Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 160. Tumpah Ruah


__ADS_3

Raditya memiliki kebencian pada Johan. Jika bukan karena Johan yang mengatakan bahwa Vindra adalah menantu tidak berguna, mungkin dia tidak akan terlalu ceroboh.


"Biarkan dia pergi." Perintah Vindra yang melihat Johan sudah babak belur.


Raditya pun memberikan satu tendangan lagi. "Ingat, jika kamu membuat tuan Vindra tidak senang, maka seluruh keluarga mu akan menderita." Gertak Raditya sebelum membiarkan Johan pergi.


Johan pergi sambil memegangi perutnya. Saat ini yang Johan pikirkan adalah segera pergi sebelum dia benar-benar kehilangan nyawanya. Melihat Johan pergi, Tesa melangkah dua langkah untuk mengikuti, namun pada akhirnya dia memilih untuk berhenti diantara staf yang lain. Vindra tidak mengusirnya, itu artinya Vin masih memberikannya kesempatan, alasan itulah yang membuat Tesa memutuskan untuk tetap bertahan dan membiarkan Johan pergi.


Setelah mengusir Johan. Dewi memerintahkan semuanya untuk kembali bekerja. Dia mengundang Raditya dan Vindra ke ruang pertemuan yang mewah.


Tesa berinisiatif mengantarkan teh dan makanan ringan. Hal yang tak pernah Tesa lakukan selama berkerja, kini harus dia lakoni untuk mengubah pemikiran Vindra tentang dirinya.


"Tuan Vin, Johan sangat kurang ajar, jika tuan Vin menginginkannya aku akan membunuhnya." ucap Raditya yang memilih tetap berdiri sebagai tanda hormat untuk Vindra." Jika bukan karena dia tadi malam, aku tidak akan menyinggung mu."


Vin menatap Raditya dan tersenyum. "Masalah tadi malam sudah berlalu, jangan dibahas lagi. Adapun beberapa kata yang aku katakan padamu, syukurlah kalau kamu mau mendengarnya. Mulai sekarang jangan melakukan intimidasi baik pada pria maupun wanita dengan semena-mena," ucap Vindra.


"Tuan Vindra jangan khawatir, aku pasti akan berubah." jawab Raditya sambil tersenyum cerah. Lalu dia segera melambaikan tangannya pada bawahannya. "Cepat ambilkan hadiah yang akan aku berikan pada tuan Vindra." perintah Raditya .


Seorang bawahan segera maju dan membawa kotak hitam, lalu membukanya, dan ternyata kotak hitam itu berisi barang antik.


"Tuan Vindra ini Tumpah Ruah dari kerajaan selatan. Mengetahui dari ayahku, jika tuan akan mengambil alih Star farmasi, aku pergi ke toko barang antik untuk membelikan ini untukmu." jelas Raditya .


Raditya menggosok tangannya dengan gelisah." Ini sebagai sedikit bentuk permintaan maaf, aku harap tuan mau menerimanya."


Vin menyipitkan matanya dan mengulurkan tangannya dan mengambil tumpah ruah kecil itu untuk melihatnya. "Berapa harganya?"


Raditya tertawa, "itu tidak mahal, hanya 250 juta."

__ADS_1


Vin menyentuh dengan jarinya lalu tersenyum tipis, "Pemiliknya sangat patah hati."


Raditya tercengang. "Apa maksud tuan? Apakah barang ini palsu? Aku memiliki hubungan baik dengan manager toko antik Tritan. Aku telah berbisnis berkali-kali dan harganya lebih murah dibanding dengan rekanku yang lain. Tuan Vin mengapa kamu mengatakan bahwa pemiliknya terkutuk?"


Sebelum Raditya selesai bicara, Vindra maju selangkah dan langsung membantingnya. Diiringi suara keras, tumpah ruah itu terbelah dan sesuatu terlihat dari dalam tumpah ruah yang terbuka.


Sebuah boneka dengan baju pengantin hitam, berdarah, dan terlihat mengerikan. Aroma busuk pun seketika menebar di ruangan.


Raditya dan yang lain langsung menutup hidungnya karena bau itu. Tubuh mereka seketika merinding.


Bagaimana tidak, sebuah tumpah ruah berisi boneka yang berdarah. Tentu itu akan membuat orang ngeri.


"Benda apa ini?" tanya Dewi sambil menggosok hidungnya karena baunya yang aneh.


"Boneka ini sebelumnya sudah dendam oleh darah. Dengan begitu tumpah ruah ini menjadi wadah menampung roh jahat. Siapapun pemiliknya akan mengalami nasib buruk. Lebih sederhananya, Bisnis akan gagal dan keluarga akan hancur." Jelas Vindra.


Dewi dan yang lainnya tercengang, kemudian memandang Raditya Santoso.


"Aku tahu ini tidak ada hubungannya denganmu." Jawab Vin lalu mengambil botol dan menyiramkannya ke atas boneka tersebut dan ingin membakarnya.


Api segera menyala dan menyambar alkohol, namun anehnya boneka itu sama sekali tidak terbakar. Kobarkan api hanya membakar sekitaran saja.


Raditya tidak percaya, dengan begitu banyak alkohol yang di tuangkan, sama sekali tidak bisa membakar boneka itu. Boneka itu terbuat dari kayu, seharusnya boneka itu terbakar.


Vin segera mengambil jarum perak dan membaca mantra, lalu menusuk hati boneka tersebut.


Seketika alkohol menyebar dan boneka itu dilahap api, yang akhirnya menjadi abu.

__ADS_1


Ketika api mulai padam, kepulan asap hitam berubah menjadi wajah yang mengerikan dan menatap Vin untuk waktu yang lama. Baru setengah Vin melakukan tusukan yang lain, arwah itu menjerit dan lenyap.


Dewi, Lusiana, dan Tesa hampir berlutut karena ketakutan.


"Brengsek, dia berani menipuku. Pergi, hancurkan toko antik Tritan." perintah Raditya dengan marah.


****


Jam 11.00 siang, Vindra dan Raditya muncul di kota antik.


Alasan Vindra ikut bersama Raditya, karena dia terkejut saat mengetahui toko antik Tritan masih tetap buka.


Terakhir kali saat dia mengalahkan para penjagal dia mengetahui jika Jessie adalah orang yang menjual barang curian. Jadi dia segera memberi tahu Jhonatan tentang hal tersebut. Ditambah dengan kesaksian Shine yang masih hidup, Vin berfikir tidak hanya Jessie yang ditangkap tetap toko barang antik itu tutup. Siapa sangka ternyata toko itu masih buka dan masih bisa menghasilkan uang yang banyak.


Vindra menghubungi Jhonatan untuk menanyakan sebenarnya


Jhonatan memberitahu dengan tenang kalau shine meninggal karena serangan jantung. Polisi menggeledah barang antik Tritan namun tidak menemukan bukti jadi kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Sebenarnya meskipun tidak punya cukup bukti, sebenarnya Jhonatan bisa menekan Jessie untuk bicara. Sayangnya ada bos besar yang menekan pihak kepolisian untuk bertindak sesuai aturan dan tidak boleh asal menuduh tanpa bukti. Itulah alasan kenapa sampai saat ini toko antik masih tetap buka.


Vin akhirnya dapat memahami apa yang terjadi sekarang dan Vindra terkejut dengan energi besar yang ada di toko barang antik Tritan, yang membuat Jhonatan kesulitan mencari bukti.


Inilah sebabnya yang membuat Vindra tertarik dan siap bertemu dengan Jessie kembali dengan bantuan Raditya .


Enam Hummer berhenti tepat didepan toko barang antik. Saat pintu mobil dibuka, lusinan pria berbaju hitam turun dan membawa sesuatu yang siap menghancurkan toko barang antik.


Raditya keluar dari mobil dengan menyeret palu besar dan langsung menghancurkan kucing keberuntungan yang berada dia samping pintu.


Segera beberapa orang penjaga berusaha menghentikan dan ada yang langsung melaporkan apa yang terjadi saat ini pada Jessie.

__ADS_1


"Jessie keluar, temui aku " teriak Raditya dengan penuh amarah karena merasa ditipu.


TO BE CONTINUED 🙂🙂🙂


__ADS_2