Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 171. Kesalahan seorang ayah


__ADS_3

"Halo semuanya," sapa Vindra sambil mengangkat kepalanya


"Halo tuan Vindra." Sapa semuanya serempak, membuat Steven dan semua anak buahnya tercengang.


Mereka tidak menyangka Vindra bisa mengirim begitu banyak orang dari beberapa kelompok besar.


Fendi menghilang tanpa jejak, Steven melakukan yang terbaik bahkan dia membawa ratusan orang untuk menekan, tapi setelah melihat ini membuatnya sadar dia tidak sebanding.


Steven merasa paling bodoh saat ini, dia juga tahu informasi yang dia dapatkan terlalu dangkal, lalu dia menatap Vindra dengan tajam. "Kenapa aku tidak pernah mendengar tentangmu?"


Pria botak kini berbalik bertanya. " Siapa kamu?"


Vindra menatap pria botak itu." Berhenti bicara omong kosong, berlutut, menyerah, dan aku akan menyelamatkan hidup mu."


"Berlutut badan menyerah lah." Teriak Black.


Melihat tidak ada niatan dari pria botak itu, Vindra tidak bicara omong kosong lagi dan langsung memberi perintah kepada Black pemimpin gangster jalanan. "Bunuh tangan kanannya( Bawahannya)"


Segera saja, Black memerintah bawahannya untuk menghajar sebagian anak buah pria botak sebagai gertakan. Teriakkan tidak terelakkan saat black dan bawahannya menghancurkan mereka.


"Bajingan, aku akan bertaruh denganmu." pria botak itu meraung dan langsung menyerang Vindra dengan senjatanya, namun Vindra lebih gesit menyerang pria botak itu lebih dulu dengan tinjuan yang mengenai hidung dan mulutnya dengan keras, membuatnya berteriak dan langsung terbang mundur.


Hidungnya patah, wajahnya berdarah, dan dia tidak mampu lagi memegang Kampak miliknya karena tidak kuat menahan sakit.


Vindra tidak berhenti, dia melangkah maju dan menginjak pria botak itu sambil tertawa kecil. "Berlutut dan menyerah lah."


Steven sangat marah, namun dia hanya bisa berkata, "Vindra aku menyerah.


Melihat pria botak itu tergeletak seperti sampah membuat seluruh anggota Rapunzel berlutut dan mengangkat tangannya menunjukkan bahwa mereka tidak akan memberontak lagi.


Vindra memiringkan kepalanya sedikit, dan Black segera menjatuhkan semua orang lalu mengikatnya.


Steven di biarkan berdiri bersama keluarga Rapunzel yang ikut serta.


"Vindra jangan terlalu menekan orang lain. Aku katakan padamu, bahwa aku ketua grup Rapunzel yang merupakan salah satu tokoh besar di SB.


Nada bicara Vindra acuh Tah acuh."Berlututlah dan berbicaralah."

__ADS_1


Steven kesal dan tersenyum marah. "Kamu pikir kamu siapa? Melihat di seluruh SB, tidak ada yang bisa membuatku bicara sambil berlutut. Bahkan jika ada keluarga Rapunzel tidak bisa dihina."


Awalnya Steven tidak ingin mengekspos dirinya, tapi karena Vindra sudah menginjak harga dirinya dan begitu merajalela, membuatnya tidak ingin bersembunyi lagi.


"Nak, hari ini aku ingin kamu melihat." Steven mengeluarkan pedang pendek. "Seperti apa itu master sejati."


Plakkkk....


Vindra mencibir, dengan suara langkah kaki dan langsung muncul didepan Steven, Vin mengangkat tangannya dan langsung menamparnya.


"Pedang Seamountain." Pedang Steven mengeluarkan kekuatan pusat energi.


Namun detik berikutnya, di tinju dan diterbangkan Vindra, dan saat itu juga Steven melemah.


Steven terjatuh dan pedangnya terpental keluar. Sebelum Steven bisa berdiri, Vindra maju dan tinjuan kembali melayang di wajah Steven, membuatnya menjerit dan jatuh lagi. Steven tak berdaya dia hanya bisa mendengus dengan wajah bengkak.


"Jangan menghina keluarga Rapunzel," ucap Steven dengan sisa tenaganya.


"Bagaimana dengan penghinaan mu? Fendi sampah, dan kamu juga sampah. Kamu memiliki kesalahan sebagai seorang ayah, apa kamu mengerti?" ucap Vindra sambil terus menghajar Steven.


"Katakan padaku, keluarga Rapunzel mana yang tidak bisa dihina?"


Saat Vindra ingin menendangnya lagi, Steven buru-buru berlutut di kaki Vindra.


*****


Keesokan harinya, dengan malas Medina keluar dari hotel. Setelah membantu kakaknya mendapatkan Sifa, dia sendiri juga bermain-main dan bersembunyi sepanjang malam di hotel lain.


Medina sangat senang, karena sudah berhasil merusak Sifa dengan menjebaknya bersama kakaknya, dan lebih senangnya dia akan mendapatkan uang yang cukup banyak dari Fendi yang akan membuatnya menjadi kaya.


Meskipun aset Keluarga Rapunzel sangat banyak, tapi di bandingkan dengan anak-anak keluarga Rapunzel, dia sama sekali tidak memiliki level jika dibandingkan dengan Fendi. Jadi dia sangat senang saat Fendi menjanjikan banyak uang padanya.


Saat pagi, Medina beri mengetahui ada begitu banyak panggilan telepon dan juga pesan singkat. Banyak pertanyaan yang menanyakan keberadaan Fendi, dan satu panggilan yang dia terima adalah dari ayahnya.


Ayahnya meminta Medina menemuinya di rumah teh Ex sebelum pukul delapan.


Ayahnya sebelumnya tidak pernah menghargainya apalagi mengajaknya minum teh bersama, jadi pagi ini dia begitu semangat untuk pergi.

__ADS_1


Hampir pukul delapan Medina sampai, dan saat dia keluar dari taksi, Medina melihat rumah teh Ex Kini sudah banyak berubah dari sebelumnya dan terlihat lebih sepi.


Medina tidak terlalu perduli, setelah membayar ongkos, Medina segera masuk dan naik ke lantai tiga dimana tempat Wiliam Wells meninggal.


Saat sampai di lantai tiga, pemandangan didepannya membuatnya terkejut. Di ruangan itu, di atas meja bundar dipenuhi begitu banyak makanan hangat. Vindra duduk di kursi sambil memegangi sendok, sambil menikmati sarapan dengan santai.


Yang membuat Medina lebih terkejut di sisi lagi ada seorang pria yang tengah berlutut, hidung biru, wajah bengkak dan baju compang-camping. Dia adalah ayah medina, Steven Rapunzel, yang selalu bersikap seperti singa.


Sang ayah, yang dulu selalu membuatnya takut hanya dengan tatapan matanya, kini seperti anjing yang sedang berduka.


"Ayah..." Medina bergegas menghampiri dan memegang lengan Steven. " Mengapa ayah berlutut disini? Apa yang terjadi?"


Steven tidak menanggapi, tapi menatap putrinya dengan mata pahit, ingin sekali mencekik putrinya itu sampai mati.


Jika bukan karena ide buruk Medina, tidak mungkin putranya bernasib malang.


"Vindra, kamu sampah, kanapa kamu ada disini? Apa yang kamu lakukan pada ayahku?" teriak Medina. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, tapi melihat hanya ada mereka berdua, medina sudah pasti paham jika pelakunya adalah Vindra.


Vindra menghabiskan tehnya dalam sekali teguk, lalu menyeka sudut mulutnya dengan tisu, kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati Medina.


Setiap langkah Vindra membuat jantung Steven berdetak kencang. Namun Medina masih tidak paham apa yang terjadi.


"Vindra, keluarga Rapunzel, bukan sesuatu yang bisa kamu singgung. Aku tidak perduli apa yang sudah kamu lakukan, Biarkan ayahku segera bangun, apa kamu dengar?" teriak Medina.


Vindra tersenyum tipis," mengapa ada wajah begitu cantik, tapi hatinya seperti ular."


Medina marah, "brengsek, kamu tidak punya hak untuk menilai ku."


Vindra berjalan mendekat, dan tanpa bicara langsung menampar Medina.


"Ah.." Medina berteriak, saat itu juga wajah cantik Medina menjadi bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Bajingan berani sekali kamu menamparku."


Plakkkk...


Sebelum Medina menyelesaikan kata-katanya, Vindra kembali menampar Medina dan membuat riasannya berantakan.

__ADS_1


To be continued 👍👍👍


__ADS_2