Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 82. Serangga beracun.


__ADS_3

Vin pergi meninggalkan Sifa begitu saja, dia pun segera masuk ke dalam mobil Romi dan pergi.


"Tuan, kita mau pergi kemana?" tanya Romi.


"Mencari Paman Dominic."


Vin yakin Fendi tidak akan menyerahkan uang itu besok, jadi Vin berencana menemui Dominic untuk dan menyerahkan masalah Fendi padanya.


Mereka pun segera pergi ke PBI untuk mencari Dominic. Romi pun mengikuti navigasi untuk mempersingkat waktu, dan mereka memilih melewati jalan Gunung Batu.


Saat sampai di perlintasan Gunung Batu, Vin merasakan ada sesuatu yang mencekam, dan secara naluriah Vin meningkatkan kewaspadaannya.


Ketika melewati Villa terbengkalai, Romi segera menginjak rem. Beberapa mobil menghalangi jalan mereka.


Vin memperhatikan mobil didepannya dan melihat mobil yang menghalangi itu dalam keadaan rusak. Setelah memperhatikan dengan seksama dan melihat plat mobilnya, Vin menyadari sesuatu.


"Bukankah itu mobil Dominic?"


"Bagiamana bisa mobilnya ada disini dalam keadaan rusak?" tanya Romi heran.


Samar-samar Vin menangkap suara teriakan di dalam villa yang belum selesai itu.


"Romi, kamu tetap disini dan kunci mobil. Aku akan keluar dan mencari tau apa yang terjadi.


Setelah itu, Vin segera membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Dia pun segera mencari tau apa yang terjadi.


Dominic dan Vin telah menjadi teman, jadi Vin memutuskan untuk mencari tau apa yang terjadi.


Vin memasuki area Villa yang luas namun sudah bobrok, banyak rumput liar yang tumbuh, dan juga semen dan batu kerikil yang sudah berantakan. Membuat Vin sedikit kesulitan untuk berjalan. Dia hanya bisa mengikuti jejak yang ada.


Sesampainya disebuah pintu Villa, Vin mendapati Dominic yang sedang terluka parah.


Di dekatnya berdiri tiga laki-laki dan satu wanita yang bernama Silvia dengan wajah dingin. Terlihat lengkungan di bibirnya, seakan ada penghinaan besar seumur hidupnya.

__ADS_1


"Dominic, kamu memang hebat, membuat kami kesulitan untuk mengejar mu. Tapi sayangnya kami harus tetap mengganggumu sebelum kamu berjanji pada kami kamu akan membunuh Hendra Jakson. Jadi bagaimana kami bisa melepaskan kamu?" ucap Sivia yang acuh tak acuh.


Seorang pria di sampingnya mengeluarkan sebuah botol transparan yang berisi seekor serangga beracun.


"Menang ataupun kalah, tetap sama saja. Semuanya akan jatuh ke tanganmu, aku akui itu. Hanya saja kamu terlalu licik." Jawab Dominic dengan nafas tersengal-sengal.


Dominic menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Sudah aku bilang, aku tidak akan mengkhianati tuan Jakson. Jadi lebih baik cepat bunuh aku sekarang juga."


"Aku menghargai kesetiaan, tapi untuk saat ini itu tidak berguna." Cibir Silvia lagi. "Aku akan memberikan serangga beracun ini ke dalam tubuhmu, aku yakin kamu akan berlutut dan meminta belas kasih untuk penawarnya, setidaknya dalam tiga menit."


Mata Dominic langsung tertuju pada serangga beracun itu. Dan dia tau betul jika serangga itu sangat mematikan.


"Kamu memang benar-benar tidak tau diri." teriak Dominic.


"Selama Hendra Jakson bisa dibunuh, tidak ada namanya metode tidak tau diri lagi."


"Apa kamu masih ingat, saat Ambar mengusir mu? Kamu datang meminta bantuan tuan Jakson. Aku tidak bodoh, tuan Draco tidak bodoh dan kamu juga tidak bodoh kan?" ungkap Dom dengan tegas.


"Jika Ambar tidak mendapatkan dukungan dari Jakson, tidak mungkin Ambar dan yang lainnya di bisa mengusir kita. Dan saat itu juga PBI akan menjadi milik kita." ungkap Silvia dengan kesal.


"Cuih. Orang yang lebih rendah dari penjahat itu tidak kan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Jangankan enam tahun, enam puluh tahun pun dia tidak akan bisa penguasa." Saut Dom dengan jijik.


"Satu-satunya penyesalan dalam hidup, Kenapa tuan Jakson tidak mengizinkan aku membunuh kalian semua." teriak Dom penuh dengan kemarahan, karena posisinya saat ini yang tengah tak berdaya.


"Saat ini kamu hanya menerima nasibmu. Jangan kuatir sebentar lagi Ambar dan yang lainnya akan segera berlutut."


Dom benar-benar putus asa, ia mengambil patahan belati dan hendak menikah tenggorokannya sendiri untuk mati, agar tidak merasakan siksaan dari lawan.


Namun Silvia dengan cepat menendang Dom hingga patahan belati itu terjatuh. Silvia lalu berjongkok dan mengambil botol yang berisi serangga beracun dan hendak memasukannya kedalam mulut Dom.


"Berhenti!" tahan Vin yang tiba-tiba muncul.


Vin tidak suka ikut campur, namun melihat keputusasaan Dom dan berhubungan dengan Ambar, Vin tidak bisa tinggal diam.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Silvia dan ketiga laki-laki yang bersamanya segera menyebar dan mengelilingi Vin dengan membawa belati.


Dom terkejut sejenak, tak menyangka Vin muncul. "Tuan cepat pergi!" teriak Dom.


"Siapa yang mengirim mu kesini?" tanya Silvia, mendekati Vin dan menepuk pundaknya.


"Kamu memiliki cacing merah didalam tubuhmu kan?" ucap Vin, membuat Silvia terkejut.


"Bagaimana kamu tau?"


"Cacing itu berada di dekat hatimu, dan bisa membunuhmu kapan saja." jelas Vin. Aku bisa membantumu mengeluarkan cacing merah itu, dengan satu syarat bebaskan paman Dom." jelas Vin acuh tak acuh seperti biasa.


"Kamu ingin membantuku? dengan imbalan Dom bebas? Maaf aku tidak bisa janji. Aku tidak membutuhkan kamu untuk mengeluarkannya cacing itu."


Vin awalnya berfikir, jika dirinya membantunya, Silvia akan mau membebaskan paman dom. Kerena hidupnya lebih berarti, namun ternyata salah. Tebakan Kedua pun muncul, kalau sebenarnya cacing merah itu memang sengaja di masukkan seseorang untuk mengendalikannya dan tentunya orang itu sangat kuat, hingga membuat Silvia berlutut.


"Sepertinya transaksi kita gagal. Jangan salahkan aku jika usiamu tidak akan lama lagi."


Silvia tak perduli, dan dengan arogan meminta ketiga lelaki itu menyerangnya. Saat ketiga laki-laki itu hendak menyerang.


Vin mengambil kerikil dan menembakkan kerikil itu ke arah Silvia. Kerikil itu pun melesat begitu cepat dalam waktu singkat, membuat siapapun yang menjadi sasaran tak akan bisa menghindar lagi.


Silvia yang mengangkat belatinya untuk menyerang, Kerikil itu sampai dan langsung mengenai dahi Silvia.


Dalam waktu sekejap, semuanya menjadi sunyi. Karena satu kerikil yang mematikan.


Vin mendekati, dan Silvia masih bisa menatap Vin.


"Siapa kamu...?"


Vin mengambil belati yang ada di tangan Silvia." Ada kata-kata terakhir?"


Namun Silvia langsung memuntahkan darah dan langsung meninggal dengan mata terbuka.

__ADS_1


Setelah Silvia meninggal, seekor cacing merah keluar dari hidungnya dan saat itu juga Vin menebasnya dan membelahnya menjadi dua bagian dengan belati, membuat semua yang melihat benar-benar terkejut.


To Be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2