
"Ada apa papa mengumpulkan kami di sini?" tanya David memulai percakapan.
"Papa ingin mengenalkan kalian pada seseorang," ucap Yudha memberi tahu anak-anaknya.
Kemudian seorang wanita keluar dari persembunyiannya. Semua orang yang hadir mengerutkan kening. Yudha berdiri di samping wanita itu. "Perkenalkan dia calon istri papa. Namanya Tante Martha." Yudha memperkenalkan calon istrinya.
Ucapan papanya membuat semua orang terkejut. Mereka belum mengenal wanita itu jadi wajar jika semua orang diam. "Kalian tidak suka jika papa menikah lagi?" tanya Yudha.
Safa melihat ke arah David seolah dia menyuruhnya buka suara. "Bukan, Pa. Kami senang papa akan menikah lagi. Bukannya dulu aku pernah menyarankan papa?" Safa melotot tidak percaya pada ide gila adiknya itu.
David condong ke arah kakaknya. "Biarkan papa bahagia, mungkin dia kesepian," bisiknya pada Safa.
"Ayo sayang kita makan bersama," ajak Yudha.
Usai menyelesaikan makanannya. Yudha memulai percakapan. Mereka semua terlihat canggung karena ada Martha yang duduk di satu meja. "Sofia bagaimana kandungan kamu? Apa dia sehat?" tanya Yudha pada menantunya.
"Alhamdulillah, Pa," jawab Sofia dengan singkat.
"Hamil berapa bulan?" tanya Martha mulai basa-basi.
"Jalan lima bulan."
"Wah selamat ya sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Anak pertama bukan?" Sofia mengangguk.
"Oh ya, di mana Willa? Kenapa dia tidak ikut?" tanya Yudha.
"Dia di rumah mama," jawab Safa.
Martha sedikit gelisah. "Bukannya Yudha merupakan seorang duda kenapa wanita itu bilang anaknya dititipkan di rumah mamanya?" batin Martha.
Yudha seolah menangkap ekspresi kebingungan Martha. "Jangan salah paham sayang, yang dimaksud mama oleh anakku adalah ibu mertuanya," terang Yudha pada calon istrinya itu. Martha tersenyum lega.
David melihat Sofia beberapa kali mengubah posisi duduknya. "Pa, sudah agak larut aku mau ajak istriku beristirahat. Jadi kami mau pulang," pamit David. Sofia meraih tangan ayah mertuanya itu untuk disalami. Kemudian meraih tangan Martha dengan ragu.
"Aku juga mau pulang, Pa. Willa dan adiknya pasti sedang menunggu jemputan dari kami," seru Zidan.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih sudah datang makan malam bersama papa. Oh ya rencana pernikahan papa akan segera papa umumkan tanggalnya nanti."
Setelah anak-anaknya pulang. Kini Yudha mengantarkan calon istrinya itu. "Apa menurutmu mereka akan menyukai aku? Sepertinya mereka tidak senang dengan kehadiranku?" tanya Martha pada kekasihnya.
"Tenanglah sayang. Anak-anak sudah dewasa mereka tidak mungkin mengatur hidup ayahnya. Mereka pasti tahu tujuanku menikah lagi," jawab Yudha. Dia mencoba menenangkan Martha agar tidak mencemaskan masalah restu anak-anaknya.
"Sayang, apa pinggangmu sakit lagi?" tanya David pada Sofia.
"Tidak aku hanya kebanyakan duduk jadi aku kurang nyaman," jawab Sofia.
David mengelus kepala istrinya. "Tidurlah nanti aku akan bangunkan kamu setelah sampai di rumah."
Sesampainya di gedung apartemen Sofia masih tertidur pulas. David jadi tidak tega membangunkan istrinya. Dia pun mengendong Sofia hingga ke unit apartemen miliknya.
Ketika dia hendak naik lift, David berpapasan dengan Dena. "Manja banget," gerutu Sofia dalam hati. Hatinya seperti terbakar melihat David begitu perhatian pada wanita itu. Niatnya yang akan pergi jadi dia urungkan dan memilih kembali naik ke lantai atas lagi agar bisa bersama David.
"Apa dia pingsan?" tanya Dena yang setengah meledek.
"Tidak, dia hanya tertidur. Aku tidak tega membangunkannya," jawab David dengan santai.
"Nanti tanganmu pegal Dave," protes Dena yang pura-pura khawatir.
"Kamu tidak jadi pergi?" sindir David pada Dena yang sudah berpenampilan rapi dengan memakai tas selayaknya orang akan pergi berpesta.
Dena gelagapan. "Aku pergi."
David tak menghiraukan wanita itu. Dia tahu Dena tidak suka melihat dirinya menggendong Sofia seperti sekarang. Namun, dia hanya diam seolah tak tahu agar Dena tak mencari perhatian padanya.
Sofia membuka mata. "Mas," panggilnya. Dia terkejut ketika berada dalam gendongan David.
"Kenapa bangun?" tanya David.
"Turunkan aku, Mas. Aku berat," pinta Sofia.
David menggeleng. "Tidak, kamu tidak berat." Padahal David terengah-engah karena kelelahan.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Sofia sambil meledek. David mengangguk tapi wajahnya merah. Sofia yang pengertian pun menurunkan kakinya. David yang sigap langsung menurunkan istrinya agar dia tidak jauh saat mendarat.
Sofia melihat lengan suaminya. "Tuh kan merah." Sofia meniup lengan suaminya. "Apa masih sakit?" tanya Sofia. David tertegun atas sikap sang istri. Dia jadi gemas. Lalu David mencium bibir Sofia.
"Sudah malam, Mas. Waktunya istirahat." Ucapan Sofia itu seolah tidak didengar oleh sang suami. David menggendongnya lagi hingga masuk ke dalam kamar.
Di tempat lain, Yudha mengantarkan Martha sampai ke depan rumahnya. Lalu sebuah mobil menyorot mereka. Yudha dan Martha menoleh ke arah mobil itu. "Itu anakku," ungkap Martha.
Seorang gadis dengan pakaian minim keluar dari dalam mobil tersebut. Yudha seperti mengenal gadis itu. "Dena?" tunjuk Yudha.
"Om, ngapain di sini?" tanya balik Dena.
"Kalian rupanya sudah saling kenal?" tanya Martha heran. Yudha mengangguk.
"Ternyata dunia ini sempit. Aku tidak tahu kamu adalah mantan istri rekan bisnisku. Dena pernah aku jodohkan dengan David tapi David telah memiliki calon pendamping lain," ungkap Yudha agak menyesal. Dia merasa tidak enak pada Dena.
"Lalu kalian?" Dena masih bingung. Dia tidak mau menebak-nebak hubungan Yudha dengan mamanya.
"Pak Yudha akan jadi ayah kamu," jawab Martha. Dena tentu terkejut bukan main. Bagaimana bisa ayah dari laki-laki yang dicintai akan menjadi suami ibunya? Lalu bagaimana caranya dia merebut David. Bahu Dena meluruh, kesempatannya untuk menjadikan David suaminya musnah sudah.
"Aku masuk dulu, Ma."
"Dena tunggu! Anak itu tidak sopan," keluh Martha. "Maafkan dia, Mas." Martha merasa tidak enak pada calon suaminya itu.
Yudha mengangguk. "Tidak apa-apa. Mungkin dia belum bisa memaafkan aku karena membuat harapannya tak terwujud. Aku tahu Dena gadis yang baik, lambat lain pasti dia bisa memaafkan kesalahanku," kata Yudha panjang lebar.
Padahal Dena keberatan dengan rencana pernikahan ibunya. Tapi Yudha berpikir Dena marah karena dia pernah menjanjikan suatu yang tidak bisa dipenuhi.
"Aku pamit," kaya Yudha. Setelah itu dia menaiki mobilnya meninggalkan halaman rumah Martha. Martha melambaikan tangan ke arah Yudha.
"Dena, mama mau bicara sama kamu," sentak Martha. Dena tak menghiraukan ibunya. Dia hendak minum tapi Martha merebut gelas yang ada di tangan anaknya.
"Jangan jadi anak kecil." Dena menatap ibunya tidak suka seolah dia merasa tidak suka
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Mampir ke sini dulu ya