
Handoko menghilang tanpa jejak, mobil yang dia kendarai saat itu ditemuka sudah kosong. Semenjak Handoko tau dirinya sudah dilaporkan polisi dia mulai melarikan diri, tak menyadari mobil yang digunakan sudah dipasangi GPS oleh Susan, tapi Handoko sengaja membiarkan mobilnya teronggok dipinggir kota sementara dia memilih jadi buronan polisi.
Dua bulan kemudian,,,
Tok Tok Tok
Stella berjalan dengan perut buncit nya membuka pintu.
"saya dari tim oenyidik membawa surat untuk menyita seluruh aset pak Handoko semua untuk diteliti, saya minta ibu segera kosongkan rumah ini.!"
Stella syok "gak bisa enak aja main sita, ini rumah suami saya. kalian cari suami saya sampai dapat baru kalian bisa bertindak, jangan mentang-mentang suami saya belum ketemu, kalian menindas wanita hamil.!" teriak Stella
"tolong ibu bisa bekerja sama dengan kami, jangan sampai kami berbuat kasar. kami beri waktu sampai besok.kami permisi!!"
Stella saat itu dirumah hanya dengan pembantu, Susan sedang keluar sebentar. Tak lama Susan kembali melihat Stella sudah duduk menangis di sofa.
"ada apa,,?"
Stella menyerahkan surat pengosongan rumah, dan penyitaan seluruh aset Handoko untum diselidiki. Susan membaca menghela nafas "akhirnya kejadian ini terjadi juga..!
"Bi,,,!!!"
"iya Bu,,?"
__ADS_1
"kemasi barang bibi, juga barang Bu Stella kita pindah sekarang!"
"baik Bu,!"
"gue gak mau pindah,, ini rumah gue, mobil gue, semua punya gue.. gak boleh diambil..!" teriak Stella kalut
Susan merasa iba melihat Stella mulai teriak-teriak lagi, sejak kejadian polisi datang Stella mulai tak bisa kontrol emosi nya sering marah-marah teriak-teriak kadang menangis sering juga tertawa sendiri.
Susan membantu Stella naik ke Taxi online yang sudah dia pesan. mobil Susan pun dia tinggalkan karena biar bagaimanapun selama menikah Susan juga pernah merasakan uang hasil kerja kotor suaminya, dan dia berniat mengembalikan mobil itu. Taxi online membawa mereka ke kantor Susan, kantor yang dia rintis hasil kerja kerasnya, mereka masuk kesana disatu ruangan yang disulap menjadi kamar yang sudah Susan siapkan jika memang kejadian ini sampai terjadi. Stella dibaringkan disana, meringkuk menangis, Susan dan bibi berusaha tenang.
"Bi, tolong jaga Stella sebentar saya ada urusan diluar ya. kalau ada apa-apa segera hubungi saya.!" Susan pergi
*****
"selamat ya untuk pernikahan nya, semoga langgeng sampai mau memisahkan kalian.!"
"terimakasih, silahkan nikmati hidangan nya.!"
Susan masih duduk sendiri dia tak berani untuk bergabung dengan keluarga besar Adrian, sampai akhirnya
"dari pada sendiri mending duduk disana yuk!" ajak Cindy
Susan menengadah melihat Cindy bicara padanya dan tersenyum Susan mengangguk berjalan mengikuti Cindy berkumpul dengan yang lain.
__ADS_1
"maaf ya,, soal Handoko!"
"gak perlu minta maaf, mungkin sudah waktunya dia menerima akibat dari perbuatannya. kalau kehancuran ini terjadi dulu mungkin aku juga gak bisa terima, tapi aku merasa iba dengan Stella.!"
"kalian tinggal dimana,?" tanya Cindy
"sementara kami tinggal di kantor ku,!"
"syukurlah kamu sudah berubah ya San, lebih tenang dan ikhlas, dan kamu juga lebih mandiri. oiya Stella kapan lahiran?"
"mungkin bulan depan, karena sekarang baru 8 bulan.! paling nanti aku yang merawat anaknya. kasian anak itu sejak tau perempuan Stella sama sekali membenci nya.!"
"gak pa pa San, kamu rawat anak itu kelak besar nanti dia bisa memberikan kebahagiaan untuk mu. siapa tau bisa jadi teman anakku he-he-he!" jawab Cindy
"aamiin,,! oiya maaf aku gak bisa lama aku harus kembali, aku takut Stella nekat.!"
"oke hati-hati ya, kalau ada apa-apa, dan perlu apa-apa jangan sungkan ya..!" balas Cindy
Susan senyum dan pergi.
*****
Meski Handoko sudah ditetapkan bersalah dengan bukti kuat dan parahnya lagi dia melarikan diri hingga buron kasus terus berjalan hingga ke meja hijau, seluruh aset kekayaan Handoko baik itu rumah, mobil, rekening sudah disita.
__ADS_1