Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 163. Kehancuran Toko Antik Tritan


__ADS_3

"Sudah aku katakan, aku ingin memberi keuntungan untuk tuan Raditya, setelah kerugian yang kalian berikan."


Vin berjalan mendekati dia wanita itu." Bagaimana? Apa kalian tidak terima?"


"Vindra, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Cepat atau lambat aku akan membunuhmu," ucap Jessie penuh kebencian.


"Aku akan memberitahu tuan Tritan, tentang apa yang kamu lakukan." Saut Reni.


"Oh, kalian mengancam ku." Vindra tersenyum penuh dengan lelucon. "Bukankah barusan kalian membiarkan aku membelinya? Tapi sekarang kalian tidak ingin kehilangan. Kalian berdua benar-benar akan kehilangan kepercayaan tuan Tritan."


"Kamu tidak bisa melewati aku, jadi aku akan menyelesaikan masalah denganmu. Aku beri waktu kamu sepuluh menit dan beri aku dua puluh juta. Aku tidak akan pernah mempermalukan kamu lagi. Kalau tidak aku akan melakukan apa yang aku inginkan,"ucap Vindra yang ditujukan pada Jessie.


"Mengembalikan kepadamu?" Jessie bingung dengan kata-kata Vindra, dan menatapnya dengan tatapan bodoh." Kenapa?"


"Tidak perduli apa, yang harus kamu tahu, kamu harus mengembalikan 20 juta padaku atau kamu akan menerima konsekuensinya yang sangat serius. Jangan kamu pikir aku mudah di tipu. Kamu mengirim para penjagal itu untuk membunuhku, dan aku belum menyelesaikan masalah ini denganmu." Vin melihat arlojinya. "Masih ada lima menit lagi."


Wajah Jessie langsung berubah saat mendengar para penjagal itu. Namun dia segera tenang. " Vindra aku akui Kamu sedikit bijaksana. Tapi itu tidak berarti kamu bisa menginjak kami. Kamu telah memenangkan delapan puluh miliar dan kamu telah menghancurkan harga 8000 batu kasar kami. Kami telah kehilangan keuntungan. Bagaimana kamu masih ingin menekan kami? Aku tidak akan mengembalikan 20 juta kepadamu. Lebih baik kamu keluar dari ini," tolak Jessie.


Kedua belah pihak telah berjuang sampai titik ini. Tidak masuk akal bagi Jessie jika harus mengakui kekalahan. Lebih baik menghancurkan sampai akhir untuk mempertahankan martabat terakhir.


"Dua wanita cantik, meskipun aku tidak tahu perdagangan apa yang sedang kalian lakukan dengan tuan Vindra. Aku sarankan kalian segera mengembalikan dua puluh juta itu kepada tuan Vindra sesegera mungkin," ucap Raditya sambil membawa sebongkah batu hijau untuk di tunjukkan kepada Vindra.


"Jangan bicara omong kosong. Dua puluh juta tidak akan pernah aku kembalikan kepadamu. Jika kamu membuat masalah, jangan salahkan aku jika membunuhmu." Tolak Jessie.


Vindra tertawa sambil menepuk tangannya. "Jessie ingat, ini adalah kesempatan yang sudah kamu sia-siakan."

__ADS_1


Setelah itu Vindra berbalik dan memperhatikan para pengunjung yang sedang memperhatikan dirinya.


"Tuan, bisakah aku melihat barang antik yang ada di tanganmu?" tanya Vindra sambil menunjuk ke arah pria gemuk yang sedang membawa barang antik yang baru dia beli.


Pria gemuk itu segera menghampiri dengan gembira dan menyerahkan barang antik itu untuk di periksa. "Tuan matamu begitu tajam. Bantu aku untuk melihatnya. Ini adalah porselen dari kerajaan selatan yang telah aku lihat beberapa hari dan baru aku putuskan untuk membeli hari ini. 50 juta, apakah kamu lihat ini sepadan dengan harganya?" ucap pria gemuk itu.


Raditya dan yang lain langsung menatap Vindra dengan tajam. Dia sudah bertaruh dengan batu kasar. Apakah mungkin dia bisa melihat untuk barang antik?


Kelopak mata Jessie melonjak, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memiringkan sudut bibirnya dan menunjukkan arogansi.


Vin tidak menanggapi pria gemuk itu, dia mengambil porselen itu dan langsung membantingnya ke lantai.


Prang....


Dengan suara renyah, porselen itu pecah, dan mengejutkan semua orang. Mereka tidak percaya Vindra akan menghancurkan porselen itu. Sedangkan pria gemuk itu jauh lebih tercengang melihat barang antiknya pecah, seperti melihat putranya yang jatuh.


"Aku berusaha membantu menghindari dari rasa malumu." Vin menendang pecahan porselen. "Ini palsu."


"Palsu?!"


"Ini tidak mungkin." pria gemuk itu tidak bisa mempercayainya.


"Porselen ini asli dah palsu, sepertiga porselen ini asli, tapi dua pertiga porselen ini palsu. Kemudian di satukan dengan teknik penyambungan. Dengan kata lain, satu di bagi menjadi tiga dan akan mendapatkan tiga barang. Jika teknik penyambungannya dikerjakan dengan baik, maka hampir tidak terlihat bahwa barang antik itu palsu." Jelasnya.


Selanjutnya Vindra memisahkan pecahan porselen itu untuk membuktikan. "Setelah porselen ini pecah maka akan terlihat jelas, dan aku sudah memastikan bahwa seratus persen porselen ini palsu. Lihatlah pecahan ini kamu bisa melihat jejak penyambungan. Ini bukan teknik pembakaran kerajaan selatan. Ini sama sekali tidak bernilai 50 juta, bahkan 5 juta saja tidak akan laku" jelas Vindra.

__ADS_1


Lelaki gemuk itu segera mengumpulkan porselen itu dan memperhatikan dengan hati-hati untuk memastikan kebenaran Vindra. Setelah diteliti pria gemuk itu menemukan tiga titik penyambungan. Kemudian dia meremas potong porselen itu.


"Brengsek! Ternyata aku di bohongi. Bahkan aku sudah menjadi pelanggan lama."


Pria gemuk itu menampar Jessie dan berteriak, "Aku tidak akan pernah datang kesini lagi. Toko ini penipu, bahkan tidak sebanding dengan penjual barang antik di jalanan."


Jessie mendengus, mundur beberapa langkah namun tidak melawan. Hanya bisa menahan amarahnya di mata.


Toko barang antik Tritan, selalu mengklaim pada publik, selama bersedia mengeluarkan uang yang cukup, barang yang dibeli di toko antik seratus persen asli.


Sekarang Vindra menampar wajah mereka di tempat, dan membuat para pelanggan marah. Mereka tidak menyangka jika toko antik mempermainkan mereka terlalu dalam.


"Toko penipu, toko penipu..."


"Kembalikan uang kami, kembalikan."


Para pengunjung yang marah langsung membuang barang antik mereka dan langsung membatalkan transaksi. Tak butuh waktu lama toko antik Tritan penuh sesak, bukan untuk membeli barang antik, melainkan meminta kembali uang mereka karena di tipu.


Jessie dan Reni benar-benar putus asa, mereka tidak membayangkan Vindra memiliki kemampuan yang dapat menghancurkan mereka.


"Dua puluh juta simpanlah untuk sementara. Aku akan bertemu denganmu suatu hari nanti dan akan memintanya kembali darimu." Vindra tertawa.


Jessie mencengkeram wajahnya yang sakit dan memperhatikan Vindra dengan kesedihan dan kemarahan saat dirinya melangkah pergi.


Reni sangat marah dan dia pun mengambil ponsel dan menghubungi seseorang." Aku ingin kamu berurusan dengan seseorang..."

__ADS_1


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2