Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Kisah hidup April


__ADS_3

Nesya mendorong April dan Diva. Tapi saat akan mencengkeram kerah kemeja yang dipakai April, tangan Nesya ditangkap oleh gadis itu. Dia memutar tangan Nesya hingga ke belakang punggung.


"Kamu pikir kamu hebat karena bisa menyiksa orang lain, hm?" sentak April. Teman-teman Nesya hendak melawan tapi saat mereka maju April menendangnya.


"Aku tidak suka melakukan kekerasan tapi kalian memaksaku."


"Lepaskan aku!"


April tak menghiraukannya. "Minta maaflah dulu. Bukanlah kamu punya mulut?" ledek April.


"Tolong-tolong," teriak Nesya.


Di saat yang bersamaan geng Aksa sedang lewat di depan toilet. "Arahnya dari toilet," seru Imam. Mereka pun masuk ketika mereka mendengar suara minta tolong.


"Lepaskan dia!" bentak Aksa ketika melihat tangan Nesya dicekal oleh April.


April pun mendorong Nesya. Nesya memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Aksa. "Dafi, dia telah menyakiti aku," adunya pada Aksa.


"Kalian jangan percaya. Mereka yang sebenarnya akan menganiaya kami," seru Diva yang mencoba meyakinkan Aksa dan kawan-kawannya.


"Mana ada maling yang mau ngaku," cibir Nesya.


"Ikut aku ke ruangan guru!" Aksa menarik tangan April dengan kasar dan menyeretnya ke ruang guru.


"Aku bukan kambing. Aku bisa jalan sendiri," tolak April.


Diva mengikuti sahabatnya. "Pril kamu kan nggak salah. Kenapa kamu mau ikut ke ruang guru?" bisik Diva.


"Kamu jelasin sampai mulut kamu berbusa pun tidak akan ada yang percaya. Jadi lebih baik aku terima hukuman. Kamu nggak usah ngomong apa-apa nanti." April memberikan peringatan.


Sesampainya di ruang guru, Aksa menjelaskan alasan April dibawa ke kantornya. "Kenapa kamu selalu buat masalah April?" tegur kepala sekolah yang sudah sering melihat April terlambat masuk ke sekolah. April hanya menunduk.


"Ya sudah kamu saya skors selama dua hari," ucap kepala sekolah di sana.


"Yess," seru April girang. Bukannya sedih dia malah senang karena waktunya bisa dia gunakan untuk mencari kerja tambahan.


April pun mencari lowongan pekerjaan setelah pulang sekolah agar besok pagi dia tidak menganggur. Lalu dia melihat ada lowongan kerja paruh waktu yang ada di sebuah toko roti.

__ADS_1


"Selamat siang, Mbak. Saya mau melamar pekerjaan," kata April pada salah seorang pegawai di sana.


"Oh langsung saja temui pemiliknya langsung," kata pegawai tersebut. Dia pun mengantarkan April ke ruangan pemilik toko roti tersebut.


"Selamat siang, Bu," ucap April dengan sopan.


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" tanya Sofia pada April.


"Saya ingin melamar pekerjaan," kata April memberi tahu maksud kedatangannya.


Sofia mengamati anak gadis di depannya itu. Dia masih memakai sepatu dan berseragam hanya saja ditutup sweater di bagian atasnya.


"Bukankah kamu masih sekolah?" tanya Sofia pada anak gadis yang belum memperkenalkan diri tersebut.


"Tolong, Bu. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini," bujuk April pada Sofia.


"Baiklah, kalau begitu datanglah setelah pulang sekolah besok." Semudah itu? Ya Sofia memang orang yang tidak tegaan pada orang lain. Dia menduga April berasal dari keluarga miskin sehingga dia mencari pekerjaan paruh waktu.


Apri memegang tangan Sofia lalu menciumnya. "Terima kasih banyak, Bu. Saya janji akan giat bekerja mulai besok." Sofia tersenyum padanya.


April pun pulang ke rumah menggunakan angkot. Ketika di dalam angkot dia mendapati seseorang hendak mengambil dompet seorang ibu-ibu. April dengan sigap menangkap tangan pencopet tersebut. "Lepasin!"


"Neng terima kasih banyak ya," kata ibu-ibu itu. April mengangguk. "Sama-sama, Bu. Lain kali lebih hati-hati ya."


April turun di sebuah rumah yang ukurannya tidak besar. Rumah kecil nan sederhana itu selalu dirawat dan dibersihkan dengan baik.


Prank


Terdengar suara benda pecah dari dalam rumah. April segera berlari memasuki rumahnya. "Ibu," panggil April pada wanita yang sedang terduduk di lantai saat ini.


April membantunya bangun. "Ibu baik-baik saja?" tanya April lembut. Sesaat kemudian April menoleh ke arah bapaknya.


"Bapak mau apa? Kenapa selalu menyakiti ibu?" tanya April dengan nada tinggi.


"Minta uang! Cepat aku ingin beli minuman," jawabnya.


April merogoh uang yang ada di dalam sakunya. Dia memberikan uang sebanyak lima puluh ribu tapi ayahnya merebut semua uang April. "Bapak itu uang untuk bayar sekolahku," kata April.

__ADS_1


"Ah, masa bodo. Besok kerja yang keras supaya kamu dapat uang lagi," ucapnya dengan enteng. April menggertakkan giginya.


"Bagaimana ibu bisa menikah dengan benalu seperti dia?" ucap April dengan kesal.


"Jangan seperti itu walau bagaimana pun dia ayah kandungmu," jawab ibu April.


"Ayo aku obati luka ibu." April mengajak ibunya duduk di kursi. "Sebentar ya Bu. Aku akan ambilkan obat dulu."


April mengambil kotak obat yang ada di kamarnya. Setelah itu dia mengobati luka di telapak tangan ibunya. "Tahan sebentar ya Bu," ucapnya ketika menempelkan plester pada telapak tangan wanita paruh baya itu.


"Ibu belum masak. Beras kita habis, nak," ungkap sang ibu.


"Biar April saja yang beli beras, Bu." April pun menaruh tas lalu dia menuju ke warung.


"Bu, beli berasnya," kata April pada pemilik warung.


"Sekalian bayar sama hutang yang kemarin kan?" tanya pemilik warung.


"Yah, saya belum ada uang Bu. Besok deh saya kasih uangnya. Saya diterima kerja di toko roti Bu," bujuk April.


"Alah, janji mulu. Ya sudah seliter saja." Walau menggerutu ibu pemilik warung itu tetap memberikan beras yang diminta April.


"Ini uangnya Bu. Saya janji besok akan bayar sisa hutang saya," ucapnya setelah itu pergi.


April berpikir keras bagaimana mengolah beras tanpa adanya lauk. Lalu dia pun membeli santan sasetan seharga dua ribu. Setelah membeli santan bubuk itu, dia pulang. Kebetulan adik laki-lakinya baru sampai rumah.


April pun segera memasak nasi menjadi bubur supaya mereka bisa makan walau tanpa lauk. "Kak aku lapar," teriak Azriel.


"Ya dek sebentar lagi matang." Sesaat kemudian April memindah bubur yang masih panas ke dalam piring yang dibagi menjadi tiga. Untuk ibu, adik dan dirinya.


"Maaf menunggu lama." April menyuguhkan piring berisi bubur hangat ke meja makan.


"Sore-sore kok makan bubur sih kak?" protes Azriel.


"Maaf, hari ini uang kakak tidak cukup untuk membeli lauk. Jadi kamu tahan dulu ya," ucap April. Adiknya mengangguk pasrah.


"Bu mulai besok, April akan kerja di toko roti. Semoga keuangan kita bisa membaik."

__ADS_1


"Apa tidak akan menganggu sekolahmu?" tanya sang ibu cemas dengan pendidikan anak sulungnya.


"Tidak, Bu. April akan membagi waktu sebaik mungkin."


__ADS_2