
"April, jelaskan pada papa!"
April menunduk. Dia tak menjawab ucapan sang ayah. "Apa hukuman yang anak saya terima, Pak?" tanya Erik pada guru piket yang menangkap April.
"Kami terpaksa menskors April selama dua hari."
Erik menghela nafas panjang. "Baiklah, apa saya boleh bawa dia pulang sekarang?" tanya Erik. Erik pikir April tidak perlu mengikuti pelajaran hari ini sampai selesai. Toh mulai besok dia sudah tidak boleh mengikuti pelajaran selama dua hari.
Erik menarik tangan April. "Pa, aku ambil tas dulu," sela April. Erik melepaskan tangannya dan mengizinkan April memasuki kelas.
Tok tok tok
April izin pada guru kelas yang mengajar untuk pulang. "Maaf, Pak. Saya cuma mau ambil tas."
"Kenapa kamu pulang?" tanya Pak Tegar.
"Saya diskors, Pak," jawab April. Teman-temannya kaget ketika mendengar April diskors. Pasalnya sudah lama dia tidak melakukan kesalahan.
April keluar setelah mengambil tasnya. Dia rasanya ingin menangis karena malu. Selama ini dia sudah berusaha menjadi murid yang baik. Tiba-tiba guru piket menangkapnya seperti seorang buronan.
"Ayo, kita pulang!" ajak Erik dengan lembut. Dia tahu April sangat sedih karena harus diskors.
Tapi kekhawatiran April lebih dari itu. Dia takut ayahnya murka jika mengetahui selama ini April telah membohonginya. "April kenapa kamu diam saja?" tanya Erik.
April yang biasanya mengoceh kini hanya menunduk takut. "Apa kamu selama ini diam-diam berhubungan dengan Aksa?"
April ragu tapi dia mengangguk. Erik menghembuskan nafasnya pelan. "Papa bukannya tidak setuju dengan hubungan kalian. Tapi papa pernah melihat kalian berciuman. Papa takut kalau kalian melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Maka dari itu papa membuat kamu menjaga jarak dengannya."
April merasa bersalah. Waktu itu dia memang tidak sengaja berciuman dengan Aksa. "Maafkan aku, Pa. Aku memang salah. Tapi jangan jauhkan aku dengan Mas Aksa, Pa. Dia selalu ada jika aku butuhkan. Dia juga yang membantu aku belajar setiap hari," ungkap April.
"Setiap hari?" April mengangguk lagi.
"Setiap malam aku bukannya nonton drakor melainkan belajar bareng Mas Aksa, Pa."
Erik menghela nafas. Dia pikir anaknya dan anak David memang sudah tidak dapat dipisahkan. Sedangkan April yang saat ini gugup sudah siap menerima hukuman dari sang ayah setelah berkata jujur.
"Turunlah, kita sudah sampai," perintah Erik pada April. April berjalan gontai ke dalam rumah. Hari ini Fabian pulang cepat karena kuliah hanya sampai jam sembilan.
"Kenapa, Dek?" tanya Fabian.
__ADS_1
"Aku diskors," jawab April. Setelah itu dia kembali berjalan menaiki tangga.
"Pa, apa yang terjadi?" tanya Fabian pada papanya.
Erik menatap tajam pada Fabian. "Katakan! Apa kamu juga tahu kalau selama ini Aksa diam-diam berhubungan dengan April?" tanya Erik. Fabian menelan ludahnya kasar.
"Jawab, Fab!" sentak sang ayah.
"Iya, Pa."
"Fab, kamu kenapa ikut-ikutan membohongi papa?" tanya Erik. Di sangat kecewa.
"Pa, April dan Dafi itu tak terpisahkan. Hanya Dafi yang bisa bikin April semangat. Papa ingat waktu nilai-nilai April jelek? Dafi bisa bikin dia dapetin nilai-nilai bagus karena tiap malam mereka belajar bareng. Apa yang salah dengan hubungan mereka?" tanya Fabian balik.
"Papa tidak ingin adikmu kebablasan, Fab. Appa pernah melihat mereka berciuman."
"Aku tahu, Pa. Tapi bukan berarti Dafi laki-laki bren*sek. Selama ini aku mengawasi mereka jika dua anak manusia itu bertemu."
Erik justru menahan tawa. "Jadi kamu jadi obat nyamuk?" ledek sang ayah.
"Iya, supaya mereka nggak kebablasan seperti apa kata papa," jawab Fabian dengan ketus. "Pa, jangan jauhkan mereka. Selama ini Dafi yang selalu menemani April bahkan sebelum dia berkumpul dengan kita. Itulah kenapa April tidak bisa hidup tanpa Dafi."
"Fabian mengerti, Pa."
Sementara itu April menangis di dalam kamar. Dia takut ayahnya akan melarang dia bertemu dengan Aksa. Tiba-tiba ponsel April berbunyi. Tertera nama Aksa menelepon ke ponselnya.
"Hallo," jawab April dengan suara serak.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Tadi kenapa pesan terakhir aku belum kamu balas? Apa belum istirahat?" tanya Aksa panjang lebar.
"Aku diskors, Mas. Aku ketahuan main handphone di kantin," ucapnya mengadu pada sang kekasih.
Bukannya ikut prihatin Aksa malah tertawa mendengar ucapan April. "Malah bagus dong. Kamu bisa bebas teleponan sama aku," goda Aksa.
"Ada yang belum aku kasih tahu sama kamu."
"Apa itu?"
"Papa sudah tahu kalau kita diam-diam berhubungan," jawab April.
__ADS_1
"Ya sudah mau apa lagi? Aku terima kalau ayah kamu ingin menghukumku," jawab Aksa. "Yang, aku kuliah dulu ya. Nanti aku hubungi lagi," pamit Aksa.
Keesokan harinya, Fabian mengajak April ke kampus. "Boleh ya, Pa?" rengek April meminta izin.
"Tapi kamu nggak macam-macam 'kan?" tanya Erik memastikan.
"Nggak, Pa. Aku janji. Mas Aksa juga ada ujian jari kita nggak bakal ketemuan." April mencoba meyakinkan ayahnya.
"Ya sudah boleh," jawab Erik dengan terpaksa.
April memeluk ayahnya. "Terima kasih, Pa."
"Cuma bilang terima kasih?" goda Erik. April pun mencium pipi ayahnya tanpa ragu. Semenjak dia menjadi bagian dari keluarga Erik, gadis itu tidak kekurangan kasih sayang.
April bersemangat ikut kakaknya ke kampus. "Kamu semangat sekali, Dek?" tanya Fabian.
"Iya, aku juga pengen ngerasain jadi mahasiswi," jawab April dengan polos. Fabian mengacak rambut April dengan sayang.
Sesampainya di kampus, April terkejut ketika melihat Lidia yang lewat sekilas. "Kak Lidia kuliah di sini?" tanya April.
"Iya," jawab Fabian.
"Wah enak ya bisa pacaran satu kampus. Nggak perlu ngumpet-ngumpet kaya aku," sindir April.
"Siapa juga yang pacaran sama dia."
"Kak Fab jangan bohong deh. Kakak suka kan sama Kak Lidia?" tuduh April.
"Ngomong apa sih? Dek, kamu tunggu di kantin ya, kakak masuk ke kelas dulu."
April pun berjalan-jalan mencari kantinnya. Sesaat kemudian Lidia memanggil. "April."
"Kak Lidia." April berjalan menghampiri Lidia.
"Siapa dia, Lid?" tanya salah seorang teman Lidia.
"Adik ipar," jawab Lidia keceplosan.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1