Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Beruntung


__ADS_3

"Fabian." Lidia menyebut nama laki-laki yang menabraknya.


Fabian mengulurkan tangannya. Lidia malah menepuk tangan Fabian. "Nggak perlu. Gue bisa bangun sendiri."


Tak lama kemudian Pak Eko yang mendengar suara keributan dari luar pun berjalan menuju ke sumber suara. "Ada apa ini?" tanya Pak Eko dengan suara lantang.


Lidia menoleh dengan ragu. "Pak," sapa Lidia dengan canggung.


"Lidia kenapa kamu nggak masuk ke kelas?" tanya Pak Eko.


"Masih boleh masuk, Pak?" tanya Lidia tak percaya, biasanya setiap mahasiswa yang telat akan dihukum oleh dosen itu. Tapi kenapa hari ini dia tidak dihukum? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Lidia. Tapi masa bodoh dia akan memikirkan nanti yang penting hari ini boleh kuliah.


Setelah Lidia masuk, Fabian berterima kasih pada Pak Eko. "Makasih, Pak. Saya pamit."


"Fab, salam buat ayah kamu ya," kata Pak Eko. Rupanya dia adalah teman sekolah Erik sewaktu duduk di bangku SMA.


Fabian kembali ke kampus ketika barangnya ada yang ketinggalan. Setelah itu dia tak sengaja mendengar mahasiswi yang merupakan teman Lidia bicara.


"Elo udah bikin tugasnya Pak Eko belum?" tanya salah seorang mahasiswi.


"Gila jam tiga ini, kan? Gue hampir saja selesai. Jangan sampai telat tuh dosen killer. Bisa dihukum kita nanti," kata mahasiswa lainnya.


Setelah itu Fabian melihat jam tangannya. Kurang lima belas menit lagi. "Kenapa Lidia tidak juga datang?" gumam Fabian.


Lalu Fabian pun berpikir untuk mengulur waktu agar Pak Eko itu telat masuk ke kelas. Kebetulan Fabian tahu dosen yang bernama Pak Eko itu. "Eh maaf, Pak."


Fabian sengaja menabrak bahu Pak Eko sehingga buku-buku yang dia bawa terjatuh. Fabian pura-pura membantu. "Maafkan saya, Pak."


"Eh, kamu anaknya Dokter Erik bukan?" tanya Pak Eko.


Entah nasib beruntung atau apa Fabian benar-benar bersyukur. "Iya, Pak. Kok bapak tahu?"


"Saya lihat kamu datang bersama Dokter Erik ketika pendaftaran sekolah beberapa waktu lalu. Saya teman sekolah ayah kamu," ungkapnya.


"Wah kebetulan sekali," kata Fabian sambil terkekeh.


"Bagaimana kabar ayahmu? Apa dia masih ingat saya?" tanya Pak Eko.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik Pak. Nanti saya sampaikan salam bapak buat ayah saya. Oh ya, Pak. Boleh saya minta tolong?"


"Apa katakan! Jangan sungkan." Pak Eko menepuk bahu Fabian.


"Saya mau minta izin buat mahasiswi bernama Lidia. Dia akan datang telat masuk ke kelas karena dia sedang mengambil mobilnya di bengkel. Kemaren saya tidak sengaja menabrak mobil dia."


"Lidia? Baiklah, tidak masalah. Memang bisa ya perbaikan mobil jari dalam waktu sehari?" tanya Pak Eko.


"Bisa, Pak. Kalau bapak mau nanti saya kasih alamat bengkelnya, punya teman saya sendiri, Pak."


"Wah, boleh. Ya sudah saya masuk ke kelas dulu." Fabian mengangguk hormat.


Begitulah cara Fabian menolong Lidia tanpa gadis itu ketahui. Usai melihat Lidia masuk, Fabian pulang ke rumahnya.


"Kak, kok sore banget hari ini?" tanya April ketika dia baru sampai.


"Bikinin minum dulu, Dek. Kakak haus."


"Oke, mau dibikin apa kakakku sayang?" Hati Fabian berdesir ketika April memanggilnya sayang.


"Nggak boleh, Fab. April itu adek lo." Fabian meyakinkan hatinya.


"Yagh, mau hujan ya?" April terlihat sendu.


"Kenapa?"


"Tadinya mau minta ajarin kakak buat nyetir mobil," akunya. Fabian tersenyum.


"Besok aja kalau nggak hujan ya." Fabian mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Ya sudah tunggu di sini sebentar ya. Aku buatin teh hangat."


"Papa juga ya, Pril," seru Erik yang baru saja datang.


April meraih tas kerja ayahnya lalu mencium tangan laki-laki yang berstatus duda itu. "Teh aja, Pa? Atau mau aku buatin kopi?" tanya April.


"Teh hangat aja sama kaya Fabian," jawab Erik.

__ADS_1


"Tumben sampai sore, Fab?" tanya sang ayah.


"Owh, tadi balik kampus lagi soalnya ada yang ketinggalan, Pa. Oh ya, dapat salam dari Pak Eko, dosen di universitasku," kata Fabian.


"Eko Santoso? Dia itu teman SMA papa," jawab Erik sambil terkekeh.


Sesaat kemudian April membawa sebuah nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. "Minumnya udah jadi. Silakan kakakku, papa."


"Makasih, Dek."


"Oh ya, bagaimana kabar Lidia? Dia sudah lama nggak main ke sini?" tanya Erik.


Fabian mengerucutkan kening. "Jangan bilang papa naksir daun muda," ledek Fabian.


"No, bukan untuk dijadikan istri papa, tapi jadi mantu papa." Fabian yang sedang menyeruput teh tiba-tiba menyemburkan air yang belum dia telan.


"Kak, pelan-pelan." April menepuk punggung Fabian.


"Papa, punya anak lagi? Katakan, Pa! Siapa yang mau papa jodohin sama Lidia?" tanya Fabian. Erik memukul kepala pemuda itu.


"Sembarangan kalau ngomong. Papa mau jodohin sama kamulah sama siapa lagi?"


April menahan tawa. "Kakak ini suudzon aja sama papa. April setuju, Pa." April mendukung keputusan ayahnya.


"Dek, nggak usah ikut-ikutan deh. Jangan konyol, Pa. Lidia dua tahun di atasku usianya, apa dia nggak malu dapat berondong kaya aku?" Fabian tampak keberatan.


"Kalau dia tidak malu? Apa kamu mau dijodohkan dengan Lidia?" Kini Fabian bingung harus menjawab apa pada ayahnya.


Fabian beranjak dari tempat duduknya. "Fabian baru masuk kuliah, nggak mau mikir urusan nikah dulu."


"Hei, Fab. Siapa yang mau nikahin kamu sekarang. Paling nggak kamu udah punya pacar," teriak Erik setelah Fabian berlalu meninggalkan mereka.


"Kalau kakak udah ada calonnya, aku bagaimana Pa?" tanya Erik.


"Kamu belum lulus, Dek. Sekolah dulu yang bener. Nanti kalau udah lulus kuliah dan dapat kerjaan baru boleh nikah."


"Yagh, papa."

__ADS_1


♥️♥️♥️


__ADS_2