
April menangis di hadapan Aksa. "Hei, kenapa nangis?" tanya Aksa. Pemuda itu mengusap air mata kekasihnya.
"Mas Aksa sengaja jauhi aku ya?" tuduh April.
Aksa tersenyum lembut. "Aku nggak jauhi kamu. Tapi saat ini kita sama-sama sibuk," jawab Aksa. Dia masih menyembunyikan kenyataan. "Aku coba hubungi kamu tapi nomor kamu nggak aktif."
"No, teleponku ganti karena handphoneku tercebur kolam," jawab April.
Di sisi lain ada Fabian dan Lidia yang sedang melihat ke arah April dan Aksa. Entah sejak kapan mereka akur dan makan camilan bersama. "Gila ya, kita di sini buat ngawasin adek lo? Kalau ban mobil gue nggak kempes terus dompet gue nggak ketinggalan gue pasti udah bisa pulang. Sial!" umpat Lidia.
Fabian tersenyum tipis. "Emang lo tuh cewek ngerepotin," ledek Fabian.
"Ck, Diva nggak bisa naik mobil, jadi gue nggak bisa minta tolong dia. Ah, apa gue minta tolong Axel aja ya? Biar dia yang jemput gue."
Lidia pura-pura mengambil handphone yang ada di dalam tasnya. "Ck, lo ngapain sih? Tunggu bentar doang nanti gue anter pulang. Gue nggak bisa ninggalin April. Ntar yang ada gue dibunuh sama bokap."
"Hah? Kok bisa? Bukannya bokap lo tahu kalau mereka pacaran?" tanya Lidia tidak mengerti.
Fabian menghela nafas. "Gara-gara si Dafi main nyosor aja tuh jadinya papa salah paham. Dia sengaja membuat April sibuk dengan berbagai kegiatan belajar supaya dia melupakan Dafi," terang Fabian panjang lebar.
"Hah mereka ciuman? Lo tahu dari mana?" tanya Lidia kaget.
"Gue nggak sengaja lihat pas mau turun dari tangga." Saat itu hati Fabian hancur berkeping-keping. Dia yang masih menaruh perhatian pada April menjadi patah hati setelah melihat Aksa yang tak sengaja mencium April.
"Mereka yang dipisahkan kok elo yang sedih sih?" tanya Lidia. Sejak awal dia merasa aneh dengan hubungan antara Fabian dan April. " Lo kaya nggak rela kalau adek lo punya pacar," tebak Lidia.
"Apaan sih?" elak Fabian. Pemuda itu bangun dan berjalan mendekat ke arah April.
"Waktunya pulang Pril," seru Fabian. April pun berpamitan pada Aksa.
"Mas Aksa aku balik duluan ya." April merasa tidak rela tapi ada batasan waktu yang tidak bisa dilanggar.
"Aku akan hubungi kamu," balas Aksa.
"Pril kamu bareng Lidia ke mobil. Dia mau nebeng," perintah Fabian pada adiknya.
"Daf, gue tahu cinta lo ke April itu besar. Tapi papa berusaha menjauhkan elo dari adek gue itu bukan tanpa alasan," kata Fabian pada Aksa. Dia berbicara dengan wajah serius.
__ADS_1
"Gue udah curiga dari awal. Ayah juga sengaja membuat aku sibuk. Sepertinya mereka bekerja sama untuk memisahkan kami?" tuduh Aksa.
Fabian menepuk bahu Aksa. "Sementara waktu elo fokus dulu sama kuliah lo. Gue rasa April juga butuh konsentrasi sama belajarnya. Akhir-akhir ini nilai dia jeblok. Sebentar lagi dia ujian, gue nggak mau di nggak lulus dalam ujian nanti. Bukannya gue mau memisahkan kalian juga, tapi kasih support dengan cara diam-diam."
Aksa mengangguk setuju. Dia harus cari cara agar hubungannya dengan April tidak sampai ketahuan oleh orang tua mereka.
"Gue balik," pamit Fabian. Dia berjalan meninggalkan Aksa.
"Thanks, Bro," balas Aksa.
Sesampainya di dalam mobil, April tiba-tiba memeluk kakaknya. "Makasih, Kak. Udah mempertemukan aku dengan Mas Aksa."
Fabian mengusap kepala April. "Ingat jangan bilang-bilang sama papa," pesan Fabian pada sang adik. Lidia merasa terharu melihat kedekatan kakak-adik itu.
"Fab, jalan sekarang udah kesorean nih," sela Lidia. Fabian melirik gadis itu sejenak.
"Mobil lo nanti dijemput sama anak buah Axel," kata Fabian memberi tahu. Lidia tersenyum senang.
"Kelihatannya elo seneng banget pas gue sebut nama Axel?" ledek Fabian.
"Nggak, gue seneng soalnya mobil gue ada yang urus. Thanks ya," ucap Lidia dengan tulus. Jantung Fabian merasa berdebar.
"Gue cuma nawarin kalau lo nggak mau gue nggak maksa," ucapnya dengan ekspresi datar.
"Ya udah jemput gue jam setengah tujuh soalnya gue juga mau nganterin Diva sekalian," jawab Lidia.
Entah kenapa hati Fabian merasa senang. "Oke besok gue jemput elo sekalian nganterin April dan Diva."
"Kami pulang dulu ya, Kak," pamit April. Lidia melambaikan tangan.
"Kak, kakak suka nggak sama Kak Lidia?" tanya April terang-terangan pada kakaknya.
Fabian menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalan. "Ck, apaan sih? Umur dia tuh lebih dewasa dari pada aku, mana mau dia sama aku," jawab Fabian sambil terkekeh kecil.
"Berarti kakak suka 'kan?" ledek April.
"Nggak."
__ADS_1
"Suka."
"Nggak."
"Nggak?" tanya April
"Suka." Fabian keceplosan dengan pertanyaan menjebak dari adiknya.
Setelah sampai di rumah, Erik menyambut keduanya. "Kalian tadi pergi ke mana?" tanya Erik.
April bingung harus menjawab apa. "Ke kampus, Pa," jawab Fabian lebih dulu.
"Kampus? Kamu ngajak April ke kampus kamu?" tanya Erik memastikan.
"Bukan, Pa."
"Eh, maksud aku aku ke kampus Lidia. Iya, kampus Lidia. Tadi mobilnya mogok, dia minta tolong buat jemput dia di kampus karena dia lupa bawa dompet. Iya, seperti itu," jawab Fabian dengan gugup.
"Bener begitu, Pril?" tanya Erik pada April. April mengangguk cepat.
"Ya sudah, nanti jangan lupa makan malam bareng!" April dan Fabian mengangguk secara bersamaan. Setelah itu keduanya naik ke lantai atas.
"Fhufh, aku deg-degan. Makasih ya kak untuk hari ini," kata April dengan tulus. Fabian mengangguk.
Sesaat kemudian April masuk ke dalam kamar. Sebuah pesan masuk ke handphonenya. April mengecek pesan yang masuk.
Aksa
Hai, udah sampai rumah? Sekarang lagi apa?
April tersenyum bahagia karena saat ini mereka bisa berhubungan lagi. Setelah itu, April membalas pesan Aksa.
April
Aku baru saja sampai. Tadi nganter Kak Lidia dulu sampai rumahnya. Ini baru masuk kamar.
Mereka berbalas pesan hingga sebuah ketukan menyadarkan April. "Siapa?" tanya April dari dalam.
__ADS_1
"Ini papa," jawab Erik dari luar.
April cepat-cepat menghapus pesan yang masuk ke dalam handphonenya. Sang ayah tidak boleh tahu agar hubungan April dengan Aksa tidak ketahuan.