
"Percaya atau tidak kak Vindra adalah bosnya dan dia memiliki hak untuk memutuskan apapun di Star Farmasi." Jawab Lusiana.
Mendengar jawaban mutlak, para staf langsung mengubah sikapnya dan langsung memuji-muji Vindra.
Johan dan Tesa memilih diam, walaupun mereka sedikit menyesal.
Vindra melambaikan tangan untuk meminta semuanya diam.
"Aku datang kesini untuk melihat perusahaan dan mengenal para staf tinggi perusahaan. Selain itu aku juga ingin mengumumkan tiga hal.
Pertama, Nona Dewi dan sekertaris Lusiana akan tetap bertanggung jawab. Aku tidak akan terlihat, kecuali hal-hal penting. Mereka memiliki kekuatan penuh untuk mewakili keinginanku.
Kedua, Nona Dewi tadi malam memberi tahu ku bahwa perusahaan sedang berkembang dengan baik dan keuntungan naik dengan menakjubkan dimasa depan. Oleh karena itu aku akan menaikan gaji kalian sebesar 30%, selain itu jika kinerja kalian semua semakin bagus aku juga akan menambah bonus tahunan."
Semua langsung bersorak. Bagi mereka kenaikan gaji dan kenaikan bonus tahunan, akan membantu mereka dalam mengurangi tekanan biaya hidup keluarga.
Vindra melihat ekspresi kebahagiaan mereka, lalu pandangannya beralih pada Johan.
Ketika Johan melihat tatapan Vindra, punggungnya langsung berkeringat dingin. Dia tahu Vindra datang untuk menyelesaikan masalah. Namun Johan tidak memohon belas kasih. Dia masih mengangkat kepalanya. Karena dia juga memiliki latar belakang, tidak mungkin Vin akan menggertaknya.
"Ketiga, mulai sekarang manager perhubungan masyarakat yaitu Johan akan di pecat dengan alasan memiliki perilaku buruk."
"Ya." Lusiana langsung menjawab dengan hormat.
"Kau memecat ku? Kualifikasi apa yang kamu miliki untuk memecat ku?" tanya Johan dengan marah.
Vindra mencibir, "Aku adalah bos besar, apakah aku tidak bisa memecat mu?"
"Baiklah aku akan mengurus pemecatannya." jawab Lusiana.
Mendengar hal ini Lusiana sangat senang. Dia sudah lama tidak nyaman dengan keberadaan Johan. Tapi dia tidak punya pilihan, yang membuatnya manggung ketidaknyamanan itu sendiri. Sekarang Vindra melakukan tindakan membuatnya dengan senang hati memandang Johan.
Johan berteriak pada Dewi. "presiden Dewi, aku sudah banyak berkorban untuk perusahaan dan aku juga sudah bekerja keras. Kamu tidak bisa membiarkan dia memecat ku. "
__ADS_1
"Ya, Nyonya. Kak Johan juga memiliki hubungan baik denganmu, kamu tidak bisa mengabaikan dia." Saut Tesa yang masih berusaha membela Johan.
"Persahabatan?!"
"Persahabatan macam apa yang aku miliki dengannya?"
Tesa menjawab dengan samar. "Dia memiliki hubungan dekat denganmu. Bahkan jika dia menyebut Lusiana, kamu akan memberinya wajah dan membiarkan Lusiana menjadi asistennya."
"Memiliki hubungan denganku? Johan siapa kamu? siapa yang memberimu keberanian untuk menyebarkan rumor ini?"
"Cepat usir dia dari ini." Perintah Dewi.
Johan mengambil ponselnya lalu berteriak. "Aku akan menuntut mu."
"Lakukan saja. Cepat keluar!"
Beberapa pria bertubuh kekar segera menghampiri dan ingin menarik Johan keluar dari perusahaan.
Pada saat ini beberapa Hummer melaju dan berhenti di depan perusahaan. Pintu mobil terbuka dan Muncul lusinan anak muda, diantaranya ada Raditya Santoso yang kepalanya dibungkus kain kasa.
Dewi menyipitkan matanya, sedikit lebih serius. Dia tahu setiap Raditya Santoso. Tapi dia tidak tahu kenapa Raditya ada disini."
"Tuan Santoso kamu datang tepat waktu." Saat Johan melihatnya, matanya langsung berbinar dan bergegas menghampiri Raditya."Dia sudah menyinggung mu tadi malam, aku akan melindunginya. Jika kamu ingin membunuhnya, bunuh saja dia."
Plakkkk...
Raditya menampar wajah Johan.
Johan langsung menutupi wajahnya dan bertanya dengan bingung. "Tuan Raditya, kenapa kamu memukulku? Seharusnya kamu memukul dia."
Bang...
Raditya menendang Johan. "Brengsek, berani sekali kamu berteriak pada tuan Vindra."
__ADS_1
Raditya memanggil teman-temannya dan mereka langsung menghajar Johan tanpa ampun.
Johan meratap, mengerang, dan hanya bisa menutupi kepalanya dengan tangan dan terus berteriak. "Tuan Raditya kenapa kamu memukuli ku? Aku berteman dengan tuan Wang, Marsel Wang, kamu harus memberinya wajah. Bukankah dia tadi malam menyuruhmu untuk membiarkan kamu pergi."
"Siapa itu tuan muda Wang? Hak apa yang dia miliki, berani memerintah ku memberikan wajah padamu? Tadi malam kamu selamat itu semua karena tuan Vindra. Berani berteriak pada tuan Vindra aku akan membunuhmu."
"Apa?! Berkat Vindra?" Saat ini mata Tesa melebar. Sulit dipercaya jika Vindra yang menyelesaikan masalah tadi malam."Bagaimana ini terjadi?"
Raditya mendekati Vindra dan berkata dengan hormat." Tuan Vindra selamat pagi, aku datang kemari untuk minta maaf."
Setelah kembali tadi malam, Raditya kembali dipukuli ayahnya. Piter Santoso tidak membicarakan tentang keterampilannya dan juga hubungannya melainkan mengatakan siapa saja yang sudah dibunuh Vindra.
Ketika dia mendengar Vindra sudah membunuh lima klan roh jahat Andaro, Para penjagal, dan membunuh snake white, snake Blue, snake Black dengan satu pedagang. Membuat Raditya langsung berkeringat dingin.
Raditya bukanlah orang bodoh, dia menindas orang juga tidak sembarang. Mengetahui Snake black dan yang lain yang merupakan tentang bayaran internasional dan semua mati di tangan Vindra. Dia bisa tetap hidup tadi malam, hanya karena hubungan ayahnya dengan Vindra.
Mengingat Vindra menyakiti semuanya hanya dengan satu botol anggur, membuat Raditya mengambil keputusan untuk menghapus keluhannya dan akan melakukan segera cara untuk bisa berteman dengan Vindra.
"Minta maaf!" Vin tersenyum acuh tak acuh. "Bukankah kamu sudah minta maaf tadi malam?"
"Tadi malam aku terlalu tergesa-gesa, ketulusan dan permintaan maafku tidak cukup. Dan ketika aku kembali untuk memikirkan sepanjang malam. Tiba-tiba aku menyadari apa yang tuan Vindra katakan. Tadi malam jika aku tidak bertemu dengan tuan Vindra tapi bertemu dengan master yang lain, aku yakin aku sudah terbaring di rumah duka sekarang. Jadi aku memberanikan diri untuk datang kesini untuk berterima kasih pada tuan Vindra atas pengajarannya."
Raditya menunjuk kain kasanya. "Untuk itu aku meminta dokter untuk tidak menjahit luka ini dan membiarkan meninggalkan beberapa bekas luka agar aku selalu waspada."
Tesa langsung tahu, jika kejadian yang terjadi di bar tadi malam benar-benar tidak ada hubungannya dengan Johan. Semua itu murni kemampuan Vindra sendiri dan bahkan melindungi yang lain.
Johan yang masih berbaring di lantai tidak dapat mempercayainyam "Bagaimana ini mungkin?" Johan sama sekali tidak bisa memahami sebenarnya siapa Vindra. "Kenapa... kenapa kamu?"
"Hei.." Raditya mendekati Johan lagi dan langsung menendangnya lagi dan membuat Johan kembali mengerang.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir tuan Vindra bisa disinggung olehmu? Aku tidak suka dengan peran kecil seperti kamu, tapi saat kamu berani menyinggung tuan Vindra aku akan menghancurkan kamu."
To be continued 🙂🙂🙂
__ADS_1