
Adrian memberi tahu jadwal pertemuan anaknya dan Sofia pada Julian. Kemudian Julian menyampaikannya pada sang putri. "Sofia, luangkan waktumu nanti malam. Temuilah Adam di restoran XXX."
Setela memberi tahu pada putrinya Julian berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil pribadinya.
Sofia sebenarnya malas mengikuti perjodohan seperti ini. Tapi dia bukan tipe gadis pembangkang. Maka dia pun menyetujui permintaan ayahnya. Sofia mengangguk pasrah. Namun, Julian tak menyadari perasaan Sofia.
Berbeda dengan Julian, Raina lebih peka sebagai seorang ibu yang peduli pada anaknya. "Kamu yakin akan menemui Adam? Apa kamu akan menyetujui perjodohan ini?" tanya Raina dengan lembut. Sebisa mungkin dia menjaga ucapannya agar Sofia tidak tersinggung.
"Kita lihat saja nanti Ma. Allah pasti kasih jalan buat aku. Aku percaya jika dia bukan jodohku maka dia akan menjauh dengan sendirinya. Namun, jika kamu berjodoh tidak ada yang tidak mungkin."
Raina sungguh bangga pada putrinya yang begitu bijak dalam menyikapi hidup. Sofia tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut dan berhati mulia. Tak pernah sekalipun mulutnya mengatakan suatu yang kotor. Dia hampir tidak pernah marah. Karena ketika dia marah dia hanya akan diam.
"Ma, aku akan berangkat dulu, hari ini ada jadwal praktek pagi." Sofia berpamitan dan tak lupa mencium tangan ibunya.
"Hati-hati, Nak," pesan Raina pada putrinya.
Sofia tersenyum. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sofia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Namun, dia sempat melamun hingga hampir saja dia menabrak seorang pengendara motor. "Astaghfirullahaladzim."
Sofia menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia sangat terkejut ketika sebuah motor menyalip dengan kecepatan tinggi.
Setelah mulai tenang, dia menyalakan mesin mobilnya kembali. Sofia sampai di rumah sakit tempat dia bekerja setengah jam kemudian. Baru saja dia keluar dari mobil seseorang mengejutkannya ketika Sofia berbalik badan.
"Dokter, bisakah anda bersuara atau mengucapkan salam ketika berada di dekat seseorang. Saya kira anda makhluk tak kasat mata," ledek Sofia.
"Saya akan menghantui anda ke manapun Anda pergi," goda David. Sofia jadi bergidik ngeri.
"Saya ada jadwal praktek sepuluh menit lagi, apa ada yang akan anda sampaikan?" David mengira pertanyaan Sofia adalah sebuah kode maka dia pun mengatakan sesuatu yang tidak terduga. Sofia berjalan lebih dulu meninggalkan David.
__ADS_1
"I love you Sofia."
Sofia menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar kencang mendengar pernyataan cinta dari dokter tampan itu. Tak mau terpengaruh, Sofia melanjutkan langkahnya. Dia melangkah lebih cepat tanpa menoleh karena dia malu mendengar ucapan David. Sedangkan David malah tertawa melihat tingkah menggemaskan Sofia.
Gadis yang berprofesi sebagai psikolog itu mengambil air kemudian meminumnya hingga tandas. Dia mencoba bernafas senormal mungkin. "Semoga aku tadi hanya salah dengar. Tapi bagaimana kalau dia memang sedang menyatakan cintanya." Sofia menggeleng cepat untuk mengusir pikirannya. "Duh, tadi ada yang lihat nggak ya?" Dia merasa khawatir.
Setelah selesai praktek, Sofia memberesi mejanya. Karena dia tidak memiliki asisten jadi dia memberesi sendiri mejanya. Lalu wanita berhijab itu keluar dari ruangannya.
"Dokter," panggil David. Ya, laki-laki itu tidak pernah bosan untuk mengekori Dokter Sofia pujaan hatinya.
"Ada apa, Dok?" tanya Sofia.
"Apa anda malam ini ada waktu? Saya ingin mengajak anda makan malam." Sofia ingin sekali menyetujui ajakan David sayangnya dia ingat kalau ayahnya sudah mengatur jadwal pertemuannya dengan Adam.
"Maaf, Dok. Malam ini saya tidak bisa," tolak Sofia.
"Apa anda punya janji dengan seseorang?" Sofia engan menjawab, dia hanya tersenyum. Setelah itu dia berlalu meninggalkan David. David yang penasaran berniat mengikuti Sofia.
Ketika mendekati waktu maghrib, Sofia mampir ke sebuah masjid untuk menunaikan kewajibannya. Dia berdoa agar acara pertemuannya dengan Adam berjalan lancar. "Aku berserah diri padaMu Ya Allah, berilah petunjuk agar aku tidak salah memilih pasangan hidupku."
Usai menyelesaikan sholatnya Sofia bergegas untuk menemui Adam di restoran yang sudah ditentukan. David masih setia mengikuti Sofia. Dia hanya curiga Sofia bertemu dengan orang yang berbahaya.
Ternyata Adam sudah sampai duluan di restoran tersebut. Dia melambaikan tangan untuk memberi tahu keberadaannya. Dalam sekali lihat Adam mengenali Sofia.
David yang melihat dari kejauhan mengerutkan kening. "Siapa laki-laki itu? Wajahnya lumayan tampan? Apa dia pacar baru Sofia?" Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala David.
Adam berdiri menyambut kedatangan Sofia.
"Assalamualaikum," sapa Sofia pada Adam.
"Waalaikumsalam," jawab Adam. Mereka ada di sebuah restoran yang lumayan mewah. Sementara itu David duduk tak jauh dari tempat mereka agar dia bisa mendengar pembicaraan di antara Sofia dan laki-laki yang dia duga akan menjadi saingannya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang pelayan membawa buku menu. "Kamu mau pesan apa?"
Jujur Sofia tidak pernah makan di restoran mewah seperti ini walau dia anak sultan. Dia lebih suka makan-makanan rumahan. "Samakan saja," jawabnya.
Kemudian Adam menyebutkan makanan yang dipesan pada pelayan tersebut. "Silakan tunggu sebentar."
Keduanya tampak canggung. Lalu Adam membuka pembicaraan lebih dulu. "Kita belum berkenalan." Adam mengulurkan tangannya tapi Sofia tidak membalas.
"Sofia." wanita itu menyebut namanya.
Adam menarik kembali tangannya. Dia maklum kalau Sofia tidak membalas. "Namaku Adam. Aku dengar pekerjaan kamu seorang psikolog?" Sofia hanya mengangguk.
Sungguh Sofia tidak ingin berlama-lama berada di sana. Dia terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Adam menyadari kalau Sofia merasa canggung dan semacamnya.
Tak lama kemudian makanan datang. "Silakan dinikmati menu spesial dari restoran kami."
Sofia hanya terdiam. "Kenapa tidak dimakan?" Tegur Adam. Sofia pun memotong sedikit steak yang dihidangkan di mejanya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Adam. Sofia mengangguk. Dia lebih suka jika tidak ada pembicaraan ketika sedang makan.
Wanita itu hanya mencicipi sedikit hidangan untuk menghormati Adam. Lalu Adam pun mengehentikan makannya.
"Sofia aku ingin bicara serius padamu. Jujur sejak pertama kali melihatmu aku tertarik padamu. Apa kamu mengizinkan aku untuk mengenal dirimu lebih dekat? Aku ingin tahu seberapa pantas diriku bersanding denganmu?"
Ketika Adam mengatakan hal itu, Sofia malah memikirkan saat Dokter David bilang I love you tadi pagi. Tanpa dia sadari Sofia malah menjawab iya ketika Adam meminta kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.
Sesaat kemudian Sofia baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh Adam. Seharusnya dia menolak tapi mulutnya terlanjur berkata iya. Sofia pun tidak bisa melukai hati Adam dengan menolak hanya dalam beberapa detik saja. Sofia mencoba berpikir positif. "Mungkin aku harus memberinya kesempatan. Lagipula aku juga harus memikirkan perasaan orang tuaku," batin Sofia yang mencoba ikhlas.
Adam tentu sangat bahagia. Dia tidak pernah menyangka Sofia merespon dengan baik. "Terima kasih Sofia." Adam hendak meraih tangan gadis itu tapi Sofia segera menarik tangannya sendiri.
Di saat yang bersamaan David meremat sapu tangan yang sedang dia pegang. Hatinya sungguh sakit ketika Sofia menjawab iya dengan mudah pada laki-laki yang dia yakini baru dikenal Sofia itu.
__ADS_1