Menantu Hina Menjadi Penguasa

Menantu Hina Menjadi Penguasa
Bab 45. Pergi ke perusahaan DAK


__ADS_3

Seperti biasa, Vin akan membantu menyiapkan makanan untuk sarapan bersama.


Perkataan itu sudah biasa Vin jalani semenjak menjadi seorang menantu, selain itu Vin sudah terbiasa hingga membuatnya tak pernah mengeluh bahkan ia menyukai apa yang dia lakukan.


Pagi itu Vin di temani pelayan membuat beberapa menu makanan untuk sarapan. Saat sedang menyiapkan makanan di meja makan, Vin melihat Gultom yang tengah bersiap dan hendak pergi.


"Pa, mau kemana?" tanya Vin sambil tangannya terus bergerak menyiapkan menu sarapan.


"Aku akan pergi keluar kota, buru-buru. Tolong jaga mama dan juga Sifa di rumah. O.. Iya apa hadiah yang di buang Dian kemarin?" tanya Gultom saat ingat tentang hadiah yang di lempar Dian.


"Kerajinan dari gerabah pa. Aku akan menjaga mereka baik-baik. Papa juga hati-hati di jalan."


Gultom pun segera pergi, tak menunggu istrinya mengantarkannya. Hubungan Gultom dan Vin tidak terlalu buruk, walaupun jarang bicara tapi Gultom bukanlah sosok yang terlalu membenci Vin.


Setelah Gultom pergi, Miranda dan Sifa pun turun untuk sarapan. Keduanya sudah berpakaian rapi, karena mereka berdua adalah waktu karir.


"Papa dimana? Kok gak ada disini," tanya Sifa.


"Papa sudah pergi, katanya keluar kota." Saut Vin.


"Kok gak mama antar?"


"Papamu gak mau, dia mau pergi sendiri." jawab Miranda.


Mereka pun segera memulai sarapan tanpa Gultom.


Ditengah sarapan bertiga, Miranda tiba-tiba buka suara saat melihat jam tangan di tangan Vin.


"Vin, mama minta jam tangan yang kamu kenakan itu. Mama ingin memberikannya kepada Papa,"ucap Miranda tanpa rasa malu. Seketika Sifa menghentikan suapannya, saat mendengar mamanya bicara tanpa rasa malu. Vin hanya mengerutkan keningnya, mendengarkan permintaan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ma-"


"Kenapa? Mama yakin, Vin membeli jam tangan mahal itu, menggunakan uang tabungan kamu kan. Dia menghabiskan uang banyak hanya untuk mendapatkan jam tersebut sedangkan dia tidak bekerja. Lebih baik jam itu diberikan kepada papa daripada di tangannya sama sekali tidak cocok." sindir Miranda.


"Ma!!" Sifa ingin menegur mamanya yang terlalu bermimpi tinggi untuk mendapatkan jam tangan yang sangat malah itu secara cuma-cuma.


Vin menahan Sifa untuk tidak melawannya. Vin melepaskan jam tangannya.


"Mama menginginkan jam tangan ini. Baiklah aku akan memberikannya, hitung-hitungan sebagai ucapan terimakasih masih mau menampungku menjadi menantu dirumah ini. Dan aku harap papa juga mau menerimanya, Walaupun itu sudah menjadi barang bekas." Vin memberikan jam tersebut kepada ibu mertuanya itu dan Miranda pun segera menerimanya.


Sifa masih ingin menasehati mamanya agar tidak mengambil milik Vin, namun Vin melarangnya dan mengatakan kalau Vin sudah ikhlas. Sifa pun akhirnya hanya bisa diam.


Sebenarnya Sifa tau, Sang mama melakukan itu hanya untuk melampiaskan amarahnya kepada Vin atas kejadian kemarin. Tapi Sifa tidak habis pikir kalau mamanya akan mengambil jam kesayangan Vin.


"Vin setelah selesai sarapan, jangan lupa cuci pakaian mu yang kotor kemarin, setelah itu bersiaplah untuk mencari pekerjaan lagi." Tegur Sifa mengingatkan.


"Tunggu Vin!"


"Ada apa lagi?"


"Jangan lupa nanti malam pergi ke restoran. Aku tunggu disana,"ucap Sifa, sebelum ia pergi untuk bekerja.


"Baiklah."


Saat hendak menyelesaikan pekerjaannya, ponsel Vin berdering. Vin segera mengambil ponselnya dan melihat panggilan itu ternyata dari Susi.


"Halo ada apa Sus?"Tanya Vin saat menerima panggilan dari Susi.


"Apa tuan Vin ada waktu luang?"

__ADS_1


Vin berfikir sejenak," Ada apa memang?"


"Aku ingin tuan memeriksa kakiku, Kerena semakin hari terasa semakin menyakitkan. Aku tidak mau kalau sampai nantinya kakiku harus diamputasi." Jelas Vin.


"Emmm, baiklah nanti aku akan kesana sekalian aku juga mau memeriksa keadaan kakek Dewa."


"Tapi aku sedang tidak ada di rumah, aku sedang di perusahaan. Kalau bisa Tuan datang saja keperusahan, nanti biaya taksinya biar aku yang bayar." Jelas Susi.


"Baik, Setelah pekerjaanku selesai aku akan segera kesana. Kalau begitu aku matikan dulu teleponnya, nanti kita bicara lagi kalau sudah bertemu."


"Baik tuan, saya akan menunggu kedatangan tuan." jawab Susi dengan senang. Lalu segera mematikan panggilan teleponnya.


Seperti perintah Sifa, Vin pun menyelesaikan pekerjaan kecilnya, yaitu mencuci bajunya sendiri sebelum pergi. Setelah selesai ia pun bersiap untuk ke perusahaan DAK menemui Susi.


"Mau kemana kamu Vin?" tanya Miranda yang saat itu belum pergi ke klinik.


"Aku mau pergi keperusahan DAK ma, mau bertemu dengan Susi." Jawab Vin.


"Ngapain kamu keperusahan DAK? jangan bilang kalau kamu Mau mengusik Naura dan mamanya." Tuduh Miranda.


"Gak lah ma, aku punya urusan sendiri." Vin pun pergi meninggalkan Miranda yang masih bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


Dengan mengunakan taksi, Vin pergi keperusahan DAK. Sesampainya disana Vin hendak langsung menuju ke resepsionis, namun di saat bersamaan Vin melihat Bi Dian dan Naura yang juga berada di perusahaan DAK.


Terlihat sangat jelas dari wajah Dian dan Naura, kalau mereka tidak suka melihat kedatangan Vin.


Namun Vin tidak terlalu perduli, selama mereka tidak mengusik dirinya, Vin tidak akan membalasnya.


To Be continued ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2