Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 47. Hadiah untuk Vindra.


__ADS_3

Susi membawa Vin pergi ke ruangannya, setiap langkah Susi selalu Vin perhatikan, untuk memastikan seberapa parah cidera yang di alami Susi.


Sesampainya di ruangan direktur, Susi mempersilahkan Vin untuk duduk.


"Kenapa kamu masih mengenakan high heels, padahal kakimu sudah cidera cukup parah, kalau kamu tetap melakukan itu, berarti kamu memang ingin kakimu di amputasi." Tergiur Vin.


Susi langsung melepas high heels miliknya. "Aku tidak tau kalau itu akan memperburuk keadaan."


Tanpa membuang waktu, Vin segera berjongkok di depan Susi dan mengangkat kaki kanannya lalu ia letakkan di pahanya.


Vin memeriksa telapak tangannya dan mendapati bekas luka di telapak kaki Susi.


"Luka ini kamu dapat darimana?" tanya Vin sambil memeriksa bekas luka itu menggunakan batu permata.


"Luka itu aku dapatkan saat bermain skating es. Saat itu aku tidak sengaja mengalami kecelakaan karena kesalahanku saat bermain." Jelas Susi.


"Mulai sekarang jangan makan makanan dingin dan seafood, itu bisa mengakibatkan peradangan. Selain itu kamu juga harus melakukan pemeriksaan rutin jika kakimu tidak ingin diamputasi."


Vin menelisik akibat cidera yang di alami Susi ternyata sudah membuat beberapa organnya mengalami masalah. Itulah sebabnya kenapa Susi akan merasakan sakit saat dia sedang marah ataupun rasa nyeri yang teramat di beberapa bagian tubuhnya jika sudah kambuh.


"Aku akan mencoba mengobatinya, tapi setelah membaik, makanan yang aku larang tolong jangan dimakan selain itu jangan menggunakan high heels selama kakimu belum sembuh. Kamu masih bisa menggunakan flat shoes." Jelas Vin lalu ia menggunakan Jarum perak miliknya untuk membantu Susi detoksifikasi.


Selama proses akupuntur, Susi terus memperhatikan wajah Vin yang diperhatikan ternyata sangat tampan dan Susi baru menyadarinya saat pikirannya jernih.


Vin sesekali melirik Susi yang terus memperhatikan dirinya, namun Vin tak menggubris dia hanya ingin membantu Susi mengobati kakinya.


"Sudah selesai, Bagaimana sekarang, apa sudah tidak terlalu sakit? tanya Vin lalu kembali duduk di sofa.

__ADS_1


Susi menggerakkan kakinya bahkan di bawahnya berjalan tanpa alas kaki dan merasa lebih ringan dan tidak sakit lagi.


Susi benar-benar tak percaya kalau dia tidak akan merasa sakit yang berlebih. Susi melampiaskan rasa senangnya secara tak sengaja dengan memeluk Vin dan terus mengucapkan terimakasih.


Setelah sadar dengan apa yang di lakukannya Susi segera melepaskan pelukannya. "Maafkan, aku tidak bermaksud begitu," ucap Susi dengan nada rendah sambil menggigit bibir bawahnya karena malu.


"Tidak papa. Aku paham kamu hanya meluapkan kebahagiaanmu saja," jawab Vin singkat lalu memberikan resep obat untuk Susi.


Susi segera mengambil sesuatu dari dalam lacinya dan memberikannya kepada Vin.


"Ini ada hadiah kecil dariku. Aku tau kamu dan istrimu, hubungan kalian kurang baik. Aku harap hadiah kecil ini bisa membantumu membujuk istrimu." Susi memberikan kotak hadiah itu pada Vin dan Vin pun menerimanya dengan senang hati.


"Bolehkah aku meminjam mobilmu sebentar?" Tanya Vin, karena dia ingin membuat kejutan untuk istrinya saat datang ke restoran.


"Buat apa pinjam, aku sudah menyiapkan hadiah lain untuk tuan." Susi melemparkan kunci mobil pada Vin.


Di saat yang sama sepasang suami istri muda tiba-tiba datang ke ruangan Susi.


"Dimana dokter genius itu? Aku ingin bertemu dengannya dan meminta tolong padanya, agar kami bisa segera memiliki bayi." Tanyanya kepada Susi.


"Kak, tenang. Aku akan memperkenalkannya padamu." Jawab Susi menenangkan keduanya agar tidak buru-buru.


"Tuan Vin, kenalkan mereka adalah Kak Romeo dan istrinya Jesica, Kak Romeo itu kakakku dan dia memegang saham terbesar di bank BBI dan maaf kalau kedatangannya mengejutkan tuan Vin." jelas Susi.


"Tidak papa, aku bisa memaklumi," jawab Vin. Namun mendengar nama bank BBI membuat Vin ingat kalau bank tersebut membuat Sifa mengalami kekurangan dana.


Romeo dan Jessica menatap Vin dengan tatapan merendahkan.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau pria ini adalah dokter genius itu. Apa kamu yakin bisa mengobati orang, dari penampilanmu saja sudah tidak meyakinkan," ucap Jessica dengan angkuhnya.


"Aku bukan dokter genius, aku mengobati orang karena hobi saja, selama aku bisa membantunya aku akan melakukannya." jelas Vin.


"Dasar pria ceroboh, bagaimana kamu bisa mengobati orang lain dengan sembarangan tanpa di bekali ilmu pengetahuan, yang ada kamu malah akan mencelakai orang orang lain. Ternyata kamu salah menilai, kami pikir orang yang mengobati kakek adalah dokter genius tidak taunya hanya pria yang mengandalkan keberuntungan saja." sindir Romeo.


"Kak, apa yang kakak katakan. Tuan Vin ini benar-benar bisa mengobati orang lain dan sudah terbukti, kekek bisa pulih bahkan baru saja tuan Vin membantuku mengobati kakiku yang sakit dalam waktu singkat. Jangan merendahkan orang sembarangan. Kalau kakak tidak percaya kakak bisa membuktikan dengan meminta tolong langsung padanya tanpa perlu menghina." Saut Susi membela Vin. Susi tidak terima jika orang yang sudah membantu dirinya di rendahkan begitu saja.


Romeo terkejut mendengar penjelasan Adiknya dan tak menyangka di balik penampilannya yang biasa ternyata benar-benar dokter genius.


Vin tidak tersinggung ataupun marah. Apa yang dikatakan Romeo ada benarnya juga. Penampilan dirinya yang apa adanya, mana mungkin orang akan mudah percaya kalau dirinya bisa membantu mengobati orang yang membutuhkan pertolongan dirinya. Namun Vin juga tidak bisa memaksakan orang untuk percaya padanya dengan mudah.


Vin menghampiri Romeo dan menepuk pundaknya, "Jika ingin memiliki anak, kalian harus membuka titik akupuntur Ren dan Du maka akan ada kesempatan untuk mendapatkan seorang anak," ucap Vin lalu pergi meninggalkan mereka.


Keduanya saling menatap dan bertanya-tanya apa maksud dari kata-kata nya. Romeo ingin mengejarnya namun sayangnya Vin sudah pergi.


"Susi tolong bicara padanya dan tanyakan apa maksud dari kata-katanya tadi. Jika memang apa yang dikatakannya benar dan kami masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan anak kami akan melakukannya. Tapi minta padanya untuk menjelaskan maksudnya," desak Jessica.


"Baiklah aku akan mencoba menghubunginya." Jawab Susi lalu segera menghubungi Vin. Namun beberapa kali Susi menghubungi tidak ada satupun yang terhubung.


"Sepertinya ponselnya tidak aktif. Kalian tenang saja, aku nanti akan berusaha menghubunginya lagi dan memintanya untuk menjelaskan dan aku harap tuan Vin masih murah hati membantu kalian setelah kata-kata kalian yang mungkin sudah menyinggung perasaannya. "


"Katakan padanya kalau kamu minta maaf karena sudah memandangnya rendah bahkan jika meminta kami untuk minta maaf langsung kami akan melakukannya, tolong sampaikan pesan kami."


Mereka pun akhirnya pergi dengan perasaan bersama karena keinginan untuk bisa di obati oleh dokter genius itu agar bisa memiliki anak sekarang tinggal beberapa persen saja kesempatan itu.


Disisi lain, Vin pergi ke restoran FX menggunakan mobil Ferrari sport limited edition untuk menemui Sifa sesuai janji pagi tadi.

__ADS_1


To Be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2