
Beberapa master membungkuk untuk memeriksa stupa itu, dan kemudian mereka mengulurkan tangan satu persatu. "Coba aku lihatnya, biarkan aku melihatnya, berikan padaku..."
Gultom terkejut. "Pagoda ini hanya sampah. Apa bagusnya?"
Tuan Soni mengabaikannya dan menyeka menggunakan lengan bajunya untuk membersikan kotoran. Setelah itu meletakkan kembali di atas meja dan menuangkan secangkir air panas.
Boom
Pagoda itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras, menyala, dan air panas tersebut langsung menjadi uap. Kabit mulai tipis, cahaya mengalir, dan pagoda berbagai bentuk berkedip.
Tuan Soni langsung menjatuhkan diri dan berlutut."Ini adalah pagoda hujan berkabut, dari kerajaan selatan."
Tubuh Gultom terguncang. "Ini pagoda hujan berkabut dengan nilai 700 juta?"
Master yang lain juga ikut berteriak. Mereka saling mendekati seolah-olah ingin memilikinya. Namun karena takut pagoda itu rusak, Tuan Soni menyekanya dengan baju mahalnya dan segera meletakkan kembali ke atas meja.
"Tuan Gultom, jual pagoda ini padaku aku akan membayarkan sembilan ratus juta."
"Berikan padaku aku akan membayarnya satu milyar."
"Berikan saja padaku aku akan membayarnya satu setengah milyar," ucap tuan Adam yang menawar dengan nilai tertinggi.
__ADS_1
Miranda dan Mateo tercengang, mereka tidak percaya pagoda kotor itu memiliki harga satu setengah milyar, jauh lebih mahal ketimbang batu giok berdarah.
Kali ini Gultom merasa malu, dan ingin sekali minta maaf pada Vindra. Dia tidak menyangka pagoda itu nilainya sangat tinggi.
Sifa gemetar, tangan dan kakinya dingin. Hatinya sakit tanpa alasan.
"Kakak Ipar... Kakak ipar..."
Sebelum Miranda dan yang lainnya dapat berbicara, orang lain muncul.
Naura Bakti bergegas masuk dengan rambut acak-acakan, langsung memeluk paha Sifa dan menangis tersedu-sedu.
"Kakak tolong, biarkan kakak ipar ku membantu, biarkan dia bicara dengan Piter Santoso dan berikan ibuku jalan keluar. Dia sangat menyedihkan di tahanan, tidak enak makan, dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Vindra, saudara iparku, bisa membantu membebaskan bibi Miranda, dia juga pasti bisa membebaskan ibuku. Tolong katakan pada Vindra untuk membantu ibuku. "Naura menangis dengan tragis.
"Apa? Fendi?" Dia berteriak pad Fendi untuk mengkonfirmasi.
Mateo bergema." Iya, apa yang dilakukan Vindra jika dia membantu?"
"Sial."
Naura menegur Fendi."Jika kamu tidak ingin membantu, katakan saja Fendi sialan. Bisakah kamu mengobati keracunan nyonya Santoso?"
__ADS_1
"Kebetulan aku dirawat di rumah sakit kemarin. Aku melihat orang tua Fendi datang untuk menjenguk. Tapi Dominic mengusir mereka. Asal kalian tahu, yang menyembuhkan nonya Santoso itu adalah Vindra dan yang membebaskan bibi Miranda adalah dia. Bahkan Vindra mengubah biaya pengobatan yang diberikan piter Santoso menjadi kompensasi untuk bibi Miranda." Jelas Naura.
Semua terdiam. Kata-kata Naura menghantam keluarga Gultom bagai pisau.
Miranda benar-benar tidak percaya, dan tidak berfikir dirinya benar-benar diselamatkan oleh Vindra.
Gultom melihat kebelakang, dan melihat Sifa sudah menangis.
***
Disisi lain, Vindra duduk di bar dan minum sendirian. Dia menceraikan Sifa dan akhirnya dia mendapatkan kebebasan. Dia tidak lagi harus dicemooh keluarga Gultom, tapi dia juga merasa kecewa.
Dulu saat dia masih kecil, saat dia kelaparan dan kedinginan, Sifa menyelamatkan dirinya. Dia bersumpah, akan membalas semua kebaikan Sifa.
Secara kebetulan dia menikah dengan Sifa. Vin sangat senang, dan berharap bisa membuat Sifa bahagia. Vin masuk keluarga Gultom dengan cinta dan bersedia menjadi budak, meskipun pada akhirnya dia ingin mematahkan kepala mereka.
Mata acuh tak acuh saay memandangi surat cerai, membuat Vindra menertawakan dirinya sendiri dan kemudian dia menuang anggur kedalam gelas lagi.
Vin memesan beberapa botol anggur merah, Beberapa botol untuk masa lalunya dan beberapa botol untuk hari esok. Dia berharap saat bangun esok, dia sudah melupakan Sifa dan kembali hidup normal.
Tidak jauh dari saja, Andre dan Asraf merokok sambil menggelengkan kepala saat mengawasi Vindra.
__ADS_1
Mereka tidak tau apa yang terjadi pada Vindra, tapi mereka dapat melihat Vindra sedang marah. Mereka tahu, mereka tidak bisa memberi saran, dan mereka hanya bisa menghubungi seseorang.
To be continued 🙂🙂🙂