Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Guru Baru


__ADS_3

Hari ini Aksa berangkat sekolah seperti biasa. Setelah ayahnya dibebaskan, Aksa tak lagi dibuli. Dia bisa bermain lagi dengan temannya. Aksa merasa bahagia. Dia pun menceritakan apa saja yang dia kerjakan di sekolah tadi pada ibunya.


Sofia tak lagi bekerja di rumah sakit setelah sempat menempati jajaran direksi perusahaan. David melarangnya demi keselamatan anak dan istrinya. Dia hanya tak mau Sofia kecapekan.


Mereka juga telah mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar jemput Aksa ke sekolah. "Aku mau bawa banyak makanan besok, Bu," seru Aksa.


"Untuk apa Mas?" tanya Sofia.


"Untuk kubagikan pada teman-temanku," jawab Aksa antusias. Sofia tersenyum melihat anaknya.


"Baiklah, kita belanja banyak snack nanti. Kita ajak ayah sekalian," kata Sofia menimpali. Aksa mengangguk setuju.


"Ayo makan dulu. Ibu sudah masak makanan kesukaan Mas Aksa," kata Sofia memberi tahu.


Aksa menunggu ayahnya pulang sampai ketiduran. Dia sedari tadi merengek karena ingin pergi berbelanja dengan ayahnya tapi ayahnya tak kunjung pulang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mas." Sofia mencium tangan suaminya.


"Aksa mana, Bu?" tanya David pada istrinya.


"Dia sudah tidur, Yah. Tadi seharian nunggu ayah karena dia ingin mengajak ayah berbelanja," ungkap Sofia.


"Berbelanja apa?" tanya David pada istrinya.


"Katanya dia ingin membagi-bagikan makanan untuk teman-temannya. Mereka sudah mau berteman dengan Aksa lagi."


"Aku jadi merasa bersalah pada anak kita. Karena kasus yang menimpaku dia jadi disakiti oleh teman-temannya," ucap David dengan wajah sendu. "Baiklah, ayah akan borong minimarket yang jam segini masih buka," kata David kemudian. Sofia mengangguk setuju.


Keesokan harinya, Aksa melihat banyak sekali bungkus makanan yang ada di kamarnya. "Bu, ibu," teriak Aksa mencari keberadaan Sofia.


"Ada apa, Mas?" tanya Sofia pada putranya.


"Di kamarku banyak sekali bungkusan. Apa isinya?" tanya Aksa bingung.


Semalam David memborong isi minimarket kemudian membungkusnya bersama sang istri di paper bag agar Aksa bisa membagi-bagikan snack itu pada teman-temannya.

__ADS_1


"Itu dari ayah," sahut David. Aksa menoleh dia berlari memeluk ayahnya. "Aku menunggu ayah seharian tapi kenapa ayah pulang telat?" tanya Aksa polos.


"Maaf, ada operasi darurat yang perlu ayah tangani kemaren. Nanti berangkat sekolah mau bareng nggak sama ayah?" tanya David pada putranya. Aksa mengangguk cepat.


"Sekarang Mas Aksa siap-siap ibu akan siapkan bekal untukmu," seru Sofia. Anak kecil itu pun berlari ke kamarnya.


"Terima kasih, Mas. Kamu sudah membuat dia bahagia," kata Sofia.


David tersenyum lalu mencium kening istrinya. Setelah itu dia merendahkan kepalanya. "Apa kamu juga bahagia di dalam sana?" tanya David pada anak yang ada di dalam kandungan istrinya.


"Bahagia, Ayah," jawab Sofia menirukan suara anak kecil. David terkekeh mendengarnya.


"Nanti siang aku jemput ya, aku akan memeriksa kondisi kehamilanmu.". Sofia mengangguk setuju.


Setelah itu David dan putranya berangkat ke sekolah. Aksa sangat antusias ketika memasukkan semua barangnya ke dalam mobil tadi. Setelah sampai di sekolahan David ikut turun membagi-bagikan snack untuk teman-teman putranya.


"Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot membawakan banyak makanan untuk mereka Dave," kata Martha selaku kepala sekolah di sana.


"Tidak apa-apa, Ma. Aksa yang mau," jawabnya. "Ya sudah, Ma. Aku pamit ke rumah sakit sebentar lagi jam praktekku akan dibuka," pamit David pada wanita yang menjadi istri ayahnya itu.


Wanita itu tersenyum ketika melihat laki-laki yang selama delapan tahun terakhir dia cari. "Mas David ini Dara," serunya mengingatkan pria itu.


Ya, Dara adalah gadis yang pernah menolong David ketika dia jatuh ke sungai. Dia merawat David bersama kakeknya di sebuah desa yang sangat jauh dari kota. Ketika David kembali, Dara bertekad untuk ke kota. Dia melanjutkan pendidikannya di kota agar sambil mencari keberadaan David.


"Dara, oh Ya Allah hampir saja aku lupa. Apa kabar?" tanya David. Dia melihat penampilan Dara saat ini.


"Aku bekerja sebagai guru di sekolah ini, Mas," ungkapnya.


"Wah selamat ya. Tapi maaf aku tidak bisa lama-lama karena aku harus bekerja. Lain kali kita ngobrol lagi," pamit David. Dara sedikit kecewa tapi dia sudah amat senang setelah bertemu dengan pujaan hatinya.


"Aku pastikan kita akan bertemu lagi, Mas," gumam Dara sambil melihat punggung David yang semakin menjauh.


Setelah itu Dara memasuki ruang kelas 3. "Selamat pagi, nama saya Widara Ratri kalian bisa memanggil saya Bu Dara. Saya akan menggantikan Bu Sekar yang telah mengundurkan diri. Mulai sekarang ibu akan jadi wali kelas kalian," terang Fara dengan wajah yang ramah memperkenalkan dirinya.


Anak-anak kelas 3 di sekolah internasional itu bersorak gembira mendapatkan guru baru yang masih muda.


Saat bel pulang berbunyi semua anak keluar dari kelasnya. Tapi satu orang yang sejak tadi duduk diam di bangku. Fara pun mendekati anak itu. "Kamu kenapa?" tanya Dara pada anak laki-laki yang tak lain adalah Dafi Aksa Bilal anak dari David.

__ADS_1


Aksa tak menjawab tapi dia terus memegangi perutnya. "Apa kamu sakit perut?" tanya Dara lagi. Aksa mengangguk.


"Ayo ikut ibu ke UKS," ajaknya. Wanita itu pun menuntun Aksa berjalan dengan perlahan.


Saat itu Martha yang baru keluar dari ruangannya melihat Aksa masih di sekolah padahal semua anak sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Dia pun berjalan menghampiri cucunya.


"Dia kenapa?" tanya Martha pada guru baru yang hari ini bekerja di sekolahnya.


"Katanya dia sakit perut. Saya berniat membawanya ke UKS, Bu," jawab Dara.


"Owh, baiklah. Nanti kalau sudah selesai antar dia ke depan biasanya ada ibunya yang menjemput," perintah Martha pada guru baru itu.


"Baik, Bu."


"Tadi makan apa kok bisa sampai sakit perut?" tanya Dara pada anak kecil itu. Dia sedang mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya agar anak itu lebih baik.


"Hanya terlalu makan jajanan pedas, Bu," jawab Aksa.


"Sudah selesai sebaiknya kamu langsung pulang. Ayo ibu antar ke depan." Dara pun membawakan tas Aksa hingga ke depan gerbang sekolah.


"Mas Aksa kenapa lama sekali?" tanya Sofia.


"Apa anda ibunya?" tanya Dara. Sofia mengangguk.


"Tadi dia sakit perut saya membawanya ke UKS terlebih dahulu," terang Dara pada wanita berhijab itu.


"Terima kasih banyak, Bu. Tapi saya baru pertama kali melihat anda," kata Sofia.


"Perkenalkan saya Dara wali kelas 3 yang baru." Dara mengulurkan tangannya. Setelah itu dia melihat seorang laki-laki turun dari mobil.


"Mas David?"


Apa yang terjadi selanjutnya? Simak terus ya


...♥️♥️♥️...


__ADS_1


__ADS_2