
Cindy meneliti laporan Minggu lalu, tak ada yang perlu diperhatikan, Cindy beralih ke laptop nya membuka dan membaca email, sebenarnya Cindy sudah tau kalau Caca sudah kirim email tapi karena Cindy tak ingin membawa pekerjaan kedalam rumah tangga, jadi dia memilih akan membaca email saat sudah masuk kerja.
lumayan banyak juga ya nih email
dibukanya email pertama : profil perusahaan beserta foto bos nya laki-laki bertubuh gemuk dengan perut buncit. Dia pemilik dari perusahaan properti menawarkan kerjasama, dan besok rencana nya mereka akan bertemu.
email kedua dan ketiga : ucapan selamat pernikahan dari perusahaan rekanan.
email ketempat : Baim juga mengirim email menanyakan keinginan nya bertemu,,?
dan masih ada beberapa email lagi yang datang dari sponsor.
"oke aku kirim pesan ke Baim lah,,!"
Cindy mengeluarkan Hp nya mengetikkan pesan dan mengirim.
****
Sementara di kantor Adrian, hampir terlambat karena Senin adalah waktu yang padat dan sibuk bagi setiap orang.
"selamat pagi pak Adrian,,!" sapa security sambil membuka pintu mobil Adrian
"pagi pak, saya hampir telat ya pak,!"
"gak pa pa, kan bapak bos nya he-he-he,,!" jawab security
"jangan dong pak saya harus memberi contoh karyawan saya, jangan jadikan sebuah jabatan itu untuk hal-hal yang jelek kalau bisa semakin tinggi nya sebuah jabatan seseorang harus bisa mengimbangi dengan perilakunya..!" jawab Adrian tegas
"baik pak,, pak Adrian top banget,,!"
"ya udah saya masuk kedalam,,!" berjalan kedalam
Dilobby kebetulan bertemu dengan Alex
"Lex, hampir aja gue telat,,!"
"kan Lo bos nya,, gak pa pa lah sekali mah, kan Lo juga gak pernah telat.!" jawab Alex
"gimana Rere masuk gak,,?"
__ADS_1
"ada dia di meja nya,,!"
Mereka sampai di depan ruangan Adrian, melihat Rere dengan muka yang berbeda dari Rere yang dulu pertama kerja ceria dan agak centil.
"selamat pagi pak,,!" sapa Rere
"pagi Rere, kamu keruangan saya ya sekarang,,!"
"baik pak,,!" jawab Rere berjalan mengikuti Adrian di belakang
Adrian membuka pintu dan masuk diikuti Rere dan pintu ditutup.
"silahkan duduk Re,,!"
Rere duduk di hadapan Adrian, dengan wajah membisu.
"gak ada yang ingin kamu katakan,, atau kamu menunggu saya yang bertanya,,?"
"maaf pak, bukan keinginan saya untuk resaign tapi karena keadaan pak yang mengharuskan saya untuk memilih,,!" ucap Rere
"lalu kamu sudah menentukan pilihan,,?!"
"oke, tapi kenapa kamu tidak memilih pilihan yang lain,,?"
"awalnya saya sempat kepikiran pak untuk menerima tawaran dari om saya itu, tapi begitu pak Alex mengabari saya jika pak Adrian berkenan memberikan saya pinjaman untuk operasi ibu saya saya senang pak,,!"
"lalu bagaimana dengan om kamu nanti nya,?"
"entahlah pak, om saya tidak pernah lagi datang setelah ayah meninggal, dan begitu saya datang padanya meminta bantuan, saya hanya mendapat jawaban ketus, tapi dua hari berikutnya om saya sendiri justru datang kerumah dengan niat memberikan bantuan nya.!"
"jadi kamu sudah bertemu dengan laki-laki pilihan om kamu, yang akan dinikahkan dengan mu,,?"
"sampai sekarang belum ketemu pak, om saya datang kerumah hanya cerita jika dia punya teman yang bisa membantu semua biaya operasi ibu, dan juga menanggung semua kebutuhan saya, asalkan saya mau menikah dengan nya. hanya itu,,!"
"oke,,, coba jawab jujur kenapa kamu sempat berniat menerima pilihan om kamu,,?!"
"saya anak tunggal pak ibu sakit-sakitan kalau teman om saya bisa bantu saya dan mau menanggung semua kebutuhan saya kenapa tidak, itu awalnya tapi ibu melarang saya menerima tawaran om.!"
"ya udah oke, pilihan kamu sudah benar dengan tidak menerima bantuan dari om kamu, karena laki-laki yang mau menikah dengan kamu itu laki-laki yang sudah memiliki istri bahkan istrinya ada dua, kamu mau jadi yang ketiga,,?"
__ADS_1
Rere kaget,, "Hah istrinya dua, om om tukang kawin maksud nya, untung aja saya gak sampai masuk kedalam permainan om saya. kalau saja hari Minggu itu pak Alex tidak mengabarkan kepada saya, mungkin saya akan menerima bantuan om. sepertinya Tuhan masih berpihak kepada saya.!"
"ya udah untuk permohonan pinjaman nya, nanti diurus Alex dan untuk ibu mu juga nanti akan segera dibawa kerumah sakit.!"
"sekali lagi terimakasih pak,,!"
Adrian mengangguk lalu Rere pun keluar.
*****
Dirumah Meli bingung kenapa Bu Cindy ngomong gitu ya sama saya, apa Bu Cindy curiga atau tau sesuatu ya,,?"
"aduh aku harus gimana ya,,? tetap mengikuti rencana mba Stella atau aku jujur aja ya ke Bu Cindy, tapi kalau gak mau ikut rencana mba Stella aku takut dia akan benar-benar nekat menghancurkan keluarga ku di kampung,,?" gumam Meli
"gak mungkin Bu Cindy hanya karena melihat ku nguping langsung seperti yang tau sesuatu gitu ya,,? apa jangan-jangan pak Agus cerita kalau mba Stella pernah datang kesini,,?"
"aku harus telepon ke kampung dulu deh,,!"
Meli mengambil Hp dari saku celana nya, menekan tombol dengan nama kakak lalu terhubung,,,
"haloo kak, gimana disana? ibu bapak sehat kan, kakak gak ada masalah kan,,?" tanya Meli
"kamu kenapa sih Mel, kaya orang panik gitu, kami baik-baik aja, kenapa?" kakak Meli
"oh syukurlah, gak ada apa-apa kak ya udah kalau gitu,,?"
"oiya Meli, tolong sampaikan terimakasih kami untuk majikan mu ya Bu Cindy, kemarin ada kiriman sembako dan uang. kakak sampai kaget ada orang suruhan dari majikan kamu atas nama Bu Cindy. haloo Meli,,?!" panggil kakaknya
"eh iya kak,,! iya nanti Meli sampaikan,, udah dulu ya kak, Meli mau beres-beres rumah dulu.!"
Telepon pun terputus.
ya Tuhan, kenapa aku bisa berfikir akan mengikuti dan membantu niat licik dan jahat mba Stella,, kalau ternyata majikan ku begitu baik dengan keluarga ku. batin Meli lesu dan sedih
"dari mana Bu Cindy, tau kampung halamannya,,? apa pak Adrian tau kalau Bu Cindy mengirimkan bingkisan ke keluarganya,,?" gumam Meli
"oke Meli, mulai sekarang kamu harus ceritakan kejadian sebenarnya dengan Stella,, dan jangan berkomplot dengan nya,!" ucap Meli
Meli bangun berjalan kedapur mencuci muka yang sudah basah dengan air mata, lalu mengambil sapu dan mulai berbenah.
__ADS_1