
Setelah menghindar dari kejaran dokter Mega, Vin segera pergi untuk berkunjung ke rumah ibunya. Apa yang sudah di lakukan keluarga Gultom padanya, kali ini membuatnya terasa sakit, jadi dia memutuskan untuk tidak menemui Sifa.
"Vindra, kamu ada disini?" Ningrum terkejut saat melihat putranya ada di depan pintu, namun segera berubah menjadi senang, saat melihat putranya datang berkunjung. Ningrum segera membawa masuk Vindra.
"Aku baru membeli setengah kilo ayam. Aku akan segera membuatkan sup untukmu. Jangan khawatir, aku akan masak dengan cepat, agar kamu bisa segera kembali kerumah Gultom secepatnya untuk masak."
Saat Melihat ibunya, hatinya menjadi tenang dan ketidaknyamanan dihatinya seketika hilang.
Ibu adalah tempat ternyaman untuk anaknya, disaat seorang anak lelah memikul beban hidupnya, hanya ibulah sosok wanita yang akan selalu membuka tangan untuk merangkul dan kembali menguatkan.
"Bu, jangan buru-buru. Aku akan bermalam disini dan kembali besok pagi. Ibu lebih baik istirahat, biar aku yang memasak." Vin segera menyingsingkan lengan bajunya.
"Dimana Sifa? Kenapa dia tidak ikut denganmu?" Ningrum menangkap ada sesuatu di antara keduanya. "Apa kamu ingin menelponnya dan memintanya datang untuk makan malam bersama?"
"Tidak Bu, dia sedang sibuk, jadi tidak mungkin dia bisa datang kemari."
"Nak, kamu tidak perlu berbohong. Apakah kamu berselisih dengan Sifa?" Ningrum memegang tangan putranya.
"Nak, ibu tidak tau apa yang terjadi pada kalian. Tapi ibu akan selalu membuka pintu lebar-lebar setiap kamu kembali untuk berkunjung. Jangan khawatir tentang penyakitku, aku bisa mengatasinya sendiri. Selain itu aku juga bisa menghidupi diriku sendiri, jadi kamu jangan pernah khawatir."
Ningrum menghela nafas, "Salahkan aku dan juga ayahmu yang tidak kompeten, hingga membuatmu sengsara."
Vindra tersenyum, " ibu jangan bicara begitu, aku baik-baik saja, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Ibu duduk! Biara aku yang masak. Oya Bu, bagaimana denga jualan ibu?" Vin segera mengalahkan topik pembicaraan, agar ibunya tidak sedih.
"Semua baik-baik saja."
Setelah mengobrol, Vin segera pergi dapur membuka kulkas untuk mengambil ayam dan mengambil pisau di tempatnya.
__ADS_1
Ketika memegang pisau, batu permata milik Vin bercahaya dan membuat tangannya panas. Tanpa sadar Vin membuang pisau tersebut.
"Vin, aku menemukan pisau itu saat membersihkan barang-barang ayahmu. Saat aku melihatnya itu bagus, aku gunakan untuk memotong sayur. Hati-hati menggunakannya, itu sangat tajam. Ibu baru menggunakannya untuk memotong tulang Minggu lalu serasa memotong buah melon." Ningrum mengingatkan putranya.
Vin mengambil pisau itu kembali dan memperhatikan, dia baru menyadari jika itu bukan pisau melainkan belati, yang lebih menarik lagi, ada unik terukir naga dan Phoenix pada bilahnya, yang ternyata adalah belati tua.
"Ibu, apakah dulu ayah seorang tentara?" tanya Vin, Vin tidak yakin itu milik ayahnya atau hanya koleksi saja.
Ningrum tak buru-buru menjawab, dia menyiapkan makanan yang dimasak Vin, setelah itu barulah dia menjawab.
"Iya, itu mungkin pisau pembunuh ayahmu. Ayahmu telah menjadi tentara selama tiga tahun. Tapi tidak ada yang menjanjikan."
"Aku dengar dia hanya bertugas untuk memelihara hewan ternak milik tentara disana. Aku dan ayahmu pacaran selama sebulan dan kami memutuskan untuk menikah. Ayahmu secara fisik tidak subur, dan dia membawamu pulang sebagai anak."
Ningrum mengambil sepotong ayam dan meletakkannya dimangkuk Vin. Vin ingin mengembalikan potongan ayam itu, tapi melihat tatapan mata Ibunya, Vin pun mengurungkan niatnya.
"Faktanya, setelah dua dekade terakhir, ayahmu kembali dengan membawa cidera dari waktu ke waktu, membuatku menghawatirkan keselamatannya. Jika ada kesempatan kedua, aku ingin selalu berada disamping ayahmu." Ada kesedihan Dimata Ningrum, sudah setahun lebih tidak ada kabar tentang suaminya. Vin melihat jika ibunya sedang memikirkan ayahnya.
"Ibu, Apakah ayah sering kembali dengan cidera?"Setelah sekian lama bersama, Vin tidak tau apa-apa tentang ayahnya. Dia ingin bertanya untuk menemukan keberadaan ayahnya, setidaknya dia tau kabar ayahnya masih hidup atau sudah mati.
"Terlalu sering, yang paling serius, jantungnya hampir ditusuk, kami khawatir kamu tau, jadi kami merahasiakannya darimu."
Vin sangat terkejut, mengetahui ayahnya sering cedera tapi dia tidak mengetahuinya. Dia pun bertanya-tanya dalam hati, apakah ayahnya sudah mati? Namun pertanyaan itu dia tepis, dia yakin ayahnya masih hidup.
Setelah membereskan sisa makanan, Ningrum segera pergi mandi dan tidur. Sedangkan Vin masih duduk di kursi sambil memandang foto ayahnya. Vin mengambil ponselnya dan menghubungi Ambar, berharap dia bisa membantu untuk mencari keberadaan ayahnya.
Keesokan harinya, Vin meninggalkan rumah ibunya setelah sarapan dan kembali ke klinik CRISHAN untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Baru saja meneguk teh yang baru dia buat di klinik, sebuah Ferarri merah datang dan berhenti di depan klinik. Pintu mobil terbuka dan Ambar pun langsung keluar.
__ADS_1
Dia duduk didepan Vin dah membuang beberapa berkas diatas meja. "Mengenai informasi ayahmu, tidak ada sesuatu yang penting yang bisa di cari. Aku sudah mencari diri berbagai sumber yang ada."
"Ayahmu, di jemput keluarga Laksma saat usia tiga tahun. Dia kuliah pada usia 18 tahun dan bergabung dengan tentara dan menjadi tentara diusia 25 tahun. Dia juga memelihara ternak seperti yang dikatakan ibumu. Kemudian dia mengejar ternaknya yang melintasi perbatasan, hingga akhirnya dia dipulangkan lebih awal, lalu dia menikahi ibumu dan membawa kamu sebagai anak dari jalan. Aku juga melacak, tempat ayahmu tinggal, memang ada sedikit catatan termasuk berkas tentang cideranya. Singkatnya ada jejak untuk diikuti, tapi tidak bisa masuk terlalu dalam." Jelas Ambar, lalu mengambil teh yang sudah diminum Vin dan tanpa malu-malu.
"Sepertinya tidak ada petunjuk lain. Tapi sepertinya ada dua kemungkinan. Satu dia hanyalah orang biasa, seperti yang tercatat. kedua, ayahmu adalah orang penting dan memang sengaja menutupi identitasnya dan sengaja meninggalkan jejak yang ada. Kamu sangat kuat." Jelas Ambar.
"Aku pikir ayah mertuaku juga orang yang hebat." Ambar mengedipkan sebelah matanya. Wajah Vin merah, dan dia pura-pura bisu dan tuli.
"Aku harap begitu."
"Ada sosok besar dan ayahmu temannya di perguruan tinggi dan dia juga teman saat di angkatan militer."
"Siapa pria besar itu?" Tanya Vin penasaran.
Ambar melengkungkan bibirnya. "Itu tidak ada hubungannya dengan ayahmu. jangan tanyakan! Intinya dia adalah segelintir orang-orang kaya. Aku akan pergi, dan mencari tahu lagi, siapa tau ada informasi yang aku lewatkan."
Ambar memandang Vin, "Aku sudah bekerja keras, hadiah apa yang akan kamu berikan?"
Vindra tampak tak berdaya. "Hadiah apa yang kamu inginkan?"
Ambar tidak menjawab hanya mengulurkan jarinya dan mengetuk di bibirnya yang merah.
Vin pura-pura tidak tau, "Ada apa dengan bibirmu? apa ada masalahnya?"
Ambar mengulurkan tangannya dah mengetuk dahi Vin. "Cepat cium aku!"
To be continued 🙂🙂
__ADS_1