
"Tidak layak? Sampai kapan kamu akan membuat masalah." Tania mencibir. Dia masih memiliki dendam dengan Vin dan saat ada kesempatan dia akan menargetkannya.
"Vindra, juga pasti bisa membantu-" ucap Sifa ragu-ragu, namun segera disela Mateo sebelum selesai bicara.
"Sifa, jangan menaruh emas di wajahnya. Orang tuaku memberitahuku, jika malam itu kalian menggunakan hubungan Ambar Wijaya, hanya karena telah menyelamatkan Putrinya. Jadi jangan mengira kalau dia adalah jagoan. Tuan Santoso, tuan Malin, tuan Wiguna, mereka memiliki kekuatan. Apakah mereka pamer?" Mateo menunjukkan penghinaan.
Vindra hanya menggosok kepalanya." Sebenarnya aku bisa."
"Kamu bisa apa? Semua ini salahmu, jika bukan karena kamu tidak berguna, bagaimana ibumu bisa berada di titik ini. Apa kamu memiliki hubungan dengan Ambar Wijaya? Sekarang panggil dia dan minta dia untuk membantu membebaskan ibumu," sela Gultom.
"Tidak."
Sebelum Vindra sempat menjawab, Sifa buru-buru menyela dengan tegas.
"Vindra kamu pasti tidak akan bisa menemukan Ambar Wijaya."
__ADS_1
"Sifa, ibumu..." Gultom begitu sedih, namun Sifa masih menatap Vindra.
"Pikirkan cara untuk menggunakan hubungan. Jika perlu kamu bisa menjual properti untuk jaminan. Tapi kamu tidak boleh membiarkan Ambar Wijaya membantu, Vindra jika kamu berani bertanya padanya, maka hubungan kita akan benar-benar selesai."
Melihat wajah cantik Sifa, Fendi tersenyum penuh kemenangan.
"Aku bisa mengatasinya. Sifa, aku pergi akan pergi dulu, kembali dan bicara dengan ayahku, agar bibi bisa kembali lebih cepat. Paman, Sifa, tentang saja. Bibi akan baik-baik saja. "Setelah bicara Fendi segera bangkit berdiri dan pergi.
"Ayah, dimana pasiennya? Aku ingin pergi melihatnya."
"Rumah sakit mana lagi yang bisa kamu pikirkan."Saut Gultom dan memandang anak-anaknya.
"Kalian semua harus bisa menyelamatkan ibu. Dia sudah terbiasa menggunakan baju mewah dan perhiasan, dia tidak akan tahan jika harus mendekam di tahanan."
"Aku akan menyelamatkan ibu. Ayah jangan sedih, kami sedang memikirkan caranya." Sifa segera menyambutnya agar ayahnya tidak khawatir.
__ADS_1
Firman berfikir sejenak. " Ayah mari kita lihat, apakah Fendi bisa menyelamatkan ibu. Jika tidak bisa kita harus mencari pengacara terbaik. Lalu pergi ke depertemen untuk mengetahui penyebabnya. Jika itu bukan tanggung jawab ibu, semua pasti akan lebih mudah di tangani."
"Aku akan pergi ke rumah sakit besok," ucap Vindra.
"Apa yang bisa kamu lakukan dengan pergi ke rumah sakit? Bahkan jika kamu berlutut dan memohon, itu tidak akan ada gunanya." tanya Mateo dengan penuh penghinaan.
"Itu benar, bahkan kami sudah memohon, tapi pihak lain mengabaikannya." Saut Tania.
"Aku datang bukan untuk minta maaf, tapi untuk melihat kondisi pasien." jawab Vindra dengan tentang, walaupun semuanya menyerang dirinya
"Ada begitu banyak tenaga medis disana, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan. Apa yang dapat kamu lakukan setelah kamu berada disana? Apa kamu pikir kamu adalah dokter genius? Apa kamu tau keterampilan medis? Jangan melakukan sesuatu yang pada akhirnya menyeret keluarga Gultom." teriak Kania.
"Kamu menantu yang tidak berguna, bagaimana kamu masih berpura-pura peduli. Bagaimana kami bisa memiliki menantu tak berguna seperti kamu..." Gultom memarahi Vindra sambil menggebrak meja.
To be continued 🙂🙂🙂
__ADS_1