untuk menjadi orang kaya akan lenyap dalam seketika jika rencananya gagal.
"Bisakah kamu jelaskan padaku dan Lusiana maksud dari semua perkataan mu itu? Sejak awal aku tidak terlalu perduli dengan apa yang kamu lakukan, bahkan aku malas untuk menegur mu. Tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Aku sudah tau apa tujuanmu sebenarnya, kamu sama sekali tidak memperdulikan sepupumu, kau hanya menginginkan rumah ini akan. Dan demi keserakahan, kamu rela melakukan apa saja bahkan ingin melenyapkan sepupumu hanya untuk harta kan," ucap Wisnu membuat Regina tercengang, Karena ternyata pamannya itu mengetahui semuanya.
__ADS_1
Billy pun mengambil kesempatan agar tidak disalahkan," Paman Regina yang memaksa ku untuk membantunya menyembuhkan Lusiana dan akan membiarkan aku tinggal bersamanya selama beberapa bulan, tapi jika Lusiana meninggal dia akan mendapatkan rumah yang bernilai milyaran dan aku akan mendapatkan bagian itu. Maafkan aku paman," ucap Billy dan malah membuat Ayahnya sangat marah.
Billy sekali lagi mendapatkan tamparan."Dasar anak tidak berguna... Pergi kamu dari sini, cepat pergi!" Usir Dokter Lin.
Dokter Wisnu menatap Regina," Aku beritahu padamu sekali lagi. Hari ini rumah ini akan aku berikan kepada dokter Vin, Karena dia sudah membantu Lusiana. Jangan harap kamu mendapatkan apapun dari kami."
"Tidak paman, kamu tidak bisa melakukan itu, aku ini kerabatmu sedangkan dia hanyalah orang lain. Jadi paman tidak bisa memberikannya kepada Vin."
"Kenapa tidak bisa? Aku sudah berjanji siapapun yang bisa menyembuhkan Lusiana akan mendapatkan rumah ini."
"Tapi dia tidak tau cara menyembuhkan. Dia membohongi mu paman, Lusiana tidak akan..." ucapan Regina terhenti saat melihat Lusiana bisa berdiri, walaupun masih berpegangan dengan kursi roda.
"Aku bisa berdiri,"ucap Lusiana dengan bahagia. Semua terkejut, tak menyangka jika Lusiana bisa berdiri lebih cepat.
"Jangan dipaksakan untuk berjalan, kamu masih harus istirahat di kursi roda selama beberapa hari dan minum obat dari resep yang akan aku berikan. Setelah itu kamu baru bisa mencoba untuk berjalan." Jelas Vin. Lusiana mengangguk paham dan menuruti kata-kata Vin. Kekaguman pada Vin terpancar jelas di matanya. Hal tersebut ternyata diperhatikan Ambar dan secara naluri Ambar segera meraih lengan Vin.
Regina yang melihat semuanya, ingin segera kabur, takut Dokter Wisnu membunuhnya saat ini juga. Namun saat Regini lari beberapa meter Vin tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu! Regina, jika kamu berhasil dengan kekasihmu Martin, tolong sampaikan padanya kalau kanker yang di idapnya sudah stadium lanjut. Dan jika kamu ingin mempertahankannya, segeralah membantunya untuk melakukan pengobatan. Atau jika tidak dia tidak punya banyak waktu untuk hidup. Jika dia meninggal, kamu harus mengembalikan semua investasi bar yang diberikan kepada keluarga Martin." Jelas Regina. Setelah itu Regina pergi secepat kilat tanpa menoleh lagi.
Setelah melihat Regina pergi, Vin kembali di kejutkan dengan Dokter Wisnu yang tiba-tiba berdiri di depannya dan membungkuk untuk mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih tuan Vin, kamu telah menyembuhkan cucuku Lusiana. Rumah kecil ini akan aku berikan padamu sesuai janjiku, begitu juga klinik yang kamu inginkan. Tapi rasanya itu tidak akan cukup. Aku sudah memutuskan, mulai sekarang aku akan menghormatimu sebagai guru." Dokter Wisnu membungkukkan badannya tiga kali sebagai penghormatan dan tak membiarkan Vin menyela kata-katanya.
__ADS_1
To be continued ☺️☺️☺️
Mohon maaf kalau authornya jarang update. 🙏🙏Otor lagi terkendala Sekarat kuota. Maklum tanggal tua🤣🤣 Jadi harap di maklumi. Akan normal update setelah tanggal muda.🤭🤭