Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 126. Ingin Berdamai


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Vin dan Sifa meninggalkan kantor pemasaran.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Naura?" tanya Sifa saat berada didalam mobil.


"Putri tuan Jack Mars, yaitu Nella Mars mengalami luka parah akibat kecelakaan. Aku tidak sengaja melihatnya dan aku pun menyelamatkannya." jawab Vin ringan.


"Apa?" Sifa terkejut, " Apa kamu menyematkannya dengan keterampilan mendis mu?"


"Jangan khawatir, aku menyelamatkan Nella dari mobil ke sisi pagar sebelum mobilnya terbakar." Vin tau apa yang ada dipikiran Sifa, sehingga dia tidak perlu menjawab dengan detail.


"Naura adalah responden pertama ambulans, jadi dia mengambil pujian atas dirinya sendiri. Mengatakan bahwa dirinya yang menyelamatkan Nella dari kecelakaan tersebut. Keluarga Mars, berterimakasih kepadanya dan memberikan seratus juta pada Naura. Kemudian nyonya Mars datang untuk memantau dan memeriksa . Dia menemukan kenyataan jika ternyata Naura adalah dokter gadungan. Hanya saja nyonya mars lebih mengkhawatirkan cedera putrinya dan membiarkan Naura Bakti. Pada akhir Naura kabur dengan membawa cak seratus juta." Jelasnya lebih lanjut.


Setelah itu Vin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bahwa artikel yang dia simpan mengenai kecelakaan Nella Mars.


Setelah membaca artikel itu, Sifa baru menyadari. " Pantas saya bibi Dian ingin membeli Villa, ternyata Naura membawa uang hasil penipuan."


Vin tersenyum tipis, "Tapi sayangnya dia harus mengembalikan uang itu dan calon menantunya kabur membawa surat pembelian villa."


Setelah membahas mengenai Naura, Sifa mengeluarkan card Lock peach blossom No 1 dan mengembalikannya kepada Vindra.


"Aku yakin kamu menyelamatkan Nella Mars, tapi itu tidak sebanding dengan Villa Peach Blossom No 1. Nyonya mars memberimu ini, aku yakin 80% juga karena Ambar Wijaya. Jadi mereka menggunakan Villa Blossom No 1 ini untuk memperdalam hubungan. Kamu berada di tengah,


tapi itu hanya alat, tidak terlalu untukmu, sepertinya untuk Ambar Wijaya. Aku tidak nyaman dengan hadiah ulang tahun ini. Aku sarankan lebih baik kamu kembalikan ini pada nyonya Mars." Sifa berusaha menasehati.

__ADS_1


Hari ini adalah ulang tahun Sifa, dan sebelumnya Vin tidak bisa memberikan apa-apa, tapi saat ini dia ingin memberikan hadiah terbaik namun dia menolaknya dan berfikir hadiah yang dia berikan berhubungan dengan Ambar.


Vin akhirnya memberi senyum masam dan mengambil kembali card Lock itu dari tangan Sifa.


"Hadiah tidak terlalu penting bagiku. Tujuan ku bertemu dengan mu, ada yang ingin aku bicarakan. Aku ingin memberi kesempatan hubungan ini. Hal sebelumnya, tak perduli siapa yang benar dan siap yang salah jangan dibahas lagi. Aku tidak akan menyebut istana kaisar, 100 juta, rumah sakit, dan aku akan berusaha menghindari Fendi di masa depan. Apakah kita bisa berdamai?"


Teguran Vindra saat di rumah sakit membaut dia sada, meskipun dia tidak mau menghadapi atau minta maaf, tapi dia mencoba kompromi.


Sifa memiliki perasaan yang rumit pada Vindra. Dia tidak tau Apakah dia mencintai atau tidak, tapi dia tidak mau kalah dengan Ambar Wijaya.


Vindra tidak menjawab, karena dia tau, Sifa melakukan itu karena dia tidak ingin kalah dengan Ambar yang berusaha mendekati dirinya. Vindra yakin jika suatu hari Sifa marah, keretakan rumah tangga akan terjadi lagi bahkan bisa lebih parah. Jadi Vindra memutuskan untuk diam.


Sifa ingin mengatakan sesuatu lagi, namun mobil yang dikendarainya sudah sudah berhenti di depan rumah.


Vindra nampak ragu-ragu, "Kamu masuklah, aku akan-"


"Baiklah, aku akan bermalam di sini malam ini."


Vindra berjalan disamping Vindra dan saat masuk dia menemukan empat orang sedang duduk di meja makan.


Selain Gultom dan Miranda, Tania dan Mateo juga ada disana. Mereka sedang bicara dan tertawa saat makan malam.


Dimeja lain, ada lusinan hadiah, salah satunya dari Fendi. Jelas itu artinya Fendi ada datang sebelumnya.

__ADS_1


Melihat kedatangan Vindra, wajah Miranda berubah dan dia mendengus. Sedangkan Gultom hanya mengangkat kepalanya, "Vindra, Sifa, kalian sudah kembali. Kemari lah kita makan malam.


Miranda mendengus, "Aku tidak tau apa yang kalian sibukkan sepanjang hari. Ketika kalian kembali, kalian tidak bisa makan makanan hangat, jadi aku harus menghangatkannya kembali. Lebih baik kamu keluar jika tidak ingin tinggal disini."


Melihat Vindra dimarahi, seperti biasa, Tania dan Mateo akan bersorak.


"Ma..., Vindra sedang mencari pekerjaan, dan kita belum makan di rumah akhir-akhir ini." Sela Sifa, tidak ingin ibunya melanjutkan amarahnya.


Miranda mencibir, "Pekerjaan apa yang bisa dia dapatkan? jangan berfikir kalau dia mengenal beberapa orang besar dia akan mudah mendapatkannya? Kalau kamu memikirkan itu, kenapa kamu tidak berbisnis dengan Sifa, atau membeli peach blossom no 1."


"Villa bunga persik No 1. Aku sudah memberikannya kepada Sifa, tapi dia menolak." jawab Vindra samar.


Miranda terkejut sejenak, lalu dia kembali mencibir, "Apa? Kamu mendapatkan beberapa juta dalam sebulan saja tidak bisa, bagaimana kamu bisa berpikir memberikan Villa Peach Blossom No 1 kepada Sifa? Vindra jangan terlalu membual kamu."


"Ma..." Wajah Sifa langsung tenggelam.


"Oke... sudah cukup, jangan berisik. Vindra sudah dewasa, dia tau apa yang dia lakukan." Gultom sudah tidak sabar dan dia pun berdiri untuk menghentikan semuanya.


"Tania, ambilkan sup panasnya dan kita akan makan malam." Perintah Gultom.


Tania dengan cepat mengambil mangkuk besar yang berisi sup dan dia kembali lagi dengan lima mangkuk porselen untuk diisi sup. Semua keluarga Gultom masing-masing mendapatkan satu mangkuk, tapi Vindra tidak mendapatkannya.


Sifa menyernyitkan keningnya dan memberikan mangkuk miliknya kepada Vindra. "Ambil sup ini untuk mu.

__ADS_1


Vindra menyipitkan matanya dan melihat isinya, "Kamu tidak bisa makan sup ini." ucap Vindra.


To be continued 🙂🙂🙂🙂


__ADS_2