Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 190


__ADS_3

Alisa sangat marah, ia mengharapkan bibinya Ningrum untuk membiayai uang semester, tetapi bibinya itu mengatakan tidak memilki uang banyak tapi uang yang seharusnya untuk dirinya malah diberikan pada sepupunya Vindra yang di anggapnya pengangguran.


Tidak hanya Alisa, Petrik pun sangat marah mendengar kata-kata itu.


“Mengapa kamu menggunakan uang yang Alisa untuk modal Vindra?” Petrik menunjuk Ningrum dan mengutuk. “Jika sampai Alisa tidak bisa membayar uang kuliahnya dan dia dikeluarkan, bisakah kamu memikul tanggung jawabnya? Dengan sikapmu yang begini apakah kamu menjadi layak di mata kami dan dimata Aryo yang menghilang? Kamu sangat mengecewakan aku.”


Ningrum hanya bisa menundukan kepalanya. “Kakak ipar maafkan aku jika kalian merasa dirugikan atas sikapku.”


Petrik menggebrak meja,”Aku tidak peduli, uang kuliah Alisa harus kamu berikan.


Arum mendengus, “ Vindra seorang yang berpendidikan, banyak pekerjaan yang bisa dia temukan, menjadi petugas keamanan, pelayan, dan masih banyak lagi, tidak harus menggunakan uang untuk modal.”


Ningrum gemetar karena marah, keluarga iparnya benar-benar keterlaluan dan tidak punya hati, mereka hanya memikirkan uang tanpa memikirkan perasaan dirinya dan juga putranya.


“Ibu jangan marah.” Saat melihat ibunya pucat karena marah, Vin buru-buru menghampiri untuk mendukungnya.


“Paman, Bibi, jangan bersikap terlalu jauh.”


“Kenapa? apa aku keterlaluan atau sebaliknya ibumu yang keterlaluan menggunakan uang Alisa untuk kamu? Dan kamu Vindra, kamu sudah dewasa kamu bisa mencari pekerjaan sendiri tidak harus mengharapkan uang ibumu untuk mendapatkan pekerjaan. Aku sangat membencimu, orang seperti kamu yang hanya mengandalkan ibumu. Apa kamu ingat? Kakek dan ayahmu pernah berpesan pada ibumu untuk membantu kami, jika kamu seperti ini, apakah kamu bisa menggantikan tanggung jawab ibumu?”


“Aku ingat, dan kakek juga bilang untuk membagi rata harta warisan. Tapi kenapa sekarang paman yang menguasainya dan tidak memberikan sepeserpun untuk ibu.” Saut Vindra dengan telak.


“Dasar bajingan. Kamu hanya anak pungut yang di ambil ayahmu. Kamu tidak berhak menanyakan harta warisan. Dasar tidak tahu malu.”


“Aku menanyakan hak ibuku, kenapa aku harus malu? Lagian selama ini sebagian penghasilan ayah diberikan pada keluarga besar, jika tidak keluarga Arafian akan hidup dalam kemiskinan.”


Melihat sikap Vindra yang sudah mulai berani, Ningrum segera menghentikannya. “Kakak ipar, jangan dengarkan kata-katanya. Vindra jangan berdebat dengan keluarga sendiri, tidak baik jika dilihat orang.”


Pada saat ini banyak pelangan dan pramuniaga melihat dan mereka penasaran dengan apa yang terjadi, bahkan ada yang mengambil foto mereka.

__ADS_1


Dibujuk sang ibu, Vindra hanya bisa menahan amarah. Kalau bukan ibunya yang menghentikannya Vindra pasti akan menguliti keluarga pamannya itu.


“Petrik, berhenti berdebat. Tidak ada yang perlu di perdebatkan dengan mereka. Orang yang tidak tahu akan mengira kita menindas anak yatim dan janda.” Melihat ada yang mengambil foto, Arum khwatir citra suaminya rusak, jadi dia memilih menarik suaminya.


“ Ayo kita beli villanya dulu, dan setelah itu kita makan siang.” Saat bicara Arum mengeluarkan kartu identitas dan kartu bank dan mengguncangnya seolah memamerkannya di depan Vindra.


Petrik pun akhirnya menahan emosinya setelah ingat tujuannya datang ke Per Garden untuk membeli villa.


“Ya, kita ingin membeli villa untuk masa depan Alisa dan Bima, kasihan sekali adik iparku ini sudah bekerja keras seumur hidup tapi untuk biaya anaknya saja tidak mampu, bahkan hanya bisa tinggal di rumah kontrakan kecil.”


Arum mencibir. “kamu benar –benar ibu yang malang yang tidak bisa memberikan sesuatu pada putranya.”


Wajah ningrum semakin meredup, dia merasa bersalah pada Vindra, “ya, aku sudah bekerja keras sepanjang hidupku, tapi aku tidak mampu membeli rumah ataupun kendaraan untuk putraku, malah menyeretnya untuk meminjam uang, aku memang telah gagal.”


“Ibu tidak gagal sama sekali.” Saut Vindra.


“Brengsek, kamu masih saja ikut bicara.”


Setelah selesai bicara, Arum segera menyerahkan kartu identitas dan kartu bank untuk membeli villa yang dia inginkan.” Aku bayar penuh.”


Pramuniaga itu sangat senang dan segera mengambil kartu tersebut. “baiklah Nyonya kami akan segera menyelesaikan formalitasnya untukmu.


Petrik dan keluargannya menunggu dengan sikap sombong.


Ningrum bisa merasakan bahwa semua orang sedang memandang rendah dirinya, meskipun sudah terbiasa tapi dia masih merasa tidak nyaman.


“Vindra, ayo kita pergi dari sini.” Selain tidak nyaman dia juga merasa bersalah pada putranya.


“Ibu, jangan merasa tidak nyaman. Ibu tidak berhutang apapun padaku. Justru aku sangat bersyukur ibu sudah membesarkan aku.” Vindra menjabat tangan ibunya. “Aku sudah dewasa dan aku juga sudah lulus dari perguruan tinggi. Sudah waktunya bagiku untuk membalas semua kebaikan dan pengorbanan ibu selama ini untukku.”

__ADS_1


“Vindra... “ Ningrum merasa hangat dengan kata-kata Vindra.


Alisa tidak tahan dan merasa kerjakeras Vindra hanya konyol. “Apakah kamu memiliki kemampuan untuk membelikan ibumu rumah?”


Beberapa pramuniaga menutup mulutnya menahan tawa, mereka pikir seorang yang hanya berjualan di pasar tidak akan mampu membeli salah satu villa di Per Garden.


“Kamu, kemari, aku ingin membeli villa ini.” Panggil vindra sambil menunjuk salah satu gambar yang ada di buku promosi. “ Villa yang hargannya sepuluh miliar, aku akan bayar penuh.” Vindra lalu mengeluarkan kartu identitas dan kartu bank dan menyerahkannya pada salah satu pramuniaga itu.


Semua yang ada disana tercengang, menatap Vindra dengan tidak percaya. Kemudian mereka berpikir Vindra hanya berpura-pura.


Keluarga Pertik mencibir, jangankan sepuluh miliar seratus ribu saja mereka sulit mendapatkannya.


Beberapa pramuniaga menertawakan Vindra, bahkan mereka tidak mau melayaninya bahkan menganggap buang- buang waktu.


Tapi salah satu pramuniaga yang mendekati Vindra bicara ragu-ragu, “ tuan apakah tuan benar-benar ingin membelinya?”


Ningrum segera menarik Vindra dengan senyum masam, “Nak ayo pergi.”


Vindra memandang pramuniaga itu, “pergi dan gesek kartunya, dan siapkan formalitasnya.”


Pramuniaga itu masih ragu, tapi tetap pergi untuk mengeceknya.


Setelah menunggu sebentar, pramuniaga itu bernafas cepat seperti ada sesuatu yang mengejutkannya, lalu dengan buru-buru mengembalikan kartu identitas dan kartu bank kepada Vindra. “ Tuan Vindra... Maaf, anda tidak bisa memeli villa ini. Kartu ini tidak berfungsi...”


Mendengar ucapan pramuniaga itu, keluarga pertik, pengunjung bahkan beberapa pramuniaga yang lain menertawakan nya.


“Aku tahu bahwa tidak ada uang di kartu bank itu, tapi dia berpura-pura membelinya, tapi sekarang ketahuan kan kalau itu hanya bohong, benar- benar memalukan.”


“Tidak...Tidak....” pada saat ini pramuniaga pria datang dengan terengah-engah, “Tuan Vindra tidak kekurangan uang, itu terjadi karena dia memiliki villa Peach Blossom 1 atas namanya, dia dilarang membeli villa yang lain.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2