
Di perjalanan, Sifa yang masih penasaran pun bertanya, "Bagaimana kamu bisa memecat Medina? dan pimpinan itu begitu mudah menyetujuinya." Sifa hampir tak percaya, saat Vin memerintahkan manager itu untuk menyebut namanya saja dan langsung membuat pimpinan Bank menyetujuinya.
"Aku mengenal pimpinan Bank, dia orang tua dari Susi." Jelas Vin. Tanpa memberitahu kalau Susi adalah wanita yang sudah menghinanya.
"Apa kamu meminta bantuan pada nyonya Ambar? Aku yakin itu tadi hanya alasanmu saja. Vin untuk kedepannya aku harap kamu jangan menyusahkan nyonya Ambar lagi atau bergantung padanya. Aku tau Nyonya Ambar memiliki kekuasaan dan berhati baik , tapi bukan berarti kamu bisa berharap terus padanya, aku takut suatu hari nanti kamu dimanfaatkannya. Semua tidak ada yang gratis Vin, aku rasa Nyonya Ambar menyimpan sesuatu dibelakang bantuannya.
"Aku bicara jujur, Percayalah padaku. Kamu tidak boleh meragukan kebaikan Nyonya Ambar." Jawab singkat Vin yang tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Lalu kenapa kamu mengingkari janji, Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak mencairkan uang dari paman Dom, bahkan tadi juga sudah aku ingatkan padamu. Tapi kenapa kamu masih saja mencairkannya?" saut Sifa mengalihkan pembicara.
"Dengarkan aku Sifa, aku punya banyak hutang, di rentenir, pinjol, hutang-hutang lain yang sudah lama tidak bisa aku lunasi dan sekarang yang aku harus melunasinya agar hidupku lebih tenang, Selain itu kamu kamu juga sedang kekurangan dana kan, Nanti sisa aku melunasi semua hutang-hutangku, uangnya bisa kamu gunakan untuk tambahan dana yang saat ini kamu butuhkan untuk perputaran modal usahamu." Jelas Vin.
" Tidak Vin, lebih baik sisa uang yang kamu miliki gunakan untuk membeli rumah untuk ibu Ningrum, setidaknya agar hidupnya lebih tenang kalau punya rumah sendiri. Aku tidak bisa menerima bantuan dari uang mereka." Tolak Sifa.
"Kalau kamu tidak mau, menerima uangku, Bagaimana kamu bisa menutupi kekurangan dana yang saat ini sedang kamu alami? Atau bagaimana kalau meminjam uang pada salah satu temanku. Pasti dia mau membantu." jawab Vin memberi solusi.
"Apakah itu nyonya Ambar?"
"Bukan."
Sifa mengambil sehelai rambut yang menempel dipundak Vin.
"Aku tidak percaya kalau bukan dia, bahkan tubuhmu masih menyisakan parfum nyonya Ambar. Aku yakin Nyonya Ambar juga sudah menggodamu. Dengarkan aku Vin, sampai matipun aku tidak akan pernah mau menerima uang dari nyonya Ambar. Aku masih bisa mencarinya sendiri tanpa ada campur tangan darinya." jawab Sifa dan Vin hanya tersenyum mendengarkan penolakan Sifa lagi dan lagi.
__ADS_1
Aku tau kamu cemburu Sifa, hanya kamu sulit kamu untuk mengungkapkannya. Aku tidak masalah kamu mau menerima atau tidak. Tapi aku akan selalu berada di belakang mu untuk mendukung dan membantumu. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan membutuhkan aku.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu lagi. Terserah kamu saja. Tapi ingat jika kamu butuh bantuan, aku akan selalu ada di belakangmu untuk membantu mu."
"Aku harap tidak."
Saat sedang ngobrol, ponsel Vin berdering dari dalam saku celananya. Buru-buru Vin merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya. Vin melihat ada nama paman Dom dalam panggilan itu.
"Paman Dom. Ada hal penting apa sampai dia menghubungiku? Apa masalah cek tadi?" gumam Vin dan segera mengangkatnya. Vin meletakkan ponselnya di antara sela helm dan telinganya agar ia tetap bisa konsentrasi mengendara.
"Ada apa paman?" tanya Vin setelah mengangkat panggilan itu.
" Tuan, saya mendapatkan informasi sebelumnya kalau Tuan Robi, sedang mengendalikan Zen dan Nyonya Lidia dan berencana ingin membunuh Keduanya. Tapi yang terjadi sekarang di luar dugaan. Zen dan ibunya tiba-tiba menghilang bahkan Tuan Robi pun saat ini juga menghilang. Tuan sayang peringatkan agar untuk lebih waspada lagi, takutnya Zen dan ibunya mencari masalah pada tuan, kerena tuan sudah membongkar semua kebusukan mereka dan menghancurkan rumah tangganya." Jelas Paman Dom yang ingin memperingati Vin karena paman Dom tidak bisa sepenuhnya menjaga Vin.
Segera saja Vin menghentikan motornya dan menghadang mobil tersebut saat mendapati istrinya terluka. Vin benar-benar marah dan ingin minta pertanggung jawaban dari pemilik mobil tersebut.
Dari dalam mobil keluar seorang laki-laki yang membawa adik angkatnya. Vin langsung mengenali mereka berdua yaitu Ferdi dan Mayang yang merupakan tersangka yang menjadi buronan polisi dan siapapun yang menangkapnya akan mendapatkan upah yang tinggi dan sekarang ada di depannya dan ingin mencari masalah dengan Vin.
Dari penglihatan Vin mengetahui jika laki-laki itu adalah selingkuh dari nyonya Lidia dan merupakan ayah kandung Zen.
Kalian benar-benar pasangan sampah. Tidak akan aku beri kesempatan kalian lagi untuk bisa berkeliaran bebas.
"Brengsek, Berani sekali kalian menabrak istriku!" Teriak Vin dengan kemarahan. Namun mereka malah tertawa dan menolak untuk menolong Sifa.
__ADS_1
"Memang itu tujuanku. Aku akan membuat kamu dan wanitamu menemani Robi ke dalam neraka bersama." Ancam Ferdi.
"Jangan basa-basi lagi Fer, segera lenyapkan dia sekarang juga, aku sudah tidak sabar melihat dia mati." perintah Mayang.
Ferdi pun segera menyerang Vin untuk menghabisinya. Dalam sekali serangan Vin langsung membalikkan serangan dan berhasil membuat Ferdi tersungkur. Dalam kemarahan Vin meraih kerah Ferdi dan menariknya untuk berdiri.
"Aku sudah memperingatkan kamu baik-baik, tapi kamu malah mengacuhkan peringatkan ku. Sekarang rasakan akibatnya, aku kan meremukkan semua tulang-belulang yang ada di tubuhmu. Anggap saja ini adalah hari naas buat sampah seperti kamu." Dalam amarah Vin melempar tubuh Ferdi ke arah mobilnya dan seketika Ferdi dan mobil itupun hancur. Ferdi mengerang kesakitan saat seluruh tubuhnya penuh luka dan merasakan tulang-tulang di tubuhnya terasa patah.
Mayang yang tidak terima segera mengeluarkan belatinya untuk menikam, namun Vin lebih dulu menangkap tangan Mayang dan mematahkan pergelangan tangannya. Mayang berteriak menahan rasa sakit hingga belati itu pun jatuh dari tangannya.
"Kamu ingin mengirimkan ku mereka, maka aku yang akan mengirim mu kesana lebih dulu. "Vin pun menampar Mayang cukup keras dan membuatnya langsung jatuh pingsan.
Setelah mengalahkan keduanya, Vin segera membebaskan Robi yang sempat di sekap dalam mobil.
"Paman tidak papa? tanya Vin memastikan.
"Terimakasih, tuan Vin sudah menyelamatkan saya."
"Cepat hubungi polisi untuk menangkap mereka. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang juga. " pinta Vin dan segera membawa Sifa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Sedangkan Ferdi dan Mayang akhirnya berhasil di tangkap polisi setalah menjadi buronan yang cukup lama.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1