
Udah hari Senin nih, mohon dukungan vote nya ya 🙏
...♥️♥️♥️...
Sebelum menjawab pertanyaan menantunya. Yudha meminta cucunya masuk ke dalam kamar. "Cucu kakek apa sudah mengerjakan PR?" tanya Yudha. Aksa menggeleng.
"Baiklah, sekarang kerjaan dulu PRnya. Kakek ingin bicara sebentar dengan ibumu." Yudha tidak ingin Aksa mendengar percakapan mereka. Usianya belum cukup untuk ikut campur dalam urusan orang dewasa.
"Orang itu adalah mantan suami Martha," ungkap Yudha. Sofia terkejut mendengarnya. Dia tidak pernah berpikir bahwa ayah Dena adalah dalang dari semua kejadian yang menimpa suaminya.
"Itu berarti ini ada hubungannya dengan kematian Dena? Apa ayahnya dendam pada keluarga kita?" tebak Sofia. Yudha mengangguk.
"Aku juga berpikiran sama denganmu," sahut Yudha.
"Oh, tidak. Kenapa ayah dan anak selalu membuat suamiku menderita," ujar Sofia.
"Sebenarnya keduanya mengincar nyawaku tapi entah kenapa David yang selalu jadi korbannya. Maafkan papa Sofia. Karena ulah papa suamimu jadi menderita," ucap Yudha dengan penuh penyesalan. Ya, semua kejadian ini adalah akibat hubungannya dengan Martha yang awalnya tidak disetujui oleh Dena hingga mantan suaminya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Pa. Saat ini kita harus cari tahu bagaimana menjebloskan dia ke penjara lalu membebaskan suamiku."
Yudha mengangguk setuju. "Tapi papa pikir jika tidak ada bukti maka kita harus cari celah."
"Maksud papa apa?" tanya Sofia tidak mengerti.
"Kita minta bantuan ayahmu untuk mencari tahu apakah Beni menjalankan bisnis dengan cara kotor atau tidak. Dengan begitu kita bisa jebloskan dia ke penjara lalu kita tambah tuntutannya, saat itu kamu bisa hadirkan saksi kunci dalam persidangan nanti," kata Yudha menjelaskan. Sofia mencerna omongan Yudha lalu menyetujui usulan ayah mertuanya itu.
Keesokan harinya, Sofia menemui ayahnya, Julian. "Ada apa sayang?" tanya Julian. Sofia jarang sekali mengunjunginya di kantor.
"Pa, aku ingin meminta papa menyelidiki orang yang bernama Beni Gunawan," kata Sofia.
Julian mengerutkan keningnya. "Siapa dia?" tanya Julian penasaran. Putrinya tidak mungkin menyuruhnya sembarangan.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang menjadi dalang atas kasus yang menimpa suamiku. Dia menyuruh orang untuk melakukan kejahatan lalu mereka melimpahkan kejahatan itu pada Mas David," terang Sofia.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini?" tanya Julian.
"Aku sudah menyelidiki kaki tangannya, Pa. Tapi aku tidak punya bukti untuk menjebloskan dia ke penjara. Dia melakukan semuanya dengan bersih."
Julian bangkit dari tempat duduknya. "Jadi maksud kamu papa harus menyelidiki dia sedetail mungkin agar menemukan celah untuk memasukkan dia ke penjara?" tanya Julian memastikan.
Sofia mengangguk. "Tepat sekali, Pa. Aku akan menghadirkan orang yang menjadi saksi kunci nanti di persidangan."
"Papa bangga sama kamu. Kamu sangat cerdas dalam memikirkan solusi. Kamu juga tidak menyalahkan orang lain tanpa alasan. Papa akan melakukan apa yang kamu minta." Julian menyetujui permintaan putrinya.
"Aku serahkan semuanya pada papa," ucap Sofia.
Julian pun mengerahkan orang-orangnya untuk menyelidiki Beni. Tak butuh waktu lama hanya beberapa hari saja anak buahnya bisa mengumpulkan bukti kejahatan Beni.
"CK, benar dugaan Sofia. Penggelapan uang dan penjualan saham bodong ini bisa dijadikan alat untuk menjebloskan orang ini," ucap Julian menyeringai licik.
Julian pun menghubungi Sofia. "Datanglah ke kantor papa, ada yang ingin papa tunjukkan padamu," kata Julian.
Sofia pun mengirim pesan pada orang suruhannya yang ditugaskan mengawasi Wina menyeret wanita itu kembali. Wina masih berada di rumahnya. Ketika dia minta pindah lagi ke luar kota suaminya ya mengizinkan. Wina tak mau menjelaskan kenapa dia ingin pergi. Sebuah keuntungan bagi Sofia karena dia tidak perlu pusing mencari Wina lagi.
"Ikut saya!" Orang suruhan Sofia memaksa Wina masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Sofia, saat ini dia sudah sampai di hotel tempat ayahnya bekerja. "Papa sudah punya bukti?" tanya Sofia antusias.
Julian menarik ujung bibirnya. Dia memberikan sebuah map yang berisi daftar kejahatan Beni. "Rupanya dia memang menjalankan bisnisnya dengan cara kotor," kata Sofia.
"Lalu bagaimana caramu membebaskan David?" tanya Julian penasaran dengan rencana Sofia.
"Aku telah berdiskusi dengan pengacara, dia akan mengatur skenarionya," jawab Sofia dengan penuh percaya diri. Jika Wina bersaksi maka suaminya bisa dibebaskan.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal suaminya, David sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman satu selnya. Ketika David sedang tidur, perutnya tiba-tiba ditendang karena dia tidur dengan mendengkur.
"Lo pikir di sini cuma elo doang yang tidur? Kita jadi nggak bisa tidur karena denger Lo ngorok," bentak orang itu dengan suara lantang.
David memegangi perutnya yang sakit setelah ditendang. Dia tidak membalas karena dia pikir jika membalas maka dia akan menimbulkan masalah lain. Selama dikurung dia tidak mau menunjukkan sikap buruk agar dia segera dibebaskan.
"Aku sangat merindukan kalian, Sofia, Aksa," sebut David dalam hatinya.
Usai menemui ayahnya, Sofia menjemput Aksa di sekolah. "Bagaimana kalau kita menjenguk ayah?" Sofia menyampaikan usulannya pada putranya. Aksa mengangguk cepat. Dia senang sekali karena dia bisa bertemu dengan ayahnya.
"Ayah," panggil Aksa ketika ayahnya datang.
David tersenyum dan menyambut pelukan putranya. Wajahnya kini penuh dengan janggut dan kumis. "Kamu tambah besar," kata David.
"Mas, bagaimana kabarmu?" tanya Sofia. Matanya berkaca-kaca melihat suaminya. Cukup lama mereka terpisah dan Sofia sangat merindukan suaminya. Begitu pula David.
"Seperti yang kamu lihat," jawab David ambigu. Meski tak tahu artinya Sofia berharap suaminya itu baik-baik saja.
"Aku ke sini untuk memberi kabar baik untukmu," kata Sofia.
"Kabar apa? Apa kamu hamil lagi?" tebak David. Niatnya hanya becanda tapi melihat istrinya mengangguk dia menangis bahagia.
David menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya. "Maaf, di saat kamu membutuhkanku aku malah tidak ada di sisimu," ucapnya dengan nada bergetar.
"Jangan khawatir Mas. Sebentar lagi aku akan membebaskanmu," kata Sofia menenangkan.
David mengerutkan keningnya. "Bagaimana caramu membebaskan aku sayang?" tanya David penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Tapi kamu akan tahu nanti."
"Aku percaya padamu," jawab David.
__ADS_1
...♥️♥️♥️...