
Hari ini Papa Yudha resmi menikahi kekasihnya Martha. Semua anggota keluarga bahagia menyambut anggota keluarga baru mereka. Martha diterima sebagai ibu baru mereka dengan baik. David beserta istri dan Safa beserta suami terharu menyaksikan pernikahan ayah mereka.
Namun, di saat semua orang bahagia, ada satu orang yang merasa dikhianati yaitu mantan suami Martha. Dia tidak mempermasalahkan mantan istrinya menikah lagi. Hanya saja dia menyayangkan jika Martha menikah dengan orang yang menyebabkan kematian anak semata wayangnya.
Beni mengepalkan tangannya ketika melihat Martha tertawa bersama suami barunya dari kejauhan. Dia mengamati dari luar. Acara pernikahan itu diadakan di rumah Martha yang halaman depannya cukup luas.
"Ibu macam apa kamu menikah dengan para penjahat yang telah membunuh anakmu?" geram Beni. Dia pun menutup kaca mobilnya lalu berlalu meninggalkan area rumah Martha.
Usai acara pernikahan, Yudha bermalam di rumah Martha yang baru. Rumah lama telah dijual dan dia pindah ke rumah yang cukup sederhana tapi halaman depannya cukup luas.
"Mulai besok tinggallah di rumahku. Kita jual saja rumah ini dari pada tidak ada yang menepati," usul Yudha.
Martha mengangguk. "Aku akan mengikuti suamiku," jawab Martha.
Yudha menyentuh dagu istrinya lalu dia memberikan kecupan. Martha menerima dengan senang hati. "Aku merasa seperti baru pertama kali menikah," ucap Yudha.
Martha tersenyum malu-malu. "Aku tidak ingin memiliki anak di usiaku yang sudah tua ini. Aku rasa memalukan jika anak-anakmu yang sudah dewasa itu memiliki seorang adik yang masih bayi sedangkan anak-anak mereka sudah menginjak usia sekolah," ujar Martha.
Yudha terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Kalau Tuhan memberi apa kita bisa menolak? Yang penting usaha dulu."
Martha merasa malu mendengar ucapan suaminya. "Usia kita tak layak membicarakan hal-hal romantis. Aku sudah tidak muda lagi jika aku bertambah keriput apa kamu masih mencintaiku?" tanya Martha.
"Aku pun sudah beruban. Jika rambutku memutih seluruhnya apa kamu masih mau berada di sisiku?" tanya balik Yudha.
Martha mengalungkan kedua tangannya ke leher setelah itu mencium pipi suaminya. "Aku akan berada di sisimu hingga akhir hayatku suamiku," ucapnya seraya menatap ke dalam mata suaminya.
Yudha mengangkat tubuh istrinya. "Turunkan aku! Apa kamu tidak takut kena encok?" ledek Martha. Dia ketakutan saat suaminya mengangkat tubuhnya.
"Aku akan menurunkanmu tapi saat aku menurunkanmu kamu tidak bisa bisa jauh-jauh dari jangkauanku."
Ah, malam ini menjadi malam panjang bagi kedua pasangan pengantin baru itu. Sedangkan di tempat lain. Ada pasangan lain yang berusaha untuk memberikan adik pada anak pertamanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sengaja tidak KB ya?" tanya David. Sofia mengangguk malu-malu.
David mengulas senyum. Laki-laki itu menarik pinggang istrinya. "Berarti kamu siap memiliki anak kedua," ucap David sambil menempelkan dahinya ke dahi sang istri.
"Jika Allah mengizinkan," jawabnya.
David pun mulai percintaan malam ini dengan ciuman yang lembut di bibir istrinya. Sofia membalas ciuman suaminya. Mereka menghabiskan malam ini dengan percintaan panas untuk menanamkan benih di rahim istrinya.
Hari-hari begitu cepat. Sofia merasa ada yang berbeda hari ini. "Sayang kamu kelihatan pucat," tegur David.
"Mungkin aku kecapekan, Mas," jawabnya.
"Biar Aksa bareng aku aja nanti," kata David.
"Yah, berangkat sekarang yuk! Waktunya sudah mepet," kata Aksa mengajak ayahnya. David mengangguk.
"Nanti jika kamu merasa tidak ada perubahan sebaiknya periksa ke dokter. Jangan menyepelekan penyakit," pesan David pada istrinya. Sofia mengangguk patuh.
Aksa menoleh pada ayahnya. "Pengen, Yah. Aku pengen punya teman main kalau di rumah," jawabnya polos. Sampai usia delapan tahun dia belum memiliki adik.
David tersenyum mendengar tanggapan anaknya. Dia berharap istrinya itu akan memberikan kabar baik bulan ini.
Sesampainya di sekolahan Aksa, David berjanji akan menjemput putranya mengingat istrinya yang sedang sakit. "Aku pulang jam 12.30 Yah. Jangan sampai telat ya," pesan Aksa pada David.
Usai menurunkan Aksa, David menuju ke rumah sakit seperti biasa. Ketika baru turun dan melewati UGD, seorang perawat memanggilnya. "Dok, ada pasien gawat darurat yang akan melahirkan tapi dia pasien gangguan jiwa, Dok," lapor perawat wanita tersebut.
Tak berpikir panjang David langsung berlari ke UGD. Dia terkejut ketika sampai di sana melihat ruangan berantakan karena pasien itu mengamuk. "Tolong tenang!" David mencoba membujuk pasien itu.
Dia berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya. Pasien itu mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma setelah diper*kosa. David dan perawat lain kesulitan menangani wanita yang terus mengamuk itu.
"Dok bagaimana kalau kita beri obat penenang?" saran salah seorang perawat.
__ADS_1
"Periksa dulu apakah ada gangguan jantung atau tidak. Akan sangat berbahaya jika saat kontraksi dia diberi obat penenang. Sebaiknya biarkan dia meronta karena itu efek dari rasa sakit akibat kontraksi," jawab David.
"Baik, Dok."
Tapi diam-diam perawat wanita itu menyuntikkan obat penenang tanpa sepengetahuan David. Dia segera menyembunyikan alat suntik itu setelah melakukannya.
"Dok, ketubannya sudah pecah," lapor perawat yang lain.
David segera mengambil tindakan. Dia membantu pasien itu melahirkan secara normal. Akan tetapi obat penenang yang disuntikkan itu bereaksi cepat. Pasien menjadi lemas dan tertidur.
"Jangan biarkan dia pingsan. Kita harus mengeluarkan anaknya lebih dulu," perintah David.
"Dorong anaknya keluar, ibu sadarlah!" teriak David mencoba menyadarkan pasien.
"Dok pasien tidak bernafas," lapor perawat yang membantu mengurus kelahiran anak pasien gangguan jiwa tersebut.
"Sial. Ibu saya mohon sadarlah!" David masih berusaha mengeluarkan bayinya. Bayi itu berhasil dikeluarkan tapi dalam keadaan lemas karena terlalu lama di dalam perut ibunya saat ketiban sudah pecah.
"Tangani bayinya minta dokter anak untuk merawatnya. Kita kabarkan pada keluarganya jika ibunya tidak bisa diselamatkan," perintah David pada sala seorang perawat itu.
David mengusap wajahnya gusar. Baru kali ini dia mengalami proses persalinan yang amat sulit. Dia hanya curiga ketika pasien itu tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Sus apa kamu sudah periksa riwayat jantungnya?" tanya David meminta laporan dari bawahannya.
"Dia punya riwayat jantung lemah, Dok," jawab perawat tesebut.
David memejamkan mata. Dia merasa curiga dengan kematian pasien gangguan jiwa itu tapi dia tidak bisa menganalisa secara langsung.
Saat David masih merasa janggal di luar ruangan terjadi kegaduhan. "Bagaimana bisa putri saya yang sehat tiba-tiba meninggal?" tanya ibunya tak terima.
"Pokoknya saya tidak terima kalian pasti melakukan malapraktik," tuduhnya dengan kejam.
__ADS_1