
Melihat rekannya mati mengenaskan, ketiga pria itu pun hendak menyerang. "Jangan diam saja, cepat-" Belum selesai salah satu dari mereka memberi perintah, Vin sudah mematahkan belati menjadi tiga bagian dan detik berikutnya patahan belati itu berdesir saat di tembakkan.
Mereka hendak menyerang, tapi berlahan mereka menyadari patahan belati itu menyegel tenggorokan ketiga pria secara bersamaan dan seketika darah mengucur dan langsung roboh.
Vin tak memperdulikan mereka, dia langsung menghampiri paman Dom, untuk membantunya.
Dom terbaring di tanah, wajahnya pucat, saat melihat aksi yang dilakukan Vin.
Dom tau, Vin memiliki kekuatan satu melawan seratus. Tapi dia bisa mengalahkan mereka yaitu para pembunuh kelas satu yang berada di bawah kekuasaan Draco dalam waktu sekejap.
Vin mengabaikan apa yang dipikirkan Dom, dia lebih fokus untuk mencabut anak panah beracun yang menancap di tubuhnya. Segera saja Vin menusukkan jarum perak di berapa titik. Setelah itu darah hitam mengalir keluar. Vin segera membantu memulihkan tangan Dom yang terkilir.
"Darah sudah berhenti dan racun sudah di keluarkan. Aku akan memberikan resep nanti. Pulang dan istirahat beberapa hari, maka paman akan baik-baik saja."
"Apa? Aku bisa pulih? apa racunnya dipaksa keluar? Bagaimana ini bisa terjadi? selam ini yang aku tau, cidera seperti ini, setidaknya butuh lima sampai enam bulan untuk bisa pulih. Tapi setelah aku membuktikannya sendiri. Aku yakin tuan Vin memanglah Dokter genius." Gumam Dom saat itu juga.
Dom yang awalnya hanya mengagumi, kini dia ingin berteman dekat dengan Vin. Selain karena Vin sudah menyelamatkan dirinya, Dom melihat keterampilan medis dan juga kemampuan dalam berperang, membuatnya yakin dan menilai Vin dimasa mendatang akan berada di puncak.
"Tuan Vin, jika kamu ada masalah jangan segan untuk menghubungiku. Aku akan selalu siap untuk membantu,"ucap Dom.
"Terimakasih, ini hanyalah masalah sepele. Oya omong-omong, apakah paman memanggil seseorang untuk menjemput paman? ataukah paman ingin pergi bersamaku?" tanya Vin.
"Aku akan pergi bersamamu." Dom melihat sekeliling. " Ini tempat yang paling mengerikan di Gunung Batu."
__ADS_1
"Mengerikan?!" tanya Vin pemasaran.
"Gunung batu, tempat yang tidak menyenangkan, apalagi di puncaknya. Keluarga Gultom memulai pembangunan di sini dan membangun tiga puluh enam Villa. Ketika mereka hendak menjualnya, mereka menemukan mayat wanita berada di ruang bawah tanah."
"Tiga puluh enam Villa yang dibangun. Setiap ruang bawah tanah di temukan peti mati dan semuanya adalah wanita." bisik Dom pada Vin dan langsung bergidik.
"Tuan Vin, ayo pergi dari sini, hari sudah semakin gelap ..." Belum selesai dom bicara, dom melihat Vin sudah melarikan diri. Dengan menahan rasa sakit, Dom bergegas mengikuti di belakang.
Dalam perjalanan pulang, Vin mengobati kembali Dom, sambil bertanya beberapa pertanyaan.
"Apa yang terjadi padamu? dan siapa mereka?" tanya Vin.
"Sembilan tahun yang lalu, seorang pria bernama Raul Draco datang ke kota ini untuk berbisnis. Dia sangat terampil, kaya dan juga mempu membuat orang percaya. Dia bersikap sangat baik dan menginginkan puncak Gunung Batu sebagai puncak bisnis. Tapi setelah dia memiliki banyak pendukung, dia mulai bertindak semena-mena.
Dalam tiga tahun yang orang yang ada di industri shipping menghancurkan. Mengacaukan ketertiban darat dan bawah tanah. Hingga membuat orang kaya dan perusahaan memilih untuk pindah ke kota lain.
Tuan Dewa dan Ambar tidak tahan dan mereka bersekutu untuk mengepung dan menekan grup Draco. Dalam semalam Raul Draco dari dewa berubah menjadi tahanan dan seluruh antek Draco di lenyapkan.
Saat akan menjalani persidangan, mobil yang digunakan untuk membawa Draco di hadang dan kemudian dia menghilang tanpa jejak.
Setelah enam tahun, tidak ada kabar tentang Draco, kami semua hampir melupakannya. Namun dia sekarang muncul dan akan menghancurkan semuanya." jelas Dominic.
"Ada desas-desus di akan datang untuk menagih hutang berserta bunganya yang sudah dia pinjaman ke pengusaha-pengusaha yang pernah percaya padanya." Dom tersenyum pahit.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak membunuhnya secara langsung?" tanya Vin.
"Menurutmu, apakah tuan dewa dan yang lain mengizinkan kami melakukan itu? Dibelakang Raul Draco masih ada jagoan besar yang melindungi Draco. Kami tidak ingin di adili dan kamu juga tidak ingin di gantung sebagai ganti hukuman. Karena mereka lebih berkuasa.
"Seperti orang-orang di belakang Draco, tidak mudah membuatmu terintimidasi." Saut Vin.
"Tidak sederhana, tapi itu tidak bisa. Sangat sulit menjatuhkan orang-orang yang ada dibelakang layar. Yang terpenting saat ini segera menemukan Draco dan segera membunuh." jelas Dom sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Sepertinya serangan ku dan Ambar hanyalah sebuah gertakan. Dan sekarang dia ingin mengacaukan semuanya dan dia ingin mengacaukan semuanya.
Vin menghela nafas, "Sepertinya lebih baik menjadi dokter. Arena Bisnis terlalu megah dan berbahaya."
Dom tertawa, mendengar kata-kata Vin Barusan. Vin tidak membantah, jika Ambar tidak memiliki kekuatan, tidak mungkin Vin bisa berdiri seperti sekarang.
"Paman, kamu aku antar ke PBI atau ke rumah sakit?" tanya Vin.
"Antar aku ke Istana kekaisaran."
"Mobil pun segera meluncur, menuju tempat uang dimaksud, yang berada di kawasan Landakmark, yang merupakan tempat berdirinya restoran, dan gedung-gedung perkantoran.
melihat Dom yang masih lemah, Vin pun berinisiatif untuk membantunya masuk lift lantai pertama.
Setelah membantu paman Dom. Vin membawa Romi ke salah satu restoran. Sesampainya disana, mereka segera memesan Steak dan hendak memesan alkohol, namun seketika mata mereka melihat Martin, Regina dan Riana Wiston.
__ADS_1
To Be continued ☺️☺️