
Walau awalnya Susan sebagai wanita normal yang tidak mau berbagi suami, sampai dendam dan benci ingin membuat Stella tak nyaman dirumah pernah dia lakukan diawal pernikahan Stella. tapi entah kenapa semakin kesini terlebih setelah Stella hamil ada rasa iba dihatinya, jika ingin menyakiti Stella. Mendengar Stella hamil yang dirasakan bukan benci malah rasa yang menurutnya aneh, dia ingin memiliki anak Stella.
Sampai pernah suatu hari saat Susan bertengkar hebat dengan Handoko ulah Stella yang memanasi suaminya, dia pergi meninggalkan rumah dan menenangkan diri di Cafe hingga seorang wanita setengah baya berkerudung syar'i datang menghampiri nya.
"assalamualaikum maaf permisi apa saya boleh duduk disini, kebetulan kursi lain penuh semua,!" ucap wanita itu
Susan reflex menengok ke kanan dan kiri nya melihat memang penuh "silahkan Bu, duduk saja,!" jawab Susan
Wanita itu memesan kopi vanilla latte lalu mengeluarkan buku dari dalam tas nya, dan sudah sibuk membaca tanpa mempedulikan Susan yang memperhatikan setiap gerakan nya. Sekilas Susan sempat melirik judul buku yang dibawa wanita itu Menjadi Wanita Baik dan Tenang.
Wanita itu sudah larut dengan buku nya, sambil sesekali meminum kopi. Susan merasa ada rasa ingin bertanya, tapi dia bingung harus bertanya apa.
"maaf Bu, ibu sedang membaca apa ya,?" Susan memberanikan bertanya
"ini hanya sebuah buku yang bisa menemani disaat saya gundah resah sedih dan juga marah.!" jawab wanita itu
"maaf kalau saya lancang, mba nya sedang ada masalah ya? sangat terlihat jelas diwajah mba nya seperti memiliki beban kesedihan dan kemarahan besar,!" ucap wanita itu
tanpa menjawab Susan mulai mengeluarkan air mata dari matanya dan mengalir di pipinya. "loh ko malah nangis ada apa,, kalau mau cerita saya bisa mendengar nya,!" ucap wanita itu
Susan memandang wanita itu dan mulai lah tanpa dikomando mulut nya mengeluarkan semua isi hatinya yang dipendamnya mulai dari keluarga nya yang bangkrut hingga dijodohkan oleh Handoko sampai suaminya selingkuh dan menikah lagi hingga dia ribut dengan suaminya karena di hina perempuan gak normal karena gak bisa memberinya anak,! Sambil menangis Susan mengatakan "saya capek Bu, saya lelah, saya harus gimana,!"
__ADS_1
Wanita itu ikut merasakan keadaan Susan, kesedihan nya, emosi nya. "kuncinya hanya satu kamu harus ikhlas, ikhlas dengan takdir yang Gusti Allah berikan, karena kalau kamu bisa belajar ikhlas menerima keadaan yang ada dan sabar insyaallah kamu akan mendapatkan kebahagiaan nantinya.!" jawab wanita itu
Susan mulai menghapus air matanya, emosi dihatinya mulai sedikit terangkat setelah dia cerita, dan ada rasa sejuk ketika mendengar jawaban dari wanita didepannya.
"terimakasih ya Bu, maaf saya jadi cerita masalah pribadi saya,!" ucap Susan
"gak pa pa, malah kadang kita memang harus bercerita dengan orang yang gak dikenal, karena dia gak tau siapa yang diceritakan jadi aman lagipula kita juga belum tentu bertemu lagi ya kan, beda jika kamu cerita dengan teman yang sudah tau masalah kamu, bisa jadi kamu malah ditusuk dari belakang!" jawab nya
Susan mengangguk,,
"ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, mau ngajar lagi pula kopi saya sudah habis, ingat belajar lah ikhlas dan sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar dan ikhlas." wanita itu pamit dan meninggalkan Susan
Sejak pertemuan itu hingga kini Susan tinggal bersama Handoko dan Stella mulai tak pernah tergoda dengan ejekan Stella. Susan lebih sering pergi ke kantor nya menjalani bisnisnya, padahal dulu dia sudah berniat akan jarang dikantor sebelum Stella bisa pergi dari rumah. tapi sekarang dia sudah gak peduli Susan mulai menjalani hidupnya menata hidupnya dengan kembali mengurus Sus Enterprise, dan pulang saat selesai kerja, begitu seterusnya.
****
"gak bisa sayang, mereka gak akan mau deh pasti,!" jawab Handoko
"dicoba dulu, aku gak terima sayang dulu mereka selalu menghina ku, aku pengen mereka bangkrut dan hancur,,!"
"ya udah, nanti aku cari cara ya, agar bisa kerjasama dengan perusahaan Adrian. aku juga sebenarnya benci banget sama perusahaan itu.!" jawab Handoko
__ADS_1
Saat ini kandungan Stella sudah masuk usia 10 Minggu, Susan setiap hari suka mencuri pandang melihat kearah perut Stella, ada perasaan iri tak bisa memiliki anak tapi juga ada perasaan senang karena akan melihat anak kecil berlarian dirumah ini.
Stella meski sedang hamil kadang masih saja mencuri wantu saat Handoko tak ada, dia merokok dan jarang minum susu karena malas membuat nya, sedangkan Handoko kurang peka dengan hal remeh seperti itu, mungkin karena efek sudah berumur.
"Stella sebaiknya kamu berhenti merokok deh, kasian anak kamu,!"
"gak usah sok peduli sama anak gue, suka-suka gue mau ngerokok kek inikan anak gue.!" jawab Stella
"kalau sampai Handoko tau, kamu bakalan habis Stella,,!"
"awas aja kalau Lo berani bilang sama si tua itu,!" jawab Stella
Susan diam dia merasa kasian dengan Stella, dia merasa Stella belum siap menjadi ibu dirinya selalu dipenuhi ambisi harta hingga dia diharuskan hamil jika mau mendapatkan fasilitas mewah.
"ya udah makanya, rokok nya berhenti. mau dibuatin susu gak,?"
"gak usah, nanti Lo kasih racun lagi.!" jawab ketus
Susan mengangkat bahu dan pergi meninggalkan nya.
Begitulah kehidupan keluarga Handoko Stella yang masih dengan fikiran jahat nya, Handoko yang terus berusaha agar bisa kerjasama dengan perusahaan Adrian, sementara Susan sudah mulai belajar ikhlas dan sabar dengan keadaan dan sibuk dengan kantor nya. Masih sesekali mengingat kan Stella.
__ADS_1
*****
Semoga Susan benar-benar bisa berubah ya,,!!"