
Melihat keberadaan Vindra, membuat Regina dan Riana terkejut. Mereka tidak mengharapkan keberadaan Vin saat ini di restoran tersebut. Keduanya memegang lengan William bersebelahan lalu mengatakan sesuatu pada William.
Segera saja Wiliam memanggil anak buahnya dan berjalan mendekati meja Vindra. Martin yang yang merasa akan terjadi sesuatu, ia pun bergegas menyeret tubuhnya mundur beberapa meter, menjauh dari Vindra dengan penuh kecemasan.
Tiba-tiba Wiliam mengambil botol anggur dan membantingnya tepat di atas meja Vin. Vin berusaha menghindar, hingga botol tersebut pecah, piring pecah bahkan steak yang ada di atas piring kini tergenang minuman anggur, hingga tidak bisa dimakan lagi.
Vin segera menghentikan Romi yang hendak melawan William. Lalu ia pun bertanya pada William, " Apa yang sudah kamu lakukan?"
Wiliam dengan santai mengetuk sepatunya ke lantai. " Kamu sudah membuat masalah dengan Regina dan Riana, dan ini hanya sekedar gertakan untukmu."
"Apa kamu ingin cari mati, dengan membela mereka?" Tanya Vin dingin.
"Jaga ucapanmu. Apa kamu tidak takut padaku?"
Vin mengerutkan keningnya, " Takut padamu?! Sama sekali tidak." saut Vin. Tapi jawaban Vin membuat anak buah William marah.
"Apa kamu sudah lelah untuk hidup? Apa kamu tau, siapa yang sedang kamu lawan? Dia adalah tuan Wiliam Wells Berani kamu bicara dan menantang tuan William. Kamu pasti akan menyesal setelah ini," saut salah satu anak buah William.
Wiliam segera menghentikan anak buahnya, untuk tidak arogan lebih awal. "Kamu sangat berani menantang ku. Apa kamu tidak pernah berfikir keselamatanmu setelah ini? Lebih baik sekarang kamu minta maaf pada Regina dan Riana, selain itu kamu juga harus membayar kompensasi sebesar sepuluh juta, lalu potong tanganmu sendiri dan aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Kalau tidak, aku bisa memastikan kamu tidak akan bisa melihat matahari besok pagi!" ucap William sambil menunjukkan ekspresi kejam dan mengerikan.
Vin hanya menyipitkan matanya. "Pergi bajingan!" Perintah Vin.
Ucapan Vin tidak bisa diterima Wiliam lagi. Dia pun melambaikan jarinya untuk memerintahkan anak buahnya maju untuk menghajar Vin.
"Wiliam! Siapa yang memberimu keberanian untuk menantang saudaraku?" Teriak Dominic yang tiba-tiba muncul dengan beberapa orang berpakaian jas hitam berada di belakang Dom. Walaupun terlihat lelah, Dom masih nampak begitu semangat setelah menyelesaikan urusan bisnisnya.
" Berhenti! Vindra adalah saudaraku, jika kamu berani menyentuhnya walaupun hanya rambutnya, aku pastikan akan membunuhmu!" ancam Dom.
__ADS_1
Sekarang Dom berani menunjukkan sikapnya secara langsung untuk membela Vin. Beberapa waktu lalu, Dom hanya membantunya dari belakang, namun saat dia berjanji untuk mengikuti Vin, dia tidak segan menunjukkan sikapnya untuk membantu Vin.
Martin sedikit terkejut melihat pamannya, yang kini berada di belakang Vin.
"Tuan Dominic, sudah lama aku tidak melihatmu," sapa Wiliam.
Saat melihat Dominic, tidak ada ketakutan sama sekali di wajah Wiliam." Aku bertanya kenapa anak itu terlalu sombong, ternyata ada tuan Dominic yang mendukungnya. Hanya saja tuan terlalu impulsif untuk menyinggung Seorang William, hanya untuk membela menantu yang tinggal dirumah mertuanya. Apa itu sepadan? Kalau tuan Jakson sampai tau, apakah beliau akan memecat mu dari jabatannya sebagai pimpinan?"
"Tidak bisakah kamu mendengar perkataan orang lain? Vindra adalah saudaraku. Tidak bisakah kamu pergi dari sini? Percaya atau tidak, aku akan membunuhmu, tanpa perlindungan tuan Jakson, keluarga Wiguna akan mengurus semuanya untukku. " Saut Dom dengan tegas.
Wiliam tertawa, mendengar perkataan Dom, " Tuan Jakson memintamu menjadi pemimpin, itu kesalahan besar."
"Bajingan."
"Apakah kamu akan mengajari tuan Jakson melakukan sesuatu?" jawab Dom masih dengan ekspresi dingin.
Wiliam sadar kalau dirinya sudah gagal, sambil menjilat sudut bibirnya, lalu dia tersenyum pada Vin." Baiklah nak, tak lama lagi dimasa depan kit akan bertemu lagi. Aku harap saat itu tiba tuan Dom masih berada di sisimu. Jika tidak, aku takut kamu tidak akan bisa melihat cahaya lagi," ucap Wiliam, sambil mengulurkan tiga jarinya membentuk pestol dan menembak Vin.
"Vin, aku sarankan kamu untuk berlutut." Regina ingin melihat Vin tunduk." Tuan Wiliam bukan orang biasa, identitas dan latar belakangnya diluar pemikiranmu. Ketua Dominic, bisa melindungi mu untuk sementara, tapi tidak untuk seumur hidup. Jika kamu tidak menyelesaikan masalah ini hari ini. Kamu hanya akan membayar harga tinggi dimasa depan. Kita pernah pacaran, dan aku sangat menyarankan kamu untuk berlutut, sebelum tuan Wiliam marah padamu."
"Tuan Wiliam, benar-benar eksistensi yang tidak bisa kamu provokasi." timpal Riana. Riana baru mengetahui jika para bawahan Wiliam masing-masing memiliki senjata, itu artinya keluarga Wiliam memiliki hak istimewa di kota dan Riana secara tidak langsung juga meminta Vin untuk berlutut.
Vin melambaikan tangannya, untuk menahan pergerakan Dominic.
"Sikap apa ini?" Melihat sikap Vin, tatapan membunuh pun melintas matanya.
"Jika kamu tidak tau apa yang bisa dilakukan keluarga Wells, kamu bisa tanyakan pada tuan Dominic, sebelum kamu melakukan sesuatu yang bisa membuatmu menyesal.
__ADS_1
Dom segera mendekati Vin dan berbisik, " William Wells, sebenarnya tidak terlalu berkuasa bagiku, namun akhir-akhir ini aku menemukan dia mendapat dukungan, yang tak lain ada hubungannya dengan Raul Draco."
Melihat Dominic menasehati Vin, dia merasa menang dan memutuskan untuk pergi membawa Regina dan Riana.
"Berhenti! siapa yang mengizinkan kamu pergi dari sini untuk sekarang ini?" ucap Vin
"Bajingan, kamu benar-benar cari mati." Wiliam merasa gerah, segara berbalik dan menatap Vin dengan tatapan membunuh.
"Vindra! Apa kamu tidak punya otak." Regina juga langsung memarahi Vin atas tindakannya barusan.
"Sudah aku katakan, jika kamu membuat Wiliam marah, bahkan tuan Dominic pun tidak akan bisa membantumu." imbuh Regina.
Martin memiliki tatapan yang rumit, saat mengetahui Vindra jauh lebih berani daripada dirinya yang saat ini menjadi lemah. Dulu Vin hanyalah seperti kucing yang penurut, demi uang dia rela berlutut tapi sekarang, dia berdiri tegak tanpa ada rasa takut.
"Menghancurkan botol anggurku, merusak pakaianku, dan merusak mood makanku. Berlutut, minta maaf, dan ganti rugi sepuluh juta, atau kamu akan terbaring di tempat ini," ucap Vin acuh tak acuh.
"Gila, kamu benar-benar sudah gila." ucap Regina dan Riana bersamaan.
Wiliam tertawa dalam kemarahan,
" Ini adalah kali pertamanya, aku bertemu dengan pemuda yang memiliki nyali cukup berani untuk menantang ku. Tuan Dominic, aku sudah tidak perduli sikapmu padanya. Tapi aku pastikan dia akan mati malam ini."
Wiliam segera memberikan perintah," Hancurkan dia!"
Seketika bawahan Wiliam mengeluarkan senjata dan mengarahkannya ke Vindra.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1