Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Drama pagi ini


__ADS_3

Selamat menyambut tahun baru untuk lain semua.


...♥️♥️♥️...


David menemui istrinya yang ikut serta bersama keluarganya. Tadi dia juga menunggu di luar ruang persalinan. "Sayang, apa kamu lelah?" tanya David penuh perhatian.


"Sedikit," jawab Sofia.


"Mari kita duduk dulu supaya pinggang kamu tidak sakit," ajak David.


"Mas aku ingin lihat keponakan aku," rengek Sofia.


"Bukankah besok masih ada waktu? Bagaimana kalau kita pulang dan beristirahat. Aku juga lelah setelah melakukan operasi," usul David. Sofia mengangguk patuh.


"Kalau begitu kita berpamitan dulu pada orang tuaku." David menanggapinya dengan tersenyum.


"Ma, Pa. Kami akan pulang duluan. Sofia perlu istirahat," ungkap David.


"Baiklah, jangan sampai kamu kelelahan sayang," ucap mama Raina. David dan Sofia menyalami tangan Raina dan Julian secara bergantian.


Setelah itu, sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju ke parkiran mobil. David dengan penuh perhatian memasang sabuk pengaman untuk istrinya. "Terima kasih banyak, Papa." Sofia menirukan suara anak-anak.


David tersenyum lalu menyentuh perut istrinya. "Papa sudah tidak sabar untuk melihatmu lahir ke dunia," ucap David.


"Mama juga," timpal Sofia.


Keduanya melaju memecah jalanan yang begitu sepi karena hari sudah pagi. David mengendarai mobilnya dengan lancar tanpa hambatan. Mereka pun tiba di rumah dengan selamat.


"Sayang sebaiknya besok aku izinkan saja dirimu. Kamu pasti kecapekan nanti jika kurang tidur seperti ini. Tinggal beberapa jam lagi matahari terbit."


"Iya, Mas. Aku setuju. Mungkin besok pagi selepas sholat subuh aku akan tidur kembali. Pinggangku agak sakit," keluhnya.


"Tunggu di sini sebentar ya." David keluar kamar menuju ke dapur. Dia membawa segelas susu hangat untuk istrinya.


"Minumlah supaya kamu dan janin yang ada di perutmu selalu sehat." David menyodorkan susu rasa cokelat buatannya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Mas." Sofia meminum susu itu tanpa ragu. Meski dia tidak begitu menyukai susu tapi dia meminumnya demi menjaga kehamilannya agar selalu sehat.


"Sekarang tidurlah, sayang," perintah David pada istrinya. Sofia menaikkan kakinya ke atas. David menaikkan selimut hingga ke leher istrinya. Setelah itu ikut berbaring di samping Sofia.


"Mas kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?" tanya Sofia pada istrinya.


"Kita cari tahu setelah usia kandungan kamu delapan belas Minggu sayang." David mencolek hidung mancung Sofia.


"Menurut kamu dia akan mirip denganku atau denganmu?" David meminta pendapat istrinya.


"Tidak tahu, yang jelas kalau ganteng sama seperti papanya."


"Kalau cantik berarti seperti mamanya," sahut David. Sofia memeluk suaminya erat.


"Tidur, sayang. Kita kok malah jadinya ngobrol gini sih?" Sofia terkekeh.


"Maaf, Mas. Ya sudah met istirahat, Mas." Sofia mencium bibir suaminya singkat. David tersentak kaget.


"Jangan memancingku sayang. Apa malam ini kamu tidak ingin tidur?" godanya. Sofia menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya. Lalu terkekeh di bawah selimut. Sedangkan David memeluk istrinya yang ada di dalam selimut.


Dua jam kemudian terdengar kumandang adzan subuh. David bangun terlebih dulu kemudian mengambil air wudhu. Setelah itu barulah dia membangunkan istrinya. "Sayang, ayo bangun sholat subuh dulu baru tidur lagi." David mengguncang tubuh istrinya dengan pelan.


"Iya, Mas. Tunggu aku."


David menunggu istrinya selesai mengambil air wudhu kemudian mereka menunaikan sholat berjamaah.


"Sayang, sebaiknya kamu kembali tidur," saran David.


"Tidak, Mas. Bagaimana aku bisa tidur sedangkan suamiku akan sarapan. Biarkan aku menyiapkan sarapan untukmu, Mas. Mau aku buatin teh atau kopi, Mas?" tanya Sofia.


David menatap bangga pada istrinya. Dia begitu telaten dan perhatian pada dirinya. "Beruntung sekali aku memiliki istri seperti kamu sayang," puji David.


"Terima kasih, Mas. Bukankah sudah seharusnya aku melayani suamiku?" Jawab Sofia.


"Buatkan aku secangkir teh hangat," perintah David pada Sofia.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Sofia singkat.


Setelah memberikan teh pesanan suaminya. Sofia membuatkan roti bakar untuk suaminya. "Mas pagi ini sarapan roti tidak apa kan?" tanya Sofia.


"Iya, apa saja asal buatan istriku," jawabnya.


"Oh iya, jangan lupa izinkan aku hari ini. Badanku terasa tidak enak karena kurang tidur," ungkap Sofia.


"Siap sayang!"


"Apa Mas David mau aku buatkan bekal?" tanya Sofia.


"Tidak usah sayang. Aku bisa beli makanan delivery saja. Jangan menyusahkan dirimu. Aku mau kamu tetap sehat." Sofia mengangguk patuh.


Usai sarapan, David bersiap-siap untuk berangkat kerja. "Tidurlah kembali," perintah David pada istrinya. Sofia hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


David berangkat ke rumah sakit seorang diri. Di sana dia bertemu dengan keluarga istrinya. Mereka belum pulang hingga pagi ini. "Sofia mana?" tanya Julian.


"Dia izin pa hari ini," jawab David.


"Kenapa lagi? Sakit?" tuduh Julian.


"Dia hanya kurang tidur karena kemaren pulang sampai pagi, Pa. Maaf, Pa jam praktekku segera mulai saya tinggal dulu," pamit David pada ayah mertuanya.


Di tempat lain, Leo malas sekali menemui Fania. Sejak dia menolak wanita itu semakin gencar mengejarnya. Dia melewati Fania begitu saja. "Honey, sampai kapan kamu menghindari aku?" tanya Fania.


Leo menoleh dan menatap tajam ke arah Fania. "Sampai kapan kamu terus menghantui diriku?" balas Leo.


"Hei jaga mulutmu, honey. Aku masih hidup. Bahkan ada dua nyawa yang berdiri di hadapan kamu saat ini." Fania mengelus perutnya yang masih rata.


Leo tersenyum miring. "Apa kamu tidak lelah?" tanya Leo. Fania berasa jadi wanita beruntung sedunia. Tiba-tiba saja Leo memberi perhatian padanya.


"Aku saja capek melihat kamu berdiri," sambung Leo.


Senyum di wajah Fania tiba-tiba menyurut. Dia seperti diangkat kemudian dihempaskan. Moodnya seketika terjun bebas. "Bisakah kamu bicara manis sebentar saja padaku?" tanya Fania.

__ADS_1


Hatinya terasa sakit ketika Leo benar-benar mengabaikan dia. "Jangan sampai kamu menyesal setelah kamu kehilangan aku, honey." Fania pulang dengan perasaan kecewa yang teramat pada laki-laki itu. Harapannya terlalu tinggi untuk menggapai Leo.


Leo hanya melihat kepergian wanita itu tanpa mencegahnya sedikit pun. "Lebih baik jika kamu pergi untuk waktu yang lama, Fania," gumam Leo.


__ADS_2