
Pada saat ini suara Piter Santoso menjadi acuh tak acuh dan kemudian dia berkata tanpa emosi.
"Tuan Vindra, jika tidak keberatan, biarkan di bicara denganku sebentar saja. Jika dia benar-benar putraku yang tidak berbakti, aku akan memberimu penjelasan."
"Baiklah." Vin tersenyum tipis sambil menatap Raditya. "Aku akan membiarkan dia bicara padamu. Aku akan memberikan telepon padanya. Anda tunggu sebentar tuan."
Vin segera bangkit dan berjalan mendekati Raditya. Dia menatap teman-teman Raditya yang berada di depan, namun mereka tidak ada yang berani melawan dan mereka dalam ketakutan. Seolah seperti Vin sedang memegang pedang.
Vin menendang mereka satu persatu dan menjatuhkannya kelantai, namun tidak ada yang berani melakukan perlawanan.
Setelah menyisihkan penghalang langkahnya, Vin saat ini berdiri didepan Raditya. Dia tidak segera memberikan ponselnya, tetapi dia malah menendangnya jatuh kelantai.
Raditya sangat marah, tapi dia hanya bisa menahannya.
"Tuan Raditya, ayo jawab." Vin menyerahkan ponselnya dan kemarahan Raditya langsung padam.
Dia mengambil ponsel Vindra dan bersembunyi di sudut untuk berbicara, dan seketika perubahan ekspresinya terlihat jelas.
Tidak butuh waktu lama, Raditya kembali mendekati Vindra dan menyerahkan ponselnya kembali. Vin segera mengambilnya untuk lanjut bicara dengan Piter Santoso.
"Tuan Vindra, meskipun Raditya adalah putraku, dia tetap harus di hukum jika dia memang salah. Masalah malam ini, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan, bahkan jika kamu ingin membunuhnya, aku tidak akan mengatakan sepatah katapun." Piter tidak berusaha memohon untuk putranya, dia malah membiarkan Vindra menanganinya.
"Apa tuan Santoso bicara serius? panggilan telepon ini hanya untuk mengkonfirmasi. Dan ternyata dia benar-benar putramu, kalau begitu masalah ini akan segera selesai."
Begitu Vindra menutup teleponnya, Raditya mendekat dan berkata." Tuan Vindra, maafkan aku, aku telah menyinggung mu hari ini. Aku benar-benar minta maaf, aku harap masalah ini segera berakhir."
Piter Santoso tidak memarahi Raditya di telepon, tetapi hanya mengkonfirmasi identitasnya, lalu memintanya untuk mengakui kesalahannya pada Vindra, dan membiarkan Vindra untuk memutuskan. Jika tidak Raditya akan berurusan dengan hukum keluarga Santoso.
Vindra dapat melihat bahwa Raditya tidak tulus minta maaf dan masih menyimpan dendam. Dia pun tersenyum acuh tak acuh, mengulurkan tangannya dan menepuk wajah Raditya." Sepertinya kamu tidak puas?"
Raditya mundur untuk menghindari tangan Vindra, dan kemudian bicara dengan marah. "Dokter Vindra, sudah cukup!" Raditya percaya jika Vindra berlindung pada ayahnya.
Vindra tidak bicara omong kosong, dia segera meraih botol anggur dan langsung mengayunkannya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Seketika botol itu meledak dan serpihan kaca berhamburan, mengenai siapa saja.
"Ah..." teriak mereka secara spontan saat melihat apa yang dilakukan Vindra.
Beberapa pecahan botol mengenai beberapa pergelangan tangan mereka yang berusaha melindungi wajahnya namun tidak menutupi tangannya.
Mereka semua terkejut, mereka pikir keahlian tersebut hanya dimiliki oleh Tiger Wang, tapi pada kenyataannya saat ini mereka melihatnya Vindra juga bisa melakukannya.
Pada saat ini Raditya baru menyadari kata-kata ayahnya. Saat di telepon ayahnya meminta Raditya untuk menundukkan kepalanya dan mengakui kesalahannya, bukan untuk melindungi Vindra melainkan menyelamatkan hidupnya. Jika tidak Vindra akan menginjak-injak mereka sampai mati.
Bang...
Pada saat ini Vin mengambil botol anggur dan mengayunkannya kepala Raditya. Botol anggur pecah dan darah langsung mengalir.
Raditya mendengus, terhuyung, dan mundur beberapa langkah. Sangat menyakitkan tapi Raditya tidak berani mengeluh.
"Menggangu Tiffani, aku akan meledakkan kepalamu dengan botol anggur..." Vin bicara dengan samar. "Ada komentar?"
Raditya mencengkeram kepalanya, lalu menggeleng." Tidak..."
Raditya mengerang lagi, dan dari mengalir semakin deras.
"Berani ingin membunuhku, aku akan meledakkan kepalamu." Vin menyeka tangannya dengan tisu. "Ada komentar?"
Untuk mengatasi orang seperti Raditya Santoso, jika tidak di taklukkan, dimasa depan dia pasti akan mencari masalah dimasa depan.
Mendengar pertanyaan Vindra, Raditya berusaha menggelengkan kepalanya. "Tidak... tidak ada komentar."
Teman wanita yang dibawa Raditya sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Saat melihat Raditya begitu lemah saat ini.
Vin tersenyum dan menepuk pundak Raditya." Apa kamu tahu sekarang?"
Raditya hanya bisa menggigit bibirnya, "Kamu memiliki keputusan akhir."
__ADS_1
Vin tersenyum dan memiringkan kepalanya, "Kalau begitu keluarlah dan jangan pernah mengganggu Tiffani lagi." Vin memandang Raditya yang kini kehilangan kesombongannya." Jangan merasa bersalah, rasa malu yang kamu alami malam ini adalah hal baik, bukan hal buruk. pikirkan saja, jika malam ini kamu bertemu dengan master yang jahat seperti kamu. Sudah pasti kamu mati sekarang."
"Cepat pergi."
Dengan buru-buru Raditya membawa Semua temannya untuk meninggalkan bar. Sedangkan Vin tidak buru-buru keluar. Dia meminum sebotol soda untuk melepaskan alkohol sebelum keluar.
Di luar sudah tidak terlalu ramai, tapi masih ada beberapa orang yang menjulurkan kepalanya untuk melihat akhir Vindra yang menyedihkan.
Di dekat tempat petugas keamanan, Vin melihat beberapa orang yang berkumpul, tak lain mereka adalah Tiffani dan yang lainnya.
Johan dan Tesa berusaha menasehati Tiffani terus menerus, namun Tiffani dengan keras kepala menggelengkan kepalanya, mencoba melarikan diri dari tarikan Fina dan yang lainnya.
"Kak Vindra..." teriak Tiffani saat melihat Vindra keluar, tubuhnya bergetar sesaat, lalu dia segera berlari dengan gembira.
"Kak Vindra, kamu keluar? Apakah kamu baik-baik saja?" Dia sangat terkejut dan langsung memeluk Vindra.
Johan memandang Vindra dengan heran, dia tidak berharap Vin keluar tanpa cidera.
"Kak Vindra kamu baik-baik saja? Aku ingin masuk tapi mereka menarik dan menahanku, mereka tidak membiarkan aku masuk. Apakah Raditya memukulmu? Dimana dia memukulmu?" Tiffani bertanya dengan panik dan memperhatikan dari atas sampai bawah untuk melihat apakah Vindra terluka.
Vin merasa hangat dengan perhatian Tiffani. Vin menepuk pundak Tiffani." Jangan menangis, aku baik-baik saja, dan mereka tidak memukuli aku."
Tiffani menyeka air matanya dan menunjukkan rasa bersalahnya." Ini semua salah ku, seharusnya aku tidak mengajak mu kesini, dan seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Aku tidak tahu kalau kamu akan bertemu dengan para bajingan itu."
Vindra menenangkan emosi Tiffani. "Kamu tidak meninggalkan aku, aku yang memintamu keluar untuk meminta bantuan. Lagipula kamu tidak ada bisa membantu ku gadis kecil. Sudahlah jangan merasa bersalah, aku baik-baik saja." Vin segera menyeka tetesan air mata Tiffani.
"Kakak ipar, aku minta maaf, aku tidak menemukan siapapun untuk membantu menyelamatkan kamu. Mereka mengabaikan aku satu persatu."
"Vindra kamu harus berterimakasih pada kak johan, hingga kamu baik-baik saja." Pada saat ini Tesa berjalan mendekati dengan wajah dingin, dan menarik Tiffani dalam pelukan. "Jika bukan karena kak Johan memanggil tim militer untuk membantu meredakan pengepungan. Mungkin nyawamu tidak akan selamat begitu juga dengan kami karena ulahmu. Kamu pikir kamu hebat dengan menampar tuan Raditya tiga kali didepan umum."
"Aku katakan sekali lagi, berterima kasihlah pada kak Joha, karena dia menemukan bantuan untuk menekan tuan Raditya. Jika tidak kami akan membunuhmu, jika terjadi sesuatu pada kami."
Vin terkejut kemudian dia segera tersenyum. Vin belum pernah melihat orang kurang ajar seperti Johan. Tapi memikirkan Johan saat membual di dalam bar, menunjuk bahwa begitulah gaya Johan dan Vin akan segera memasukan manager hubungan masyarakat kedalam daftar hitam.
__ADS_1
To be continued 🙂🙂🙂