
"Tuan Raditya, ini adalah negara hukum. Tidak baik berniat menghancurkan toko didepan umum. "Vin menepuk bahu Raditya untuk mengingatkan. "Sangat menyenangkan bisa melampiaskan, tapi apa kamu tidak memikirkan kerugian setelah ini?"
Vindra ingin melindungi Raditya dari kerugian yang akan dia tanggung setelah menghancurkan toko antik. Keluar Tritan bukakanlah keluarga kecil, setelah diganggu mereka pasti akan menekan dan meminta kompensasi dan itu akan merugikan Raditya dan juga keluarga Santoso.
"Ternyata kamu."
Jessie dan Reni bicara bersamaan. Mereka langsung mengenali Vindra sebagai menantu tidak berguna.
"Tuan Vindra, jika aku tidak menghancurkan toko ini, aku tidak akan puas. Bahkan jika aku harus membayar ganti rugi aku tidak peduli, aku harus menghancurkan tempat ini."
Vindra tersenyum menanggapi ucapan Raditya yang menggebu." Kamu tidak perlu menghancurkan toko ini. Kita bisa membujuk orang dengan bijaksana dan kita bisa membuat mereka menangis."
Reni mengguncang arloji di pergelangan tangannya, dengan arogan mencemooh Vindra." Kamu hanyalah seorang menantu, apa yang bisa kamu lakukan dengan nada seperti itu?"
Melihat mata penghinaan Reni, Vindra mencibir. "Jangan terlalu sombong, atau kamu akan menangis."
Vindra lalu menoleh dan bertanya pada Raditya." Tuan Raditya, berapa banyak uang yang ada di tangan miu?"
Raditya menjawab tanpa ragu-ragu. " Ada satu milyar dan bisa digunakan kapan saja."
Vin lalu menatap Jessie. "Apakah kamu menjual batu kasar itu?"
"Ternyata kamu ingin bertaruh pada batu untuk membuat kita menderita. Benar-benar konyol." Jawab Jessie.
Raditya menatap Vindra dengan wajah yang berapi-api, dia yakin Vindra tidak akan melakukan itu tanpa tujuan.
"Jangan bicara omong kosong. katakan saja apakah kamu menjual batu kasar iya atau tidak."
"Buka pintu untuk berbisnis, tentu saja aku menjualnya. Tidak perduli itu teman ataupun musuh, siapapun bisa datang ke sini untuk berdagang. Toko ini memiliki 8000 batu kasar, yang masing-masing sudah ditandai dengan jelas harganya dan nilai totalnya lebih dari 10 miliar. Kamu bisa membeli sebanyak yang kamu bisa. Selama kamu dan tuan Raditya memiliki sumber dana yang cukup, bisa kembali ke toko ini kapan saja." Jelas Jessie.
"Apa kamu tidak menyesali?" tanya balik Vin.
Jessie mengangkat wajahnya, "Perdagangan yang adil, tidak akan ada yang ditipu."
Reni melirik Vindra. " Vindra, jangan membuat malu, apa kamu yakin ingin bertaruh dengan batu? Jangan bertaruh miliaran uang milik tuan Raditya ."
__ADS_1
Vin tersenyum. "Aku bertaruh untuk tuan Raditya hari ini."
Setelah bicara Vindra segera memerintah. "Tuan Raditya, bawa seseorang untuk ikut bersamaku."
Vi segera menghampiri area dimana batu kasar diletakkan. Raditya dan dua puluh bawahannya mengikuti.
Vin mengguncang Cincin miliknya, setelah itu dia meletakkan tangannya diatas batu kasar. Tiba-tiba sebuah batu dengan bandrol harga dua juta memiliki daya tarik yang kuat.
"Yang ini. Aku membelinya," ucap Vindra.
Segera saja Raditya menggesek kartu untuk membelinya.
Vindra kembali berjalan dan berhenti pada batu dengan harga tiga juta. "Aku membeli yang ini.
Raditya segera menggesek kembali kartunya untuk membeli.
Tidak cukup sampai disitu, Vin terus mengajak Raditya melihat-lihat batu kasar tersebut Setiap berhenti dia akan membeli.
"Yang ini, 3 juta."
"Yang ini, yang ini, yang itu, aku membelinya."
Tanpa bicara, Raditya membeli semua batu yang diinginkan Vindra dan dalam waktu sekejap Raditya sudah memiliki 30 batu kasar dengan jumlah 200 juta. Tapi Vin masih belum berhenti. Dia masih memilih-milih dan mengambil yang dia inginkan.
Tanpa terasa 8000 batu kasar sudah disentuh dan Vindra tertarik dengan 200 batu kasar dengan total harga mencapai 800 juta.
Semua yang melihat, menganggap Vindra gila. Mereka belum pernah melihat orang bertaruh batu dengan nominal begitu banyak sekaligus tanpa menawar.
Reni dan yang lainnya sangat senang, dan menganggap Vindra terlalu bodoh, membeli batu kasar tanpa menawar.
"Potong semuanya." perintah Vindra dan meminta delapan pemotong untuk memotong 200 batu tersebut.
"Terimakasih tuan Raditya dan tuan Vindra, kalian telah memberi begitu banyak uang untuk tuan Tritan." Jessie tersenyum pada Vindra dan Raditya. "Tuan Tritan akan datang beberapa hari lagi, dan dia akan menemui kalian untuk berterima kasih."
Wajah Raditya nampak suram, tetapi Vindra menanggapinya dengan tenang." Jangan marah tuan Raditya, setelah ini mereka yang akan marah.
__ADS_1
Ketika Jessie dan Reni menyaksikan lelucon Vindra, salah satu pemotong batu berteriak dengan penuh semangat. "Hijau! Hijau!"
"Ini batu hijau emerald jenis kaca."
"Ini juga mulai terlihat hijau."
"Disini juga sama."
"Ini, kuning dan hijau."
"Ini raja hijau."
"ini juga sama."
"Ini juga sama."
Satu persatu pemotongan batu berteriak kegirangan, saat mereka melihat batu yang mereka belah terdapat batu emerald dengan dengan kualitas terbaik.
Penonton terkejut.
Raditya langsung tertawa.
Jessie dan Reni tercengang.
Tiga juta, sepuluh juta, seratus juta, ratusan juta, bahkan milyaran. Semua batu kasar dipecah dan semuanya memiliki kandungan batu emerald yang terbaik, bahkan yang paling kecil sendiri senilai tiga juta.
Jika di hitung-hitungan total harganya mencapai 80 miliar.
Semua orang kagum pada Vindra, dan menganggap dirinya sebagai master. Vin menanggapi dengan tenang dan tangan diletakkan di punggung. Tak lama Vin naik keatas meja dan berteriak." Aku sudah mendapatkan 200 batu emerald yang berada di batu kasar dari 8000 batu kasar. Sisa batu yang masih ada tidak sepandangan lagi dengan harganya. Jika otak kalian masih baik-baik saja, jangan pernah membeli disini lagi jika kalian tidak ingin rugi."
Vin secara langsung mengatakan jika barang yang ada di toko antik tinggallah sisa. Akibatnya 7.800 batu hanya akan menjadi barang sampah.
Jessie dan yang lainnya terkejut, mereka tidak tahu darimana kemampuan Vindra berasal
Saat ini Vindra menghabiskan 800 juta untuk mendapatkan 80 milyar. Melihat batu di potong dan melihat Raditya dan yang lain mulai mengangkat dan memindahkan batu yang terlihat.
__ADS_1
To be continued 🙂🙂