Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 205. Pertarungan Dara


__ADS_3

"Membunuhku dengan satu tangan?" Vindra tersenyum tipis, " Aku benar-benar tidak percaya.


Mendengar kata-kata Vindra, teman-teman Kirana menggelengkan kepalanya heran dan jijik melihat ada orang yang terlalu sombong.


"Kau sudah membuatku marah!"


"Konsekuensinya akan sangat serius bagimu." Kirana menunjuk Vindra dengan arogan.


"Kirana, kamu tidak bisa gegabah. Kematian tuan Morgan belum selesai diselidiki, dan faktanya semua ini tidak ada hubungannya dengan tuan Vindra." Teriak Dara yang tiba-tiba muncul.


"Diam! pecundang. Tidak ada yang bisa melindungi Vindra hari ini. Vindra, hari ini kamu akan mati."


"Jangan terlalu sombong kamu." Wajah cantik Dara tenggelam dalam kemarahan. "Ingat ini SB bukan kota M dimana kamu bisa menjadi liar."


Meskipun Dara kalah dari Kirana saat kompetensi liga tahun lalu, sampai saat ini masih Dara masih marah karena dirinya telah dipermalukan di depan umum oleh lawannya.


"Tiger Wang layak mengatakan ini, tapi kamu tidak memenuhi syarat, dan ayahmu juga tidak memenuhi syarat."


"Meskipun kamu nomor 1 di SB dan aku nomor 1 Di M, tapi kekayaan kamu masih jauh dariku. Semua orang tahu kekayaan Kota K dan SB masih di dominasi Bank dan juga farmasi BBI, tapi itu tidak sebanding dengan kota kami."


Kata-kata yang diucapkan Kirana, tidak hanya membuat Dara marah tetapi Rahendra juga sedikit marah dan ingin sekali menyangkal.


Saat ini Vindra tidak terlalu perduli dengan pembicaraan mereka yang dia pikirkan saat ini adalah senjata pembunuh yang digunakan untuk membunuh Morgan, dia ingin sekali ke ruangan tempat dimana sebelumnya Morgan dirawat dan berfikir apakah masih bisa menemukan senjata tersebut di tempat kejadian


Saat ini wajah Dara menjadi suram." Bagaimanapun tidak akan aku biarkan kamu menyakiti saudara Vindra."


Kirana memandang jijik, "Vindra apakah kamu ingin bersembunyi dibelakang seorang wanita?"


Vindra dengan samar berkata, "Bodoh."

__ADS_1


Mendengar ucapan Vindra, Kirana menjadi sangat marah dan aura kemarahannya meledak hanya dengan tatapan.


Jhonatan sedikit terkejut, namun dia tidak menyangka Kirana begitu kuat.


Sedangkan Rahendra diam-diam berkata jika Kirana memang pantas menjadi murid Morgan.


Melihat niat membunuh Kirana, Dara segera berdiri di depan dengan kepala tegak. Dara merupakan salah satu andalan Redblack, jika dirinya mundur tanpa alasan itu bisa mempengaruhi yang lainnya.


Tanpa sadar Rahendra berteriak. "Jangan lakukan itu!"


"Mati saja kamu." Kirana menghiraukan teriakkan Rahendra dan langsung menembak dengan satu gerakan di arahkan ke Vindra.


Dara dengan cepat berdiri di depan Vindra untuk melindunginya. Tiger Wang memberi amanat pada dirinya untuk melindungi Vindra apapun yang terjadi, dan saat ini dirinya mencoba yang terbaik untuk menghalangi Kirana menyakiti Vindra.


Tinjuan itu begitu kuat, dan langsung menghantam Dara tanpa bisa di hindari. Dara hanya bisa mendengus sebelum tubuhnya terbang mundur karena kuatnya pukulan tenaga dalam.


Seketika Dara merasa sesak nafas, dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Dara baru saja memulihkan pusat energinya jadi akan sangat sulit untuk menghentikan Kirana.


Dengan terbatuk-batuk, Dara masih berusaha menjelaskan. "Kematian Ketua Morgan tidak ada hubungannya dengan Vindra. Ada seseorang yang ingin memicu perselisihan."


"Jangan bicara omong kosong." Kirana kembali menyerang, tidak menghiraukan perkataan Dara dan menyerang Vindra yang sudah terkunci. Serangan yang sangat agresif dan melesat seperti anak panah.


Dara menggigit bibirnya dan secepat kilat memblokir serangan. Pada saat yang sama Dara kembali mendapatkan pukulan dan langsung terbang keluar, untung saja Rahendra tepat waktu menangkap putrinya, dan Dara kembali memuntahkan seteguk darah.


Walaupun sudah terluka parah, Dara tidak menyerah, dia bangkit berdiri sambil menyeka mulutnya yang berdarah.


"Dara, kamu lebih tidak berguna dari sebelumnya. Dulu kamu bisa melawan beberapa jurus andalanku, tapi sekarang kamu tidak bisa melawan bahkan hanya satu jurus yang aku gunakan." Kirana semakin mencibir Dara yang saat ini dimatanya Dara benar-benar sangat lemah.


"Aku peringkatkan sekali lagi, cepat pergi dari sini atau aku akan membunuhmu."

__ADS_1


Melihat Dara masih berani melawan, Kirana pun memutuskan untuk menghancurkannya. " Baik, kamu akan selesai hari ini. Ingat aku akan mematahkan tangan dan kakimu hanya dengan dua gerakan, dan menghapus pusat energimu hanya dengan tiga trik. Setelah itu kamu akan lenyap. Jika ayahmu berani bergerak untuk membantu mu aku juga akan membunuhnya," ucap Kirana dengan agresif.


Seketika wajah Rahendra berubah. Tepat ketika Rahendra ingin menghentikan pertempuran, Vindra datang dari belakang dan menepuk pundak Dara.


"Baiklah, lakukan seperti apa yang dia katakan. Patahkan kaki dan tangannya dengan dua gerakan dan hancurkan pusat energinya dengan tiga trik." Saat kalimat itu jatuh Dara merasakan Energi yang kuat mengalir dalam tubuhnya.


Sebenarnya jika Vindra mau melakukannya, mengalahkan Kirana sangatlah mudah baginya. Tapi dia ingin memberi kesempatan pada Dara untuk melampiaskan dendamnya dan mungkin akan menjadi kepuasan tersendiri bagi Dara jika bisa mengalahkan Kirana dengan tangannya sendiri.


Namun apa yang dikatakan Vindra membuat semua orang hampir tidak ada yang mempercayainya.


Saat ini Dara juga terkejut, tapi saat menatap mata Vindra dengan acuh tak acuh, dia pun paham mengapa ada aliran begitu kuat di dalam tubuhnya, dan ledakkan kepercayaan diri muncul dalam hatinya.


"Kamu tidak tahu, seberapa tingginya langit." ucap Dara.


"Aku tidak tahu apakah kamu masih tetap hidup atau mati hari ini." Kirana tidak bicara omong kosong, dia segera melakukan gerakan untuk menyerang Dara.


"Gerakan Harimau marah." tiba-tiba suara Vindra jatuh dan apa yang di ucapkan Vindra adalah salah satu trik bela diri Redblack.


Dara tidak sempat memikirkannya dan langsung melakukan menggerakkan tangan dan kakinya seperti yang sudah dia pelajari.


Bang....


Detik berikutnya, tinjuan mematahkan tulang rusuk, bahkan suaranya terdengar sangat nyaring.


Semua orang yang melihat membeku dan seakan mati rasa. Mereka melihat pukulan Kirana hanya berjarak satu inci dari dahi Dara. Tapi satu inchi ini seperti parit pemisah dan tidak bisa di tekan lagi untuk melewatinya, dan saat ini pergelangan tangan Kirana berada dalam genggaman Dara.


"Ah..." Kirana gemetar saat melihat pergelangan tangannya yang patah.


Dara mundur untuk menghindari benturan, dan dia pun mematahkan pergelangan tangan Kirana dengan paksa, tapi tetap cepat, akurat, dan kejam dan dengan waktu yang singkat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2