
Setelah mendapatkan telepon dari Sifa, Vin bergegas menjemputnya. Jarak antara restoran dan bank yang lumayan jauh, membuat Sifa harus menunggu lebih lama.
Saat keluar dari bank tak sengaja Sifa bertemu dengan asisten Citra yang merupakan asisten pribadi ketua cabang bank ke dua dan sekaligus teman Sifa.
" Kamu di sini Sifa?" tanya Citra.
"Iya, Aku baru selesai melakukan pengajuan pinjaman. Kamu kerja disini?" tanya balik Sifa.
" Iya aku asisten pribadi ketua cabang. Terus sekarang nunggu apa lagi?"
"Aku menunggu Vin menjemput," jawab Sifa
"Laki-laki itu?! jadi kamu masih dengannya?" tanya citra yang tidak menyukai Vin.
Tidak hanya citra, siapapun teman dekat Sifa tidak ada yang menyukai Sifa bahkan selalu berharap Sifa segera berpisah. Karena sejak awal mereka menganggap Vin hanyalah laki-laki tidak berguna dan hanya mengandalkan Sifa.
Tak lama kemudian Vin pun sampai dan langsung menghampiri Sifa yang sudah menunggunya. Melihat kedatangan Vin, Citra langsung memalingkan wajahnya, tak ingin melihat wajah vin, bahkan tak sudi untuk bicara. Namun Vin tak perduli selama bukan Sifa yang melakukannya.
"Maaf, aku sedikit terlambat untuk menjemputmu." Vin menyatukan kedua telapak tangannya minta maaf dan berharap Sifa tidak marah.
"Tidak masalah, aku juga baru selesai dan kebetulan bertemu dengan Citra jadi tidak terasa kalau aku menunggumu." Jelas Sifa
"Hai Citra." Sapa Vin. Namun Citra tak menggubris. Sifa segera mengalihkan perhatian dengan memanggil Vin.
"Vin... ." panggil Sifa.
"Eeemmm." saut Vin dan kembali fokus dengan Sifa.
__ADS_1
"Masalah di bank tadi, bagaimana kamu bisa mengenalnya?" tanya Sifa ragu. Sifa penasaran karena yang dia ketahui, Romeo sangat sulit di temui, beberapa kali Sifa ingin bertemu dengannya untuk membantu pengajuan pinjaman, tapi tak pernah bisa bertemu sedangkan Vin begitu mudah bertemu bahkan Romeo sendiri yang mencarinya.
"Maksudmu Tuan Romeo? nyonya Ambar yang memperkenalkan aku dengannya." jelas Vin membuat Sifa mendengus dingin.
Sifa menyadari kalau ternyata hubungan Vin dan Ambar sudah begitu dekat. Dengan Vin tidak mendengarkan kata-kata dirinya untuk tidak mengandalkan Ambar sudah membuktikan jika kata-katanya tidak terlalu penting. Namun Sifa berusaha menutupi rasa cemburu itu dengan bersikap dingin seolah tak perduli.
"Begitu ya. Lalu bagaimana bisa tuan Romeo yang merupakan pemilik saham terbesar di perusahaan perbankan ini menganggap kamu begitu penting bahkan demi kamu dia rela memecat ketua bank cabang satu berserta bawahnya hanya demi kamu?" tanya Sifa yang akan terus bertanya sampai dia menemukan jawabannya.
Di sisi lain, citra masih menguping pembicaraan mereka berdua dan berfikir kalau selama ini Vin masih bergantung hidup dengan Sifa.
"Menjijikkan." gumam Citra di tengah obrolan pasangan suami istri tersebut.
Mendengar pertanyaan Sifa, Vin pun terpaksa berbohong lagi, ia tidak mau Sifa tau kalau sebenarnya dirinya mengobati orang lagi. Mungkin kebohongannya tidak akan berpengaruh bagi Sifa toh dia juga tidak tau.
"Eemmm itu, Aku tidak sengaja melihat nyonya Dewi menyebrang jalan dan tidak melihat dari arah lain ada kendaraan, hampir membuat dia tertabrak. Untung saja aku bisa menyelamatkannya tepat waktu dan nyonya tidak Dewi tidak terluka. Makanya suaminya ingin berterimakasih padaku. " Jelas Vin tapi malah membuat Sifa mengerutkan keningnya merasa seolah-olah cerita Vin di besar-besar kan biar dirinya seperti seorang pahlawan.
"Apa aku terlalu berlebihan ceritanya, He... He... maaf. Oya bagaimana, apa urusannya sudah selesai? Lain kali kalau kamu ada masalah, jangan sungkan untuk memberitahuku. Aku masih suamimu, masalah mu adalah masalah ku juga, kalau kamu ada masalah aku pasti akan membantumu dan selalu mendukungmu."
"Terimakasih sudah perhatian, tapi aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri." jawab Sifa yang masih kekeh tidak mau merepotkan Vin.
Lagi-lagi Citra mendengus kesal, melihat keakraban keduanya. Melihat mereka Citra begitu jijik. Entah apa masalahnya, tapi Citra tak suka melihat Vin bersama dengan Sifa.
Saat Vin dan Sifa ingin masuk kedalam mobil dan ingin pergi, tiba-tiba beberapa mobil menghadang. Beberapa preman keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan Angga dan juga Bisma muncul menghadang Mereka. Mereka ingin balas dendam kepada Vin atas apa yang dilakukannya hingga membuat mereka di pecat dan mengalami patah kaki walaupun tidak begitu parah.
Sifa yang paham tujuan mereka menghadang menjadi panik dan meminta kepada Citra untuk segera menghubungi polisi.
"Kalian tenang saja, aku akan menyelesaikan masalah ini. Tidak perlu lapor polisi, aku bisa menyelesaikannya." tahan Vin agar Citra tidak menghubungi polisi.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila, lihatlah para preman itu. jika dia menghajar mu, maka habislah kamu. Eh tapi tidak papa lah, aku tidak akan menghubungi polisi." Saut Citra, membuat Sifa terkejut saat genting seperti ini, Citra malah ingin mengumpankan suaminya.
"Citra, apa yang kamu lakukan. Cepat hubungi polisi, aku merasa mereka ingin melukai Vin."
"Suamimu yang meminta aku tidak menghubungi polisi. Bujuk saja suamimu lebih dulu." Saut Citra dengan ketus. Karena kesal, Sifa pun mengambil ponselnya dan ingin segera menghubungi polisi namun Vindra menahannya dan meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
"Tidak perlu Sifa, aku bisa mengatasinya. Lebih baik kamu dan citra pergi dari sini, biar aku selesaikan urusan ini dengan tenang!" perintah Vin dan Sifa mengangguk lalu pergi menjauh bersama citra.
Vin berhadapan dengan Angga dan juga Bisma dengan maksud menantang.
"Hari ini kamu pasti mati, tak akan aku biarkan siapapun yang sudah berani mengusik ku, hidup dengan tenang. Dan aku pastikan Tuan Romeo tidak akan bisa membantumu lagi," ucap Angga dengan sombong.
Vin menggaruk pelipisnya pelan, "Sekarang siapa di antara kita yang pecundang, aku atau kamu? Aku berani melawan mu sendiri tapi kamu beraninya bawa pasukan. Kalau kamu berani kita selesaikan satu lawan satu itu namanya pejantan, bukan banci yang berlindung di belakang." sindir Vin.
"Kau-" dengan geram Angga menunjuk Vin. Karena tak terima di Angga banci. Angga pun langsung menyerang Vin lebih dulu. Angga mengepalkan tangannya dan memberi serangan tinju namun sayangnya begitu mudah di hindari Vin.
"Brengsek, kalau berani lawan aku, jangan menghindar saja." Angga pun menyerang kembali dan langsung tinjuan itu di tangkap dengan mudahnya. segera saja Vin langsung memutar tubuh Angga dengan sekali gerakan dan mengunci tangan Angga ke belakang punggungnya sendiri. Angga meringis kesakitan, setiap umpatan yang di keluarkan Angga semakin Vin menekannya.
"Lepaskan aku brengsek."
"Oh, ingin di lepaskan!? baiklah aku akan melepaskan kamu." Vin melepaskan Angga dan menenangkannya dengan sekali tendangan, nggak membuat Angga jatuh ke pelukan Bisma yang sedari tadi masih memperhatikan, karena belum mendapatkan perintah.
"Tuan tidak papa?" tanya Bisma sambil membantunya.
"Aku ingin dia mati dengan cara yang sadis!" perintah Angga dan Bisma pun mengangguk paham.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1