
Mereka akhirnya sampai di rumah teh Ex. Dominic tetap di dalam mobil, namun yang lain keluar dengan menggunakan topeng. Pada saat itu dari arah lain Black dan Martin muncul, dan dengan tenang mereka ikut bergabung.
Vindra segera keluar dari dalam mobil dan mengajak semuanya untuk pergi ke lantai tiga. Sebelumnya mereka menerima informasi jika Wiliam Wells saat ini berada di lantai tiga bersama dengan teman-temannya minum teh bersama.
Ada tiga anak buah Wiliam yang berdiri di ujung tangga. Saat melihat kemunculan Vindra, ekspresinya langsung berubah.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Tanpa bicara, Vindra langsung melangkah mati menendang pengawal yang berada di tengah. Black meraih kedua yang lainnya dan langsung menghantamkan kepalanya ke pegangan tangga. Seketika datang langsung menyembur keluar, membuat mereka langsung jatuh ke tanah dan lemas.
Vindra segera mengeluarkan dua pistol dan langsung menembak ke segala arah. Di tengah suara tembakan, semua orang menjadi ketakutan dan segera pergi. Pada saat itu juga Vindra sudah menguasai sebagian area.
Setelah semuanya pergi dan sudah di kuasai, Vindra melemparkan pistol tersebut ke dalam pot bunga. Martin segera mengambil pistol itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Pergi!" Vin segera memerintahkan bawahan untuk mengikutinya ke lantai tiga dimana Wiliam berada.
Brakk....
Pintu di tendang. Langsung terlihat jelas, wajah-wajah para pria dan wanita yang tengah berkumpul termasuk Wiliam Wells.
"Vindra bodoh, kamu sudah menikam orang di KVT. Aku yakin kamu tidak akan bisa keluar hidup-hidup."
"Wiliam Wells, kita bertemu lagi." ucap Vindra dengan sedikit terangkat.
"Diam!" perintah salah satu dari mereka.
Vindra sama sekali tidak takut, dia malah melangkah maju, mendekati Wiliam.
"Keluar!" perintahnya lagi.
Tanpa menunggu instruksi, Black maju dan langsung menikam perut lawan dengan pisau. Kemudian dia berhenti sejenak. Lalu tiba-tiba dia memutar pisau tersebut hingga darah segar langsung memercik keluar dari perut pria beranting-anting tersebut.
Pria beranting-anting itu segera berteriak, namun Black semakin di tekan dan di pelintir. Seketika laki-laki itu roboh dengan pisau masih di perut. Tanpa sadar membuat para wanita yang ada di tempat tersebut berteriak ketakutan.
Lima pria menarik mundur kursinya untuk berjaga, sedangkan Regina dan Riana yang berada di tempat tersebut segera berpindah ke belakang William untuk mencari aman.
__ADS_1
"Vindra, jadilah sedikit lebih bijaksana. Melarikan diri dari penjara itu adalah kejahatan besar, apalagi karena menikam seseorang, seharusnya kamu tetap diam di penjara. Jika kamu tertangkap, hukuman mu bisa diperberat," ucap William lalu melemparkan ponselnya pada regina untuk segera menghubungi polisi.
"Cepat beritahu polisi, dan katakan ada seseorang yang melakukan penyerangan disini."
Sambil bicara, Wiliam mengambil secangkir teh panas, lalu menatap Vin dengan penuh minat, mencibir, dan menyeruput teh perlahan, dengan sombong dan arogan.
"Jangan bicara omong kosong, Kata Leo Ederson, kamu yang menghasutnya dan bertindak atas Sifa." Vindra sama sekali tidak bersikap sopan pada Wiliam Wells, " Kamu baru saja menjawab pertanyaanku, bukan?"
"Iya, itu aku. Di restoran, malam itu kamu menamparku. Aku marah dan kesal, aku pun berencana balasmu."
"Kalau begitu, kamu datang padaku. Apa maksudmu dengan menyerang wanitaku?" kata Vin dengan samar.
"Membuang mu, itu membosankan. Hancurkan Sifa di depan matamu, itu akan lebih menyenangkan dan ini baru permulaan."
Vindra mengangguk pelan, "Kamu mau menantang ku?"
Wiliam tersenyum tanpa komitmen. "Vindra, kamu jangan terlalu percaya diri. Aku memberitahumu bahwa polisi sebentar lagi datang. Kamu telah lari dari penjara, dan menikam seseorang. Lebih baik pikirkan bagaimana kamu berurusan dengan polisi."
"Jangan khawatir Wiliam Wells, kamu akan sial lebih dulu sebelum polisi sampai sini. Kamu berani menyentuh wanitaku, tak akan aku biarkan kamu hidup tenang." saut Vindra.
Dengan tatapan arogan, dia mengeluarkan cerutu dan mengkliknya dengan sembarangan, menatap Vin dengan jijik dimatanya.
Tanpa Dewa Marlin di sana, Dia bisa menginjak Vindra hingga lumpuh.
Tiba-tiba Vindra maju dan langsung menampar wajah Wiliam Wells.
Plakkk...
Lantang dan renyah.
Vindra menampar Beberapa kali, cerutu Wiliam Wells terbang tertiup angin dan Pipinya langsung memiliki tanda merah.
Vin tidak berhenti menampar Wiliam,
"Kamu bilang tidak bisa di provokasi? Kamu pikir kamu siapa? Sang Dewa? Dimata ku kamu tidak berbeda dengan sampah, keluarga Wells adalah tumpukan sampah. Percaya atau tidak aku akan menikam mu." Vin pun langsung menendang Wiliam penuh dengan emosi.
__ADS_1
Wiliam Wells mendengus, saat tubuhnya terpental beberapa meter dan membuat meja di belakangnya berantakan.
" Berani sekali kamu menyerang ku dan menamparku?" William Wells berusaha bangkit dengan penghinaan dan kemarahan diwajahnya. "Vindra, kamu selesai, kamu benar- benar selesai kali ini. Di restoran saat itu kamu bisa menggertak ku, tapi kamu tidak bisa menggertak ku disini. Tidak ada yang mendukung mu disini. Bahkan jika Dewa Marlin ada disini aku akan tetap bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Vin tak perduli, dia mengambil handuk kecil yang ada di atas meja untuk menyeka tangannya "Jangan gunakan tuan Marlin, tanpa dia aku pun bisa menggertak mu."
"Ha...Ha..., ya, selama bertahun-tahun tidak ada yang berani bilang begini padaku" Wiliam Wells tersenyum tanpa marah, lalu memutar bahu dan juga lehernya, mengendurkan tulangnya dan bersiap memberi Vindra pelajaran.
"Vindra, kesombongan mu dan ketidaktahuan mu mengejutkan kami. Aku beri pilihan, potong kamu, dan kirim Sifa ke tempat tidurku. Aku memberi pilihan untuk kamu bertahan hidup untuk saat ini. Jika tidak kamu akan seperti cangkir ini." Wiliam Wells menghancurkannya cangkir yang ada di tangannya sambil tertawa penuh kesombongan.
"Vindra, aku sarankan kamu berlutut sekarang juga sebelum terlambat. " Regina pun angkat bicara.
"Dewa Marlin dan Dominic tidak akan bisa membantumu saat ini. Jika tuan Marlin tidak bisa membantumu, orang biasa seperti kamu akan menjadi mainan bagi tuan Wells dan bisa membunuhmu hanya menggunakan satu jarinya." Teriak Regina yang sudah tidak tahan melihat sikap Vindra. Namun sayangnya Vindra hanya mencibir semua perkataan Regina.
Wiliam Wells melangkah maju dengan penuh penghinaan.
"Sudah aku katakan, aku akan membunuhmu hanya dengan satu kepalan, dan hati ini aku akan menunjukan kepadamu."
Wiliam Wells, melayangkan pukulan vajra, pukulan yang tidak langsung membuat mati tetapi mematahkan tulang dalam tubuh. Namun sayangnya Vindra lebih cepat bertidak sebelum Wiliam menyerang. Sebuah tamparan dan tendangan seketika membuat Wiliam Wells terpental menabrak meja di sisi lain hingga patah dan berantakan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dan wajahnya merah dan bengkak.
William Wells penuh dengan kemarahan, dia awalnya ingin menghancurkan Vindra namun sebaliknya dia yang di hancurkan." Kamu berani menyerang ku!"
Vindra tak banyak bicara, dia melangkah maju dan menampar Wiliam Wells lagi dan lagi dan saat Wiliam berusaha melawan Vindra pun menendangnya dengan kuat hingga Wiliam Wells tersungkur dan menyemburkan seteguk darah.
Satu kaki Vindra menginjak punggung Wiliam Wells. Wiliam Wells berusaha bangun namun dia tidak memiliki kekuatan, semakin Wiliam berusaha semakin kuat injakan kaki Vindra di punggungnya.
To Be continued ☺️☺️☺️
Author Dina Auliya sekeluarga mengucapkan
🕌Selamat Hari Raya Idul Fitri -1 Syawal 1444H- buat semua readers
Minal Aidin Wal Faizin
Mohon maaf lahir dan batin 🧕🙏
__ADS_1
Jika ada salah dan khilaf saat balas komentar ataupun ada kata-kata yang menyinggung perasaan para reader, Author mohon di maafkan ☺️