
April tiba di sekolahnya, sedangkan Azriel telah turun beberapa saat yang lalu di tempat yang berbeda. "Terima kasih banyak Om sudah mengantarkan saya ke sekolah," ucap April yang merasa sungkan.
Erik tersenyum. "Tidak masalah, om senang bisa mengantarkan kalian," jawab Erik. Dia mengusap rambut April. Rasanya dia ingin melakukannya setiap hari. April merasa bingung tapi dia biarkan laki-laki itu melakukannya.
Setelah itu April turun dari mobil. "Hati-hati om saya masuk ke kelas dulu," pesan April pada Erik. Erik mengangguk paham dan tak lupa melempar senyum pada gadis itu.
Diva dan beberapa siswa lainnya bingung saat melihat April turun dari mobil mewah. Fabian juga turut menyaksikan saat-saat April turun dari mobil ayahnya. Dahinya berkerut karena merasa bingung. Banyak pertanyaan yang berputar di otaknya. Bagaimana mereka bisa saling kenal hingga terlihat sangat akrab. Jujur saja Fabian iri karena dia tidak pernah diantar ke sekolah oleh ayahnya sebab dia tinggal bersama ibunya.
Sedangkan Nesya malah menyebar gosip bersama anggota gengnya. "Ow sekarang Lo jadi simpanan om-om ya?" ledek Nesya di depan para siswa lainnya. Mereka juga menertawakan April.
April tersenyum sinis. "Aku heran sama kamu, kenapa begitu perhatian dengan hidupku ini? Jangan-jangan kamu iri," balas April. Tak terima dengan apa yang diucapkan oleh April, Nesya mendorong gadis itu dengan kasar. April pun terjatuh ke lantai.
"Aw," ringisnya ketika lututnya terbentur lantai. "Kira-kira dong," bentak April. Aksa yang melihat April sedang dibully oleh Nesya pun segera mendekat. Dia langsung berjongkok dan membantu April bangun.
"Ah, lututku terlalu sakit," rengeknya. April sengaja memanas-manasi Nesya. Benar saja Aksa langsung menggendong April. April terkejut karena dia hanya berharap Aksa menuntunnya.
"Kak, lepasin," ucapnya sambil memukul dada pemuda itu.
Aksa tersenyum. "Bukankah kamu yang bilang kalau lututmu sakit? Biarkan aku yang membawa kamu ke UKS," ucapnya dengan lembut.
Wajah April merona karena malu. Sumpah demi apa dia bisa digendong oleh seorang Dafi Aksa Bilal cowok most wanted di sekolahan ini. Para siswi yang menyaksikan Aksa yang sedang menggendong April pun bersorak.
"Pril gue mau jadi Lo."
"Dafi, lututku juga terluka gendong aku!"
Begitulah beberapa kalimat yang keluar dari mulut para siswi yang iri dengan keberuntungan April. Sedangkan April menyembunyikan wajahnya ke dada Aksa. Aksa tersenyum karena merasa gemas dengan gadis yang dia sukai.
__ADS_1
"Udah sampai. Mau sampai kapan kamu minta digendong?" Ledek Aksa. April pun turun secara perlahan.
April duduk di tepi ranjang yang disediakan. "Aku ambilkan obat dulu," kata Aksa. Karena masih pagi jadi petugas UKS belum datang. Dia pun mengambil obat yang diperlukan untuk membalut luka di lutut April. Setelah itu dia mengoleskan pembersih luka dengan hati-hati.
"Aw, pelan-pelan," protesnya.
"Maaf. Pril kenapa tadi pagi kamu bisa bareng sama om Erik?" tanya Aksa.
"Entahlah, dia tiba-tiba berhenti di depanku saat aku sedang menunggu angkot bersama Azriel," jawab April dengan jujur.
"Azriel itu siapa?" tanya Aksa. Ada rasa cemburu ketika April menyebut nama laki-laki asing di depannya.
"Adikku yang masih SMP," jawab April.
"Apa karena pertemuan kalian kemaren di rumahku jadi kamu bisa sekarang itu dengan om Erik?" April menggedikkan bahunya.
"Hilang kemaren, dicuri orang," jawab April kesal ketika mengingat kelakuan ayahnya.
Tak lama kemudian bel masuk kelas berbunyi. "Kak aku masuk ke kelas dulu. Terima kasih telah merawat lukaku," jawabnya.
Aksa menarik tangan April hingga mereka berpelukan. "Apa? Cuma itu doang cara berterima kasih padaku?"
Jantung April berdegup kencang ketika menyentuh tubuh Aksa. "HM, wangi," gumamnya dalam hati.
Sesaat kemudian April mencoba mengembalikan kesadarannya. "Terus mau apa? Cepet nanti dimarahi guru kelas," omelnya. Aksa melepas pelukannya dan menunjuk pipinya sendiri. April pun merasa terkejut ketika Aksa memberi kode untuk menciumnya.
April menoleh ke kanan dan ke kiri lalu dia mencium pipi Aksa sekilas. Setelah itu dia berjalan keluar sambil menyeret kakinya. Aksa tersenyum ketika mendapatkan apa yang dia inginkan. "Berarti dia memiliki perasaan yang sama denganku," batin Aksa bahagia.
__ADS_1
Aksa menyusul April lalu dia mengalungkan tangan gadis itu ke leher. "Mulai sekarang kita pacaran," ucapnya sambil berjalan. April terkejut bukan main. Dia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Aksa dalam diam.
"Kenapa? Kamu ingin menolak? Aku tidak akan mengizinkan," ucap Aksa sambil mencolek ke hidung April.
Sesaat kemudian Pak Restu memergoki mereka uang sedang berduaan di lorong sekolah yang sepi sebab jam masuk sudah sekitar lima menit yang lalu. "Hei, kalian ngapain?" tanya Pak Restu.
Pak Restu berjalan mendekat ke arah mereka. "Saya hanya menolong dia, Pak," kata Aksa menjelaskan.
Pak Restu menengok ke arah kaki April yang dibalut perban. "April, apa kamu bisa berjalan sendiri ke kelasmu?" April mengangguk menanggapi ucapan gurunya.
"Saya duluan, Pak," pamit April. Tanpa bicara pada Aksa dia langsung berjalan menuju ke kelasnya. Aksa hanya menahan senyum karena dia tahu April masih syok dengan pernyataan cintanya.
Tak lama kemudian April tiba di kelas. "Maaf, Bu. Saya telat karena saya ke UKS dulu," izinnya pada Bu Indri yang tengah mengajar di kelasnya.
Bu Indri menatap lutut April yang terluka. Setelah tahu April tidka berbohong maka dia pun mengizinkan April masuk. "Ya, sudah tidak apa-apa. Masuk saja!" perintah Bu Indri dengan halus.
"Lo nggak apa-apa, Pril? Lutut Lo masih sakit?" bisik Diva, teman sebangkunya. April menggeleng. "Bukan lututku yang sakit tapi jantungku." Jawabannya membuat Diva bingung.
Di tempat lain, Erik yang akan turun dari mobil tak sengaja melihat jepit rambut di dalam mobilnya. Tepatnya di tempat bekas April duduk. Erik kemudian memiliki ide untuk mengambil tes DNA dari rambut April yang tersisa di jepit rambut tersebut. "Ternyata Tuhan punya jalan yang unik untuk mempertemukan aku denganmu. Aku akan buktikan dengan tes DNA dan akan aku buktikan kalau dugaanku benar," gumam Erik sambil berjalan menuju ke laboratorium.
"Rik, ada apa?" tanya David yang melihat temannya itu berjalan terburu-buru.
Erik berhenti di depan David. Dia memperlihatkan jepit rambut wanita. "Maksudnya apa?" tanya David tidka mengerti.
"Ini milik April, aku ingin melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah April benar anakku yang hilang atau tidak," jawab Erik.
Tak jauh dari tempat Erik dan David berdiri, seseorang tak sengaja mendengar ucapan mereka. Dia pun mengangkat telepon lalu menghubungi seseorang. "Temukan seseorang untukku," perintahnya pada orang suruhannya.
__ADS_1