
"Bicara omong kosong." Marcel yang marah menunjuk Vindra dengan tajam. " Nama belakang keluargamu Afrian. Akan aku tunjukkan padamu milik siapa kota SB."
Tepat disaat Marcel memerintahkan anak buahnya menghancurkan klinik CRISHAN. Beberapa kendaraan off-road datang beriringan sambil membunyikan klakson. Mereka berhenti tepat didepan pintu klinik.
Selusin pria bertubuh kekar dari mobil terlebih dahulu, Ekspresi serius, dan mata tajam.
Setelah itu lelaki tua keluar, dan tertera nama Rahendra di pin bajunya. Meskipun terlihat layu, tapi masih memiliki tatapan membunuh.
"Paman Rahendra kenapa paman disini?"
Melihat penampilan Rahendra Marcel terkejut, tapi dia tidak berharap paman ke empatnya itu juga datang, dan dia berfikir pamannya datang untuk membantu dirinya.
"Rahendra tidak memperhatikan siapapun, dia berjalan terus sampai didepan Vindra.
Sebelum semua orang bereaksi, Rahendra membuat semua orang terdiam saat Rahendra berlutut didepan Vindra.
"Paman Rahendra... Apa yang paman lakukan?" Marcel terkejut dengan apa yang dilakukan pamannya itu, hingga membuatnya berteriak.
Rahendra mengabaikan mereka semua, tetapi tetap berlutut didepan Vindra.
"Dokter Vindra tolong selamatkan hidupku." Rahendra tiba-tiba memohon.
Seketika Marcel dan yang lain tercengang saat mendengar kata-kata Rahendra.
Tidak ada yang mengira bahwa Rahendra muncul dengan tergesa-gesa, bukan untuk membantu Marcel, melainkan untuk berlutut didepan Vindra.
"Bagaimana ini bisa?" tanpa sadar Marcel mendekati pamannya." Paman apa yang paman lakukan? Kenapa paman harus berlutut didepan sampah?"
__ADS_1
Plakkkk...
Rahendra langsung memberi Marcel tamparan dan berteriak. "Sampah? Siapa yang kamu bilang sampah? Cepat minta maaf padanya, atau aku pastikan akan mematahkan kakimu."
Setelah menjalani kebebasan kemarin, Rahendra tidak ingin duduk di kursi roda lagi. Setelah berkonsultasi dengan para medis, Rahendra tidak punya pilihan lagi selain datang ke klinik CRISHAN lagi.
Rahendra sudah kehilangan wajah, jadi dia tidak peduli lagi dengan Marcel.
Marcel sangat marah sambil mencengkram pipinya. Tapi dia tidak berani melawan pamannya. Dimata ayahnya dirinya tidak sebanding dengan paman Rahendra.
"Dokter Vindra, kami melakukan kesalahan kemarin. Kami seharusnya tidak menjadi penjahat bagimu, apalagi berencana mengambil Ganoderma darah darimu. Dokter Vindra kamu sangat bijaksana, tolong bantu aku."
Vindra bertanya dengan acuh tak acuh. " Murid dan anakmu, terluka olehku, apakah kamu tidak membencinya?"
Rahendra menggelengkan kepalanya lagi dan lagi, "Tidak membencinya, aku malah berterimakasih. Karena dokter Vindra mengajari mereka untuk tidak melakukan kesalahan lagi."
"Benci, tapi juga lega."
Rahendra menghela nafas panjang. "Dia arogan, keras kepala, dan memiliki seni bela diri yang mungkin bukan hal baik. Suatu hari jika dia bertemu master mungkin dia bisa mati."
(Dara adalah anak Tiger Wang, dan menjadi anak angkat Rahendra)
Vindra menatap Rahendra dengan main-main." Kamu sudah terlalu banyak dipermalukan, dan kamu harus berlutut saat ini. Apakah kamu tidak membencinya?"
"Aku yang harus disalahkan, aku tidak bisa membenci." Mengetahui hanya Vindra yang dapat menyembuhkan dirinya, bagaimana dia bisa membelinya, bahkan hanya untuk menyimpan dendam pun tidak bisa.
"Baiklah, jika kamu sadar. Aku akan membantumu. Tapi sebelum aku membantumu, aku ingin kamu melakukan sesuatu."
__ADS_1
"Tuan Vindra, tolong katakan apa yang bisa aku lakukan?"
"Pergi! patahkan kaki mereka." perintah Vindra membalikkan ancaman Marcel.
Wajah Marcel berubah drastis saat mendengar ini." Vindra, apakah kamu berani?" teriaknya.
Rahendra pun segera memerintah. "Lakukan."
Segera klinik CRISHAN penuh dengan ratapan. Marcel dan yang lainnya sudah dikalahkan oleh bawahan Rahendra dan mengusir mereka satu persatu.
Di seberang klinik CRISHAN, Reni melihat semua adegan dan tercengang. "Bagiamana mungkin? Dia hanya seorang menantu. Bagaimana bisa begitu sulit untuk menjatuhkannya." Hati Reni sulit menerima, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, selain pergi.
Setelah Marcel dan yang lainnya pergi dengan ambulan, Vindra segera membantu Rahendra menggunakan jarum akupuntur.
Vindra menjelaskan, jika Rahendra masih harus datang ke klinik tiap bulan salama satu tahun. Setelah itu Rahendra bisa terbebas dari penyakitnya.
Rahendra tidak memiliki keraguan sedikitpun mendengar saran Vindra. Dia malah berterimakasih banyak pada Vindra. Selama tidak lagi menghabiskan sepanjang waktu di kursi roda, Rahendra rela jika harus datang setiap bulan
Rahendra memberi uang biaya pengobatan seratus juta. Vindra tidak menolaknya karena dia tahu maksud dari Rahendra.
Setelah itu Vindra membuat beberapa ramuan dan meminta Rahendra untuk dibawa pulang dan diberikan kepada Dara untuk diminumnya. Vindra juga mengatakan setelah minum ramuan itu pusat energi Dara perlahan akan kembali.
Hal ini membuat Rahendra gembira. Kebencian seketika terlupakan yang ada hanyalah ucapan terimakasih.
Setelah klinik tutup, Vindra pergi menjenguk ayahnya. Pada dasarnya tubuh sang ayah sudah pulih, namun masih belum bangun dari koma. Vindra masih belum bisa membuat ayahnya segera bangun. Tujuh cahaya putih sudah di berikan beberapa kali, tapi masih belum cukup untuk membangun ayahnya.
Saat ini Vindra hanya bisa menghela nafas, dan berusaha terus untuk bisa menyembuhkan ayahnya.
__ADS_1
To be continued 🙂🙂🙂