Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 127. Miranda di tangkap


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, setelah merawat beberapa pasien, ponsel Vindra berdering.


Saat mengangkat teleponnya, Vindra langsung bisa mendengar suara Sifa yang sedang cemas.


"Vindra, sesuatu terjadi pada ibu."


"Ada apa dengannya?" tanya Vindra terkejut.


"Ibu di tangkap polisi, aku tidak tau apa permasalahannya. Aku masih di perjalanan pulang kerja. Kamu ada dimana sekarang?' tanya Sifa setelah menjelaskan.


"Aku dalam perjalan pulang dan sebentar lagi sampai. Jangan khawatir, kita bicara segera sampai." Vin yang menyadari situasinya tidak bagus, dia tidak ingin menambah masalah jika Sifa tau dirinya berada di klinik. Oleh sebab itu dia berbohong.


Setelah menutup teleponnya, Vin meminta Billy untuk merawat pasien dan dia bergegas memanggil taksi untuk pulang ke rumah Gultom.


Setengah jam kemudian, Vin lebih dulu sampai dan tak lama di susul Sifa yang datang menggunakan BMW merahnya. Keduanya saling menatap dan tak mengeluarkan sepatah katapun dan mereka masuk ke dalam rumah bersama.


Gultom, Tania, Mateo, Kania, Firman dan beberapa kerabat yang lain sedang berkumpul termasuk Fendi yang juga datang.


"Fendi kenapa kamu ada disini?" tanya Sifa yang terkejut melihat keberadaan Fendi.


"Sifa, akhirnya kamu kembali. Aku dengar bibi Miranda mendapat masalah dan aku kemari untuk melihat apa yang bisa aku bantu." jelas Fendi.


Sifa mengangguk mengerti, setelah itu dia menghampiri ayahnya. "Ayah, kakak, ibu Kenapa? kenapa mereka menangkap ibu?"

__ADS_1


Gultom terbatuk tanpa henti, suaranya serak, dan dia tidak bisa bicara apa-apa.


"Pil tujuh rempah ajaib yang dibuat dengan berkerja sama dengan bibi Dian. Mencoba memasarkan pil tersebut di klinik-klinik. Secara kebetulan seorang wanita tua bernama Ivana membeli satu kotak. Siapa yang menyangka setelah minum pil tersebut, dia muntah dan pingsan. Pihak keluarga segera memanggil polisi dan meminta menangkap ibu dan Bibi, bahkan bahan baku obat dan juga pabrik farmasi disegel." jelas Kania.


Sifa benar-benar terkejut, "Kenapa bisa keracunan? Padahal ibu membuat pil itu dengan sungguh-sungguh."


"Aku sudah pernah mengatakan padamu, kalau ada masalah dengan bahan baku obat. Bukankah kamu mengatakan akan mengambil sempelnya untuk di uji?" Saut Vin.


"Aku pikir ibu sudah menghabiskan banyak uang, jadi tidak berfikir ibu akan membeli bahan baku yang cacat dan Bibi tidak mungkin mencari masalah. Aku belum memfokuskan masalah yang kamu katakan, dan aku tidak tau kalau pada akhirnya akan menjadi begini." Jawab Sifa dengan rasa malu karena mengabaikan peringatan Vin.


Tidak hanya Sifa, Gultom pun juga merasa malu, karena beberapa waktu lalu, Vindra sempat mengingatkan mereka semua tentang pil tujuh rempah ajaib, namun tidak ada satupun yang menghiraukannya.


Firman mendengus pelan. "Prioritas utama sekarang adalah membebaskan ibu."


"Apakah pasien di sebabkan pil ibu, atau karena kondisi pasien?" tanya Vin yang menerka dua kemungkinan.


"Kakak ipar, bukankah kamu bekerja dengan banyak pejabat sepanjang tahun, tidak bisakah kamu membantu? Jika ibu tidak bisa dibebaskan sementara waktu, setidaknya dia bisa dibebaskan dengan jaminan."


Mendengar hal ini, Gultom memukul dadanya. "Kalau tau semuanya begini. Aku tidak akan membiarkan Ibu kalian bekerja sama dengan Dian Bakti, tidak akan."


"Tidak ada jaminan." jawab firman, "Masalahnya pasien ini adalah nyonya Santoso, Ibu dari Piter Santoso." Firman menggelengkan kepalanya. "Piter sentosa melihat langsung apa yang terjadi pada ibunya dan menganggap ibunya diracuni. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan ibu."


"Ah, apakah pasien ibu Piter Santoso?"

__ADS_1


Vindra terkejut, tak menyangka masalah ini akan melibatkan Piter Santoso.


"Iya, lelaki itu dalam suasana baik, dan dia mengajak ibunya jalan-jalan, tanpa sengaja Mereka melihat klinik Premiere dan berhenti untuk membeli pil tujuh rempah ajaib satu kotak untuk di coba. Siapa yang tau pada akhirnya terjadi seperti ini. Ibumu dan yang lainnya tidak tau identitasnya, jika tau tidak mungkin dijual kepada mereka." Jelas Gultom dengan badan tegak.


"Karena diracuni seperti itu, Piter Santoso sangat marah dan menuduh ibumu. Tidak hanya memanggil polisi, dia juga memerintahkan depertemen kesehatan untuk turun tangan. Jika Fendi tidak datang tepat waktu, mungkin keluarga kita akan di interogasi." "Gultom menatap Fendi dengan tatapan penuh dengan terimakasih." Fendi terimakasih, keluarga Gultom banyak berutang budi padamu.


"Paman, kamu terlalu sopan. Kita adalah keluarga, jika aku tidak membantu mu, siapa lagi yang akan membantumu? Jangan khawatir urusan bibi. Aku akan kembali dan meminta bantuan ayah. Aku yakin bisa membujuk Piter Santoso."


"Iya...iya... Keluarga mu memang memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah ini."


Gultom menggenggam tangan Fendi. "Kalau begitu aku akan memohon bantuan mu."


"Fendi, maaf merepotkan. Jika ibuku bisa bebas, keluarga Gultom akan berterima kasih banyak padamu," ucap Sifa.


"Sifa, yakinlah aku pasti bisa membawa ibumu kembali, tapi setelah ini kamu harus mengundangku makan malam berdua."


"Vindra tidak ragu-ragu untuk menyela perkataan Fendi. "Aku akan menyelamatkan ibu."


"Diam." Gultom memukul meja." Bukan giliranmu menyela disini. Jika kamu berguna, bagaimana keluarga ini selalu mendapatkan masalah. Lebih baik kamu diam jika kamu tidak bisa membantu. Jangan tunjukkan rasa malu padaku. " Miranda adalah istrinya, masalah ini membuatnya kehilangan kesabaran.


"Apakah karena kamu mengenal Dominic dan yang lainnya, apakah Piter Santoso akan membebaskan? Jangan mimpi, ini masalah ibu. Mereka tidak akan mudah membebaskan. "Saut Firman.


"Jangan bicara tentang Dominic. Dom ayahnya sama-sama tidak berguna. Cepat minta maaf pada Fendi." Bentak Gultom.

__ADS_1


"Minta maaf?" Vin memandang Fendi. "Dia tidak layak...


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2