Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 48. Dilamar Fendi


__ADS_3

Sesampainya di restoran, Vin ingin menemui Sifa, namun dari kejauhan melihat Medina dan kakaknya Fendi Sedang berdiri di antar lilin-lilin yang berbentuk hati dan juga hiasan dan lampu yang membuat suasana menjadi romantis. Fendi dengan bahagia memegang buket bunga mawar di tangannya. Sedangkan di depannya ada Sifa yang tengah tercengang dengan kejutan dadakan dari Fendi padahal Sifa berencana ingin memberikan kejutan pada Vin.


Sifa tak tau kalau akan ada kejutan tak terduga dari Fendi saat dirinya datang ke restoran untuk bertemu dengan Vin. Medina yang tiba-tiba muncul di hadapan Sifa langsung membujuknya, yang kebetulan ada di restoran itu untuk mengikutinya. Ternyata kakak beradik itu sudah merencanakan semuanya.


Fendi menghampiri Sifa yang masih diam mematung, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sambil berlutut dengan satu kaki, Fendi mengeluarkan cincin berlian untuk melamar Sifa.


Para tamu restoran yang berada di area outdoor pun bersorak melihat Fendi melamar di tempat umum dengan romantis dan membuat mereka iri.


"Sifa, Tahun lalu aku pergi keluar negeri dengan terpaksa dan meninggalkan kamu begitu saja. Itu semua aku lakukan karena mengembangkan bisnis keluarga ku dan sekarang aku kembali ingin memperbaiki semuanya. Sifa Maukah kamu menikah denganku? Aku janji akan membahagiakan kamu,"ucap Fendi dengan sungguh-sungguh.


Diluar Vin ingin melihat reaksi Sifa dan ingin tau rasa yang dimiliki Sifa padanya. Namun Vin berharap Sifa mencintai dirinya dan menolak lamaran laki-laki itu.


"Aku tau mungkin kamu kecewa padaku karena aku sudah meninggalkan kamu cukup lama. Menikahlah denganku dan aku akan membuat hidupmu jauh lebih baik dari sekarang." Imbuh Fendi.


Semua orang yang ada di restoran itu bersorak meminta Sifa untuk menerimanya. Sorakan itu terus menekan Sifa untuk menjawab.

__ADS_1


Dengan menarik nafas panjang, Sifa pun menjawab," Maaf aku tidak bisa menerima mu. Karena saat ini aku sudah bersuami. "


"Aku tau, dan kamu menikahinya karena terpaksa kan dan hanya sebagai pelengkapan untuk membuang kesialan. Dia tidak pantas berada di samping mu Sifa. Hanya aku! hanya aku yang pantas menjadi pendamping hidupmu. lebih baik ceraikan dia dan menikah denganku." Bujuk Fendi terus menerus.


Namun Sifa tetap kekeh dan berkata sekali lagi." Aku sudah punya suami. Tidak pantas seorang wanita yang bersuami menceraikan suaminya hanya untuk laki-laki lain, dan jujur rasaku padamu sudah tidak ada lagi. Lebih baik jangan berharap denganku lagi.


" Aku tidak perduli, kalaupun kamu sudah pernah menjadi milik orang lain, aku akan tetap mencintaimu sama seperti saat kita bersama dulu. Aku yakin rasa itu juga masih ada dalam dirimu, hanya kamu enggan untuk mengungkapkannya, menikahlah denganku Sifa, aku ingin melewati hari-hari bersamamu seperti dulu." Fendi masih bersikeras untuk membujuk Sifa.


Ditambah Medina yang ikut membujuk Sifa, " Sifa, apa kurangnya kakakku. Dia begitu baik bahkan tak mempermasalahkan kalau kamu pernah menikah. Sudahlah terima saja, kakakku jauh lebih dari laki-laki sampah itu. Lagian aku yakin kamu juga tidak mencintai suamimu itu kan?"


Vin yang mendengar dari kejauhan, akhirnya paham perasaan Sifa yang sebenarnya. Karena itu juga menjadi alasan Sifa menggunakan segala cara agar Vin tidak menceraikannya.


'Sekarang aku tau perasaanmu sebenarnya, walaupun tidak kamu ungkapkan secara langsung, tapi aku paham kalau cinta mulai tumbuh di hatimu untukku. Mulai sekarang dan kedepannya aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu.' gumam Vin.


Vin ingin segera masuk ke dalam dan membantu Sifa mengatasi desakan Fendi, namun sayangnya saat dirinya hendak masuk tiga pria bertubuh kekar menghadang Vin dan tidak mengizinkannya masuk.

__ADS_1


"Minggir kalian, aku ingin masuk! Apa kalian tidak tau, wanita yang sedang di lamar laki-laki lain itu adalah istriku. aku ingin masuk dan membantunya. Jadi minggir aku ingin masuk!"


Bukannya di persilahkan, tubuh Vin melah di dorong.


"Ternyata kamu suaminya, laki-laki sampah yang tinggal di rumah keluarga istrinya masih berani melihatkan wajahnya. Dasar tak tau malu." Hina mereka sambil terkekeh.


Vin yang tak terima di rendahkan mendorong balik Mereka, " Kalian tidak punya hak untuk ikut campur urusan keluarga kami. Mau aku tinggal dengan keluarga istri ataupun tinggal di rumah sendiri itu bukan urusan kalian. Lagian kalian juga tidak lebih kehidupannya sama seperti dirimu bahkan lebih parah. "


Kata-kata Vin ternyata menyinggung salah satu dari mereka dan langsung melayangkan tinjuan ke wajah Vin.


Adu fisik pun tak dapat di elakan. Vin yang ingin segera masuk namun terus dihalangi membuatnya tak punya pilihan lain selain melawan dan menyelesaikan mereka bertiga secepat mungkin.


Satu persatu Vin robohkan mereka hingga tidak ada lagi yang menghalangi Vin untuk masuk.


Vin melangkah lebar menghampiri istrinya dan ketiga penjaga itu tergeletak di lantai.

__ADS_1


To Be continued ☺️☺️


__ADS_2